THE-SHADOW-OF-POWER-1

Kejadian konyol yang mengawali penyuntingan novel lumayan tebal ini, kami merasa yakin punya salah satu buku Steve Martini. Sudah lama dan belum dibaca, begitu pikir kami. Sudah obrak-abrik lemari dua kali, saking penasarannya. Ternyata setelah cek covernya di Google, memang kami belum punya satu pun karya Martini tersebut. Yang ada penulis lain satu genre, David Baldacci:D

Yang pertama-tama dilakukan, tentu singgah ke situs web sang penulis. Desainnya rapi dan maskulin sekali, membuat kerasan. Sambil lihat-lihat, asyik juga membaca tanya-jawab untuk “mengenal” buku ini lebih jauh.

Novel bertokohutamakan pengacara Paul Madriani ini didominasi adegan persidangan. Memang dibutuhkan kesabaran karena di samping babnya gembur-gembur, pengarang sangat teliti menghadirkan kesaksian berbagai ahli. Misalnya, membicarakan bukti rambut dari sudut pandang jaksa dan pembela dapat menghabiskan satu bab tersendiri. Namun pemaparan yang gamblang dan kaya riset ini sangat memperluas pengetahuan. Alhamdulillah di rumah kami cukup banyak memiliki novel berbau pengadilan dan hukum, serta beberapa buku politik karena Shadow of Power memang bernuansa politik pula.

Ketegangan dan penyidikan yang melelahkan juga sempat menguras emosi. Bukan berarti ceritanya membosankan, tapi ibarat detektif yang menunaikan tugas, pengacara pun harus menggali berkepanjangan. Ada saat-saat menemui jalan buntu dan nyaris putus asa, sehingga menyuntingnya jadi terbawa. Untuk mempertajam penghayatan dan membayangkan adegan-adegan di ruang sidang itu, Mas Agus membaca-baca artikel seperti ini.

Penerjemahnya menyatakan novel ini tidak terlalu thriller, namun suasana cekaman psikologisnya amat kental. Makin teranglah mengapa banyak orang enggan menjadi saksi, karena acap kali pengadilan menyerupai teater. Dramatis, penuh pelintiran kata, desakan, permainan emosi. Seperti adegan favorit kami di film A Few Good Men.

Nilai tambah lainnya, Mas Agus dimintai pendapat mengenai konsep cover. Dia sendiri tidak menyangka buku ini relatif cepat terbit, syukurlah… sehingga dia masih ingat jalan ceritanya. Di samping itu, Steve Martini menjawab pertanyaan kami dalam tempo cukup singkat dan menjelaskan secara detail.

Karena larut dalam pemaparan pengarang, kami sampai lupa menerka-nerka pelaku pembunuhannya. Menurut Mas Agus, penutupnya memuaskan dan relatif lain dari yang lain.

Menyunting novel politik berbau sejarah dan hukum, siapa takut?:D

 

Di bawah ini sejumlah referensi penyuntingannya:

Article of Confederation

Tes Rorshach

Buddy Holly

Will Rogers

Pound sand

What is a Ponzi scheme?

Age of Reason

Boilerplate

shoe-leather

California Gold Rush

Undang-undang organik

Tail between legs

Pancake make-up

The Three-Fifths Compromise


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)