compare2

Memang kebanyakan penerjemah dan penyunting cenderung lebih gemar menyunting fiksi, tapi sebenarnya nonfiksi pun tidak kalah mengasyikkan. Sama halnya dengan fiksi, butir-butir tugas yang dikerjakan editor bisa sangat bervariasi dan tergantung genre.

  1. Bila yang dihadapi adalah buku teks/pegangan, biasanya bahasa lebih “datar” dan patuh makna. Istilah serbakonsisten, tidak diragamkan. Gaya yang naratif dan “berbunga-bunga” ala fiksi sangat dihindari.
  2. Jika naskahnya dilengkapi grafik, tabel, dan gambar lainnya, keterangan cukup diedit di bagian bawah atau dokumen terpisah. Format tidak boleh diutak-atik untuk memudahkan pengecekan setting. Memang risikonya, softcopy jadi lebih berat dan besar.
  3. Ketika menyunting buku agama dan kita bukan editor bidang itu, fokus pada teks dan uraiannya saja. Umumnya teks Arab tidak disertakan dalam naskah, baru disisipkan kemudian.
  4. Pengecekan ejaan dan tatabahasa secara umum, contohnya pemakaian “di”.
  5. Mengecek kepopuleran kosakata ilmiah. Kadang dilematis, namun selingkung buku ilmiah terjemahan memang berbeda jauh dengan fiksi sehingga banyak yang dibiarkan saja.
  6. Mengonfirmasi pemakaian padanan. Tidak semua penerbit bersedia mengartikan mouse jadi “tetikus”, misalnya.
  7. Bila yang diedit adalah buku anak, otomatis lebih berhati-hati lagi. Bubuhkan catatan jika perlu, ketika menyederhanakan kosakata, memenggal kalimat (maksudnya membagi dua atau tiga kalimat yang panjang), dan memberi keterangan pada uraian tertentu agar pembaca lebih paham.
  8. Pengecekan data dan fakta adalah poin terpenting. Sebaiknya rujukan cetak kita akurat dan diperbarui, sebagai penyeimbang referensi online. Tapi bila tidak, cek referensi dari beberapa sumber maya. Yang pernah saya alami, istilah di media cetak ternama sekalipun belum tentu berterima bagi penerbit.
  9. Untuk topik tertentu, kalimat “kaku” dengan struktur aktif lebih mendominasi. Dalam fiksi, saya kerap menyunting kalimat dialog atau narasi menjadi pasif supaya lebih mengena. Namun di nonfiksi tidak bisa selalu begitu.
  10. Di topik how to, baca keras-keras kalimatnya untuk memastikan kewajaran. Apakah kalimatnya terdengar “ramah”, mudah dicerna, dan mudah diingat pula? Lebih-lebih jika mengandung instruksi yang terdiri atas beberapa langkah.
  11. Saat mengedit memoar, gaya bahasa relatif lebih longgar. Sesuaikan dengan penulis yang mungkin seperti mengajak pembaca bercakap-cakap, menggunakan kalimat yang ringkas dan mengalir.
  12. Nonfiksi tidak berarti “bebas” puisi dan idiom. Pernah saya temui idiom yang sangat spesifik menyangkut bidang pemasaran dan tidak ada di kamus mana pun. Lagi-lagi penyunting harus mengepaskan dengan konteks.
  13. Mengecek konsistensi sapaan pada pembaca, utamanya di naskah motivasi. Rata-rata menggunakan “kau” dan bukan “Anda” agar tidak berjarak.
  14. Ada indeks? Tanyakan pada penanggung jawab apakah itu dikerjakan penerbit atau editor.
  15. Penyeragaman daftar isi, karena biasanya berubah. Apalagi bila naskah terdiri atas sejumlah tulisan pendek.

Sekali lagi, ini hanya beberapa di antaranya. Bisa jadi banyak yang belum saya sebutkan.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)