catatan

Silakan baca pengalaman Lulu menyunting novel berseri yang diterjemahkan dan disunting beberapa orang di sana.

Idealnya memang penerjemahan satu seri digarap satu orang. Apabila tidak memungkinkan karena satu dan lain hal, yang terpikir oleh saya adalah mencari penerjemah yang gaya bahasanya mendekati sehingga penyuntingannya bisa lebih cepat mengingat buku berseri umumnya ditunggu-tunggu peminat. Tetapi ini tidak mudah, rasa bahasa merupakan semacam “sidik jari” yang tidak bisa dikembari. Seorang editor kolega saya pernah bercerita saat menangani suatu seri, penerjemahnya “hanya” dua. Keduanya bagus namun bergaya lain. Yang satu lebih lugas, satu lagi cenderung “cantik” dengan diksi agak berbunga. Terkadang akhirnya penyunting yang diserahi menerjemahkan, seperti salah satu buku seri Millennium.

Rintangan paling umum untuk menyeragamkan penerjemah buku seri adalah jadwal penerjemah itu sendiri. Siasatnya, penerbit bisa saja “memborong” hak cipta lebih dulu dan menyerahkan semua buku langsung pada penerjemah supaya jadwalnya diatur atau di-book. Ini bukan berarti mulus seratus persen. Bisa saja buku pertama keluar, penjualannya jauh dari ekspektasi, kemudian penerbit memutuskan tidak melanjutkan seri itu dan merelakan uang muka pembelian hak cipta yang sudah dibayarkan ke proprietor.

Faktanya, dalam proses cukup jarang buku berseri yang terbit berdekatan (berturut-turut). Perlu diingat ada faktor momentum dan buku-buku lain yang digarap penerbit. Istilah salah satu kolega saya, “Jangan sampai buku makan buku.” Karenanya sependek pengalaman saya, menyunting buku seri relatif lebih bisa “bernapas” karena ada jarak satu sama lain.

Menyunting buku yang penerjemahnya sama tetap membutuhkan strategi dan ketelitian. Segi mudahnya, kesalahannya sama. Pernah sih, ada penerjemah yang mendapat catatan kemudian langsung merevisi naskah terjemahan buku terakhir dalam seri yang ditanganinya. Kebetulan, penyuntingan dan penerjemahannya hampir bersamaan serta tidak dikejar-kejar jadwal ketat.

Kesalahan sama tadi biasanya kecil belaka, tapi tetap perlu dicek editor. Misalnya yang pernah saya alami (berdasarkan masukan penanggung jawab), sebelum kata “lalu” harus ada koma. Jika naskah terjemahan seluruh seri sampai tamat sudah diserahkan, editorlah yang harus mengubahnya. Oleh sebab itu, saya biasa mencatat kesalahan berulang tadi sehingga tinggal menggunakan Find Next (bukan Replace All) dan mengamati apabila kekeliruan tersebut makin lama makin sedikit. Artinya? Penerjemah tersebut pantas direkomendasikan:)

Ada penerjemah yang tetap mencantumkan puisi asli setelah mengalihbahasakannya. Bila puisi ini muncul di setiap buku, otomatis saya mesti memastikan puisi asli tadi dihapus. Jika munculnya bukan di halaman awal atau akhir (bab atau keseluruhan buku), tentunya saya harus mencatat di halaman berapa persisnya puisi itu berada. Catatannya dirinci, halaman berapa di PDF (kalau materinya softfile), di buku asli, dan halaman berapa di arsip suntingan yang lalu. Biasanya saya mencatat ini semua secara manual.

Di sini juga terasa dinamisnya bekerja dengan file dipecah dan digabungkan. Bila yang dikoreksi adalah judul bab, misalnya harus huruf kapital semua, saya merasa lebih mudah mengecek di dokumen terpisah per bab dan insya Allah tidak terlewat. Lebih-lebih ketika naskahnya tebal. Jika mengecek “lalu” seperti di atas, barulah lebih nyaman dengan naskah utuh hasil gabungan.

 


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)