macaroonlove

Silakan tertawa, saya tidak tahu apa itu macaroon. Malah sempat mengira “makaroni”. Syukurlah ada Ayu yang bisa ditanyai dan menjelaskan, karena saya hampir tidak pernah nonton acara chef-chef-an di TV.

Tentu saja, nama-nama chef yang terkenal dan disebut dalam novel unggulan Lomba Menulis Novel Romance Qanita ini menjadi asing pula. Saya googling bolak-balik untuk mencari tahu wajah mereka yang disebut ganteng, karena lebih sering lupa:p. Sesekali pernah nonton film mengenai profesi ini, semisal No Reservations namun lebih terpukau pada kecantikan dan karakter Catherine Zeta-Jones yang tidak biasanya.
Omong-omong soal kegantengan, saya jadi ingat semasa membaca majalah Anita dulu, analoginya “mirip Chris Cuevas” atau “mirip Tommy Page”. Jadi yang dianggap keren itu artis/penyanyi, belum ada seleb dari bidang lain.

Apakah Macaroon Love bercerita tentang chef ganteng semata?

Tidak. Sesuai sinopsis cover belakangnya, tokoh utama novel ini bernama Magali. Juga menjadi judul asli pilihan penulisnya, yang menurut saya berbau Prancis banget. Silakan googling untuk mencari tahu.

Novel ini merupakan naskah lokal pertama (sekaligus terakhir) yang saya garap di tahun 2012. Memang sudah cukup lama saya tidak menyentuh naskah karya anak negeri, yang terakhir kali pun nonfiksi atau memoar. Jadi saya harus belajar lagi ihwal tren buku lokal sekarang, ditambah gaya penulisannya. Berkat bimbingan Mbak Esti, saya makin menyadari bahwa penulis belakangan ini kebanyakan terpengaruh bacaan impor atau buku terjemahan. Sepertinya itu berterima bagi sebagian besar pembaca, yang juga saya amati. Berhubung itu menyangkut gaya, saya berusaha menghargainya.

Untuk mendukung riset kecil-kecilan tersebut, saya tunjukkan sebagian naskah pada keponakan. Beda generasinya tidak jauh, hanya saja dia tipe orang kantoran yang jarang punya waktu membaca. Katakanlah, ini uji kepembacaan. Dia bisa memahami cerita dan mencernanya, jadi saya anggap beres. Semoga pembaca lain pun beranggapan demikian.

Belakangan, saya baru tahu judulnya berubah. Agak menyesal dan merasa bersalah karena tidak memberikan alternatif sebagai masukan, atau tepatnya mentok:))

Mudah-mudahan lain kali saya tidak lupa hal itu.

BTW, saya suka nuansa abu-abu di cover ini. Kalem. Mengenai cerita penulisnya, silakan baca blog Mbak Winda.

Catatan tambahan: saya dipersilakan memilih dari beberapa judul sewaktu datang ke kantor redaksi Qanita. Satu salinan naskah print out saya bawa pulang, sehingga bisa baca-baca dulu sambil bersantai di rumah.

 

 


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)