Menghasilkan sesuatu yang sederhana biasanya tidak mudah.

Salah satu penyebab ketidakmudahan itu adalah “ambisi” pembuat atau pemilik karya. Menurut saya, novel yang semula berjudul “Love in 1982” ini membuktikan bahwa simpel pun bisa menarik. Letak simpelnya adalah pada lompatan waktu, dan yang paling terlihat, kehidupan di lokasi yang jauh dari ingar-bingar kota besar serta perkembangan teknologi canggih. Tahun 80-an di desa yang hening dan sederhana.

Dalam banyak kesempatan ketika berinteraksi dengan handai tolan yang lebih muda, saya kerap ngedumel dalam hati, “Harusnya kamu tahu dulu kayak apa susahnya.” Apa yang terjadi pada Lika, tokoh utama novel ini, seakan mencerminkan harapan itu. Menilik masa lalu sehingga mengerti alasan seseorang mengambil tindakan dan tidak terburu-buru menuduh.

Dari segi lompatan waktu, memang ceritanya ringan saja. Bagaimanapun, ini bukan novel yang mengusung fantasi. Saya seperti dimanjakan oleh nama-nama yang mungkin tidak familier (baca: tidak ngetren) sekarang ini seperti Panji (nama ponakan saya ada yang sama), Sekar, Arum, Ratna, dan sebagainya. Hal-hal yang tampak sepele namun mengagetkan ketika diungkap ke muka anak muda/remaja, semisal tidur pun tidak perlu ganti baju khusus segala. Saya jadi ingat suami deh:))

Novel ini mengandung muatan lokal Jawa. Sewaktu menyunting, saya membubuhkan catatan kaki makna dialog bahasa Jawa yang beberapa kali muncul. Kembali bukan cinta naksir-naksiran yang jadi dominan di sini, melainkan konflik keluarga dan kasih sayang orangtua-anak.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)