Saya ingat betul, ketika ditawari Icha (editor Nourabooks) menyunting naskah ini, saya sedang berada di rumah Mama. Alhamdulillah bawa Ceri, jadi tidak perlu lari-lari ke warnet atau pinjam PC adik. Rumah Mama termasuk blank spot, sulit sekali mencari sinyal yang jernih. Bisa dikatakan semua operator CDMA tak berkutik di sana.

Menyunting nonfiksi memang salah satu yang saya sukai, bahkan kadang saya rindukan. Ketika mulai menggarapnya dan meletakkan Ceri di meja makan, saya bilang pada Mama, “Aku lagi ngerjain buku menteri, Ma.” Waktunya relatif singkat, namun tidak perlu rombak berat karena naskah ini pernah terbit dengan judul Tertawa Setengah Mati ala Dahlan Iskan. Figur pejabat satu ini tengah heboh, sering diberitakan dan muncul pula di layar kaca. Belum lagi novel biografinya yang naik daun.

Karena ada hal yang keliru saya pahami, suntingan kumpulan kisah ini sempat direvisi. Tetap menyenangkan karena sebagaimana menangani naskah sejenis, saya diberi kesempatan mengecek judul, mengepaskan dengan cerita, kadang-kadang mengubahnya. Itu tidak mengurangi kenikmatan meresapi cerita, yang menurut saya lebih tepat disebut “unik” dan “eksentrik” sebagaimana judul buku ini setelah diterbitkan Nourabooks:)

Inspiratif, sudah tentu. Dari cerita perdana saja saya sudah mengangguk-angguk, membaca kalimat penutup,

Bagi Dahlan Iskan dianggap loper koran pun tidak apa-apa.

(hal. 2)

Ihwal uang yang ditaruh di tompo karena dianggap terlalu sedikit untuk masuk lemari besi tahan api, saya tersenyum-senyum juga. Ingat beberapa kerabat, termasuk suami sendiri, yang lebih suka membawa kresek untuk menaruh uang daripada dompet. Dari sini, saya belajar tentang jeroan bisnis koran dan tulis-menulis, termasuk urusan HRD.

Saya juga berterima kasih pada Sinta karena membantu ketika saya bingung menghadapi istilah bahasa Jawa Timur, yaitu rombong. Di sini tepatnya rombong rokok.

Bila ada orang mengatakan Dahlan Iskan berperilaku begini dan begitu karena pencitraan (kata yang belakangan ini makin saya jengahi), ya tidak apa-apa.

[author]

[sws_facebook_share]

[sws_tweet_button]

[sws_linkedin_button]

[sws_single_pin_it]

[sws_related_post]


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)