“Kenapa nggak pakai Excel aja, Rin?” tanya Lulu ketika tahu saya sedang berkutat dengan post-it dan baru tahu bahwa benda itu hanya melekat di barang berbahan sesama kertas. Atau monitor seperti di foto atas.

“Aku nggak suka memandangi Excel,” alasan saya membuat Lulu tertawa.

Setelah terjun dalam penyuntingan, saya baru menyadari betapa perlunya menyusun daftar nama karakter ini. Bukan karena sangat banyak, tapi memang daya ingat saya mulai kewalahan pada saat-saat tertentu. Jadi pinjam istilah Mas Agus sejak lama, “Daripada, ya lebih baik.”

Dipikir-pikir, sewaktu menerjemahkan Stravaganza, misalnya, saya tidak serepot ini. Memang karakternya banyak, khas fantasi, dengan nama-nama berbau Italia pula. Tapi tidak semua karakter itu berperan penting, bahkan banyak yang sambil lalu saja. Entah perasaan saya atau bukan, masing-masing karakter punya ciri khas sehingga tidak sukar membedakannya. Identitasnya juga jelas. Yang membuat daftar nama karakter ini mendesak untuk disusun adalah:

  1. Kebanyakan sering muncul, baik berdialog maupun disebut-sebut oleh karakter lain.
  2. Baru sekilas ditampilkan di permulaan, tahu-tahu muncul lagi di tengah. Mungkin inilah perlunya membaca materi secara keseluruhan sebelum mulai menyunting, agar tidak “terkecoh”. Sayang saya belum tahu teknik membaca cepat dan teliti sembari membubuhkan catatan, karena khawatir energi terkuras ketika menyunting detailnya kemudian. Jadi ketika, sebutlah seorang anak dikabarkan meninggal di bab pertama, ujug-ujug muncul di bab tujuh belas kemudian “menguasai” cerita sampai akhir karena memang masih hidup dan segala macamnya, saya bolak-balik saja mengecek sekaligus menyesuaikan segala sesuatunya (termasuk sapaan) sambil mengomeli pengarang yang “mengerjai” saya dalam hati.
  3. Nama karakter lebih dari satu. Sering saya temui pengarang yang “iseng” mengganti nama karakter dalam alinea yang berdekatan. Contoh, Elizabeth Parker kadang disebut “Elizabeth” saja lalu mendadak disebut “Miss Parker”. Mata mesti melotot terus apabila dalam percakapan atau aksi yang sama ada wanita lain, agar kata gantinya tidak membingungkan. Belum lagi jika Elizabeth ini punya beberapa nama kecil, Liz, Liza, Eliza, atau Beth. Kadang ingin menyitir ucapan Sam Roxton di I’ve Got Your Number, “Lebih baik aku menembak diri sendiri.”
    Kalau sudah begitu dan nama kecilnya memang banyak, tidak bisa diganti semena-mena meski berisiko membuat pembaca bingung.
  4. Karakter yang banyak dan aktif dalam cerita itu bersaudara, atau setidaknya termasuk keluarga besar. Sependek pengetahuan saya, jarang sekali pengarang yang memberikan informasi sedari mula dengan jelas mana yang adik, mana kakak. Bayangkan jika adiknya lebih dari satu dan jenis kelaminnya sama. Semua cukup disebut sister dan brother. Jawaban terangnya harus digali-gali dulu… satu atau dua bab kemudian, jika beruntung:D
  5. Keterangan identitas yang bisa membantu membedakan tiap karakter sangat minim, bahkan tidak ada. Mungkin pengarangnya terlalu teguh memegang prinsip show, don’t tell (ini tebakan ngawur saya). Jadilah dalam daftar tokoh, perlu dibubuhkan “Robert asisten James”, misalnya, kemudian berdoa di suatu bab menjelang akhir sana tidak berubah drastis. Informasi umur cukup bisa jadi pegangan, tapi tidak selalu ada. Pernah saya menjadikan keterangan fisik sebagai tolok ukur. Julia yang berambut pirang, Susan yang berambut merah, Lucia yang berambut hitam, kemudian tak ada hujan dan angin muncullah Vivienne yang juga berambut merah:))

Yah, masih untung saya belum bertemu karakter yang bernama superpanjang seperti nama-nama di Facebook: Akulahpriayangkanmencurihatimu atau CiImutGagTawMalLu. Pait, pait, paiiiit…

 


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

4 Responses to “ Menyusun Daftar Nama Karakter ”

  1. gravatar lulu Reply
    June 9th, 2012

    Biarpun aku udah buat daftar nama tokoh pakai excel, di mejaku masih bertebaran kertas-kertas oret2an berisi nama tokoh, silsilah, atau keterangan waktu, dll. Ternyata ga tahan juga kalau ga nyoret2 pake tangan 🙂

    • gravatar Rini Nurul Reply
      June 9th, 2012

      Hihihi, aku takut kebuang, Lul…

  2. gravatar Desak Pusparini Reply
    June 9th, 2012

    Perlu ditiru, selama ini saya hanya mengandalkan ingatan saja, dan kalau lupa/tidak jelas, saya balik lagi ke atas dan mencari-cari. Mestinya cukup dicatat atau buat semacam silsilah, pastilah akan sangat membantu (kok ngga kepikiran ya? Kentara kurang pengalaman), hehehe. Makasih Mbak Rini, sudah berbagi 🙂

    • gravatar Rini Nurul Reply
      June 9th, 2012

      Sama-sama, Mbak Desak:)

Leave a Reply

  • (not be published)