meluha_final

Begitulah singkatnya Mas Agus menyebut judul novel fantasi ini. Karya suntingan perdananya di genre fantasi, dan sangat menyenangkan karena kami sama-sama lebih menyukai fantasi dewasa (umum) ketimbang remaja.

Ketika bukti terbitnya sampai lebih dulu ke rumah kami (maklum tetangga wilayah), Nui bertanya, “Kayak gimana sih awalnya? Aku lupa.”

Saya membacakan lewat YM, “Dia datang! Bagus lho bentuk huruf judul babnya…  Danau Man… ayo, inget nggak?”

Nui: “Maninjau!”

Saya: “Waduh, sejak kapan Maninjau pindah ke Tibet?”

Tentu saja Nui hanya berkelakar. Sangat wajar penerjemah yang sudah dua kali berkolaborasi dengan Mas Agus ini (setelah Secret Fantasy yang terbit lebih dulu) lupa. Nui menerjemahkannya bulan Juli-Oktober tahun 2011, Mas Agus mengedit sekitar bulan Agustus 2012. Buku pertama trilogi Shiva ini mengalami perjalanan panjang. Kabarnya dibaca dulu secara saksama oleh Bhai Benny, Chief Editor Mizan yang terkenal fasih dalam per-Bollywood-an. Dari beliau pula, kami mengetahui bahwa novel ini akan difilmkan dengan bintang Hrithik Roshan.

Saya belum membaca tuntas. Sampai tulisan ini diposting pun, baru satu bab. Tidak selesai-selesai karena diskusi melulu:p Namun saya sangat mengagumi akting Hrithik Roshan dalam Guzaarish. Saking sukanya, belum ada kisah sejenis dalam buku maupun film yang menandingi dampak emosional film tersebut bagi saya.

Mas Agus dipilih menyunting Meluha karena lumayan menguasai wayang. Mbak Esti memberikan arahan bahwa suasana India dalam novel ini harus terasa kental. Itulah sebabnya berbagai istilah “dipulihkan”. Namun jangan khawatir, ada glosarium di belakang:)

Saya membantu menuliskan catatan masukan untuk penerjemah. Otomatis membaca cepat beberapa bab dan track changes-nya, sambil mempelajari perbedaan gaya penyuntingan kami. Di antaranya,

Wajahnya yang seperti anak-anak = wajahnya yang kekanakan

Takdir luhur = takdir agung

Karakternya = kepribadiannya => untuk menjaga nuansa historis

Tentang rasa bahasa, harus saya akui Mas Agus lebih kuat. Mungkin karena dia menempuh spesialisasi Sastra, sedangkan saya menekuni linguistik. Benar-benar hanya alasan:D

Dengan terbitnya The Immortals of Meluha, skor kami jadi satu sama. Sama-sama pernah menyunting fiksi fantasi berseri yang berbau Tibet dan India:D

 


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

PREVIOUS ARTICLE

NEXT ARTICLE

Leave a Reply

  • (not be published)