Tahun itu, tahun 2010, sepertinya saya sedang ‘berjodoh’ dengan tema kesehatan. Alhamdulillah, subtopiknya cukup variatif. Ketika berkas-berkas materi naskah ini sampai ke tangan saya, sempat berkerut kening juga. Maklum, ada semacam ‘fobia’ yang saya derita jika membaca kisah-kisah bernuansa kedokteran dan medis. Saya tidak menolak mengonsumsinya, tapi kadang pening. Bukan karena peristilahan, melainkan visualisasi ruang praktik, obat-obatan dan meja operasi seperti dalam novel Nothing Lasts Forever-nya Sidney Sheldon.

Namun menurut Mbak Esti, yang menyampaikan pesan Dr. Rully Roesli selaku penulis, buku ini dirancang jauh dari suasana medis yang kelewat rumit dan teoretis. Tak ayal, saya membaca juga beberapa kliping media cetak (artikel yang ditulis sendiri oleh beliau) mengenai cuci darah, gangguan ginjal dan sebagainya. Kemudian tersenyum-senyum menyimak sejumlah lembaran personal yang disisipkan dalam materi, antara lain foto keluarga besar (termasuk almarhum Marah Roesli yang legendaris itu) dan tulisan-tulisan ibunda Dr. Rully. Di situlah salah satu aspek menyenangkan menyunting naskah ini. Saya dan Mas Agus bergantian membaca tulisan tangan beliau (di era teknologi ini, alangkah langkanya!) sambil mengenang coretan tangan mendiang ibu angkat kami yang relatif mirip. Berbekal kenangan itu, kami membaca dan mengartikannya. Sebagian besar berbahasa Inggris.

Di tengah penggarapan, saya harus berangkat ke Jawa Tengah untuk acara keluarga. Saya tengah berada di Solo ketika Dr. Rully mengontak dan menanyakan perkembangan. Alhamdulillah, tak ada kesulitan berarti mengerjakan penyuntingannya. Hampir tak ada yang saya ubah, karena memang tidak perlu. Darah seni dan talenta menulis sang kakek mengalir deras pada Dr. Rully, saya menikmati setiap ceritanya. Berkaca-kaca juga, terutama ketika mengisahkan hubungan dengan adik beliau, almarhum Harry Roesli yang unik dan melekat di hati banyak orang.

Adikku membantah, “Kenapa harus dirawat? Aku tidak merasa sakitku gawat sampai harus dirawat.” Memang kondisi adikku ini luar biasa. Orang lain dengan serangan infark jantung begitu luas dan penurunan tekanan darah yang sangat drastis biasanya tampak sakit berat. Tapi adikku tidak,kecuali napasnya yang agak cepat dan sesak. Ternyata teori-teori yang tercantum dalam text-book (buku-ajar) ilmu kedokteran tidak selalu benar. Contoh adikku. Kondisi fisiknya tidak sesuai dengan beratnya penyakit. Apakah ini karena semangat dalam jiwanya jauh lebih besar dari kondisi tubuhnya? Wallahualam.

Salah satu yang bikin saya merinding adalah tatkala Dr. Rully membawa adiknya dengan ambulans ke Jakarta. Ini persis dialog saya dengan Mbak Esti suatu hari, dalam perjalanan malam yang macet dan melihat ambulans di jalur kami.

Tapi perjalanan dari Halim ternyata memakan waktu lebih lama dibanding dari Bandung ke Jakarta. Tampak hilangnya sopan-santun lalu-lintas. Walaupun menggunakan mobil ambulans lengkap dengan bunyi sirene meraung-raung dan lampu berkelap-kelip, kami tetap terjebak kemacetan lalu-lintas. Jarang orang yang mau mengalah dan memberi kami jalan. Perjalanan memakan waktu hampir 60 menit.

Sejak itu, tiap kali dilanda macet, saya kerap tengok kiri-kanan kalau-kalau ada ambulans yang terjebak. Kalaupun tidak, saya berdoa agar tidak ada orang sakit dalam kendaraan mana pun yang tengah mengejar waktu dan terhambat.

Saya sempat memberi masukan agar Dr. Rully menulis keseharian dokter sebagai tambahan untuk mempermenarik buku ini. Misalnya, saya selaku awam sering bertanya apa yang dilakukan dokter ketika sakit, bagaimana membagi waktu dengan keluarga, dan risiko-risiko lain dalam profesi yang relatif rentan stres ini. Beliau enggan karena khawatir pembaca bosan. Sebenarnya ketika saya tilik lagi, cerita itu sudah ada dalam pengalaman dokter lain yang ditulis Dr. Rully di salah satu bab.

Kemudian dr. Ahmad memboyong istri dan anaknya ke Bandung. Dia ingin memperbaiki hidup dan karier dengan menjadi seorang spesialis penyakit dalam. Rupanya jalan hidup berkata lain. Dr. Ahmad belum bisa menyesuaikan pola hidup yang keras dan disiplin selama mengikuti pendidikan. Mungkin di puskesmas atau rumah sakit kabupaten, di daerah terpencil, pola hidupnya jauh lebih santai. Demikian pula istrinya. Dia tidak bisa menerima apabila suaminya harus jaga malam dan tidur di rumah sakit, beberapa kali dalam seminggu. Perhatian untuk keluarga jadi sangat berkurang. Belum lagi kondisi ekonomi yang pasti jauh menurun. Seorang residen tidak diizinkan untuk menjalankan praktik pribadi pada 1 tahun pertama. Maksudnya agar dia konsentrasi belajar.

Sosok sang penulis sendiri amat inspiratif bagi saya. Untuk ukuran orang besar, beliau sungguh rendah hati. Di akun jejaring sosialnya, hampir tak ada foto. Data beliau di dunia maya relatif tidak banyak, selain yang terkait kiprah profesional di bidang kedokteran.

Playing God bukan hanya kisah yang bagus, tetapi juga pengalaman yang mengayakan dan tak terlupakan. Terima kasih, Mbak Esti dan Penerbit Qanita:)

 

 


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)