Trailer buku

 

“Hanya karena tidak bersikap seperti itu bukan berarti aku tidak takut.”

Meski sadar ini seri drama keluarga yang bikin sulit move on, masih saja saya “berebut” menyunting satu lagi buku karya Susan Wiggs dengan Lulu. Ini memang seri kesayangan tim kolaborasi penggarapnya. Senang juga mendengar dari editor penanggung jawab bahwa buku-bukunya di penerbit tidak dipegang satu orang saja, supaya lebih segar. Dengan begitu seperti kami para editor dan penerjemah lepasnya, tim penerbit pun kebagian inspirasi dan kehangatan hati yang ditimbulkan Susan Wiggs dari cerita-ceritanya. Saya masih ingat suatu waktu di milis ada pembaca yang menanyakan jadwal terbit kelanjutan seri (setelah buku keberapa, saya lupa:p) kemudian moderator menjawab disertai, “Dadah-dadah penerjemah dan editornya yang juga ada di milis ini.”

returnbig

Memang menguntungkan sekali menggarap seri yang mirip buku lepas bila tidak dikerjakan sendiri. Sebagaimana pekerjaan menerjemahkan dan menyunting pada umumnya, setiap buku dalam seri ini membuahkan kesan dan pengalaman baru. Dari segi karakter, Sonnet Romano sudah merebut hati saya karena keunikannya. Gadis campuran Afrika-Amerika, bayangan saya secantik Halle Berry semasa muda. Tidak bisa beranjak dari generasi itu, apalagi pengarang menyelipkan detail-detail “baheula” berupa film dan lagu. Ada alasan sehingga Sonnet cenderung perfeksionis, berbanding lurus dengan pencemas.

Bukan hanya Sonnet memang. Saya juga terpukau pada Jezebel, penyanyi urakan yang ternyata hafal soneta Shakespeare dan tetap percaya diri kendati pernah mendekam di penjara.

Lokasi Danau Willow selaku poros tempat banyak orang pulang, merenungkan keputusan, mengubah hidup, menentukan langkah, menjadi kekuatan Susan Wiggs beserta plotnya yang cepat dan kaya. Lagi-lagi saya belajar dari dilema rumit yang bisa melanda setiap manusia: hamil di usia tidak muda lagi berbarengan dengan vonis kanker, tawaran menggiurkan yang bisa memuaskan dari segi reputasi dan menyenangkan orangtua, dan bahwa segala rencana yang ditata sedemikian cermat bisa buyar seketika karena satu langkah konyol. Yang terakhir itu membuat saya deg-degan sepanjang mengedit.

Kalau kau melewati firdaus dalam perjalanan ke sekolah setiap hari, itu tidak tampak istimewa.

Namun bukti seseorang menjadi dewasa memang begitu. Masalahnya makin kompleks, ujiannya makin memerlukan kesabaran, termasuk saat harus bekerja dengan orang yang sebenarnya ingin dihindari. Toh dengan piawai, Susan Wiggs merangkai semuanya dengan manis sembari menonjolkan keluarga. Di sela keharuan, saya sempat terkekeh membaca ini:

“Aku butuh Muse. Aku butuh Lady Gaga. David Bowie, the Clash, sesuatu yang bisa betah kudengarkan. Yang membuatku ingin berjuang.”

Lalu dialog Sonnet dan ibunya yang mengalir lincah, semacam ilham penguat ketika merawat anggota keluarga yang sakit cukup berat.

“Kapan kau pernah baca empat buku dalam satu hari?” tanya Sonnet, mengganti subjek tentang Zach—untuk sementara ini.

“Kubawa buku cadangan seandainya aku tidak suka yang lain.”

Sonnet mendeteksi sekilas kepanikan di mata ibunya. “Mari kita praktikkan pernapasan.”

“Aku bisa bernapas.”

“Mom.”

Nina menarik napas kesal. “Kau seperti anjing membawa tulang,” katanya.

“Guk, guk.”

 

Saya juga pernah mengalami ini berkali-kali.

“Aku ikut sedih tentang diagnosismu,” kata Orlando kepada Nina.

Dalam hati Sonnet meringis. Duh, caramu langsung menembak begitu, Orlando, pikirnya.

… “Dengan risiko dianggap bersikap lancang, aku ingin memberimu informasi tentang Klinik Onkologi Krokower di Manhattan. Bibiku direktur medis di sana, dan mereka mengkhususkan diri merawat kasus-kasus yang sulit diobati. Kalau kau mau, aku bisa mengatur pertemuan untukmu.”

 

Di samping itu, saya belajar mengenai pembuatan reality show, adegan tak terskenariokan yang menarik, videografi, dan serba-serbi kampanye politik.

“Give something up,” Nonna advised. “There is no law that says you must do everything at once.”


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)