Salah satu poin indikator hasil terjemahan yang baik dan saya yakin diketahui semua penerjemah adalah sedapat mungkin tidak terasa seperti terjemahan. Cair, lentur, luwes, mengindonesia. Meski mengindonesia ini juga ada batasnya.

Terkait struktur kalimat, menyunting dan membolak-baliknya juga termasuk teknik peluwesan atau “mempercantik” terjemahan. Menyederhanakan kalimat agar lebih mudah dibaca, tidak tersandung di poin-poin tertentu di dalamnya, berarti membuang sedikit pula. Sayangnya, masih banyak yang “setia” dalam arti kuantitas. Entah ada kaitannya atau tidak, barangkali karena pernah ada pendapat bahwa hasil terjemahan umumnya 1,5 kali panjang/jumlah karakter naskah asli.

Ketika saya praktikkan, ternyata tidak selalu demikian.

Ambil contoh dialog film A Thousand Words:

I am Jack too.

Are not.

Am too.

Diterjemahkan

Aku juga Jack.

Bukan.

Iya.

Bekal lain peringkasan tersebut adalah arahan para editor in house. Tentu saja melihat genre, bukan buku klasik yang umumnya beralinea serbapanjang. Perlu diketahui, mereka memberi panduan tersebut bukan tanpa alasan. Simak saja pengalaman Lulu di postingan ini.

Editor in house lain, yang tidak ingin saya sebut namanya, menceritakan pengalaman yang kurang-lebih sama. Di hari-hari awal bekerja, ia digembleng editor senior terkait kalimat efektif. Mengutip uraian beliau, “Seperti mau pingsan baca coretan koreksinya. Banyak banget.”

Singkat kata, memotong kalimat demi penyederhanaan tadi ada alasan dan tekniknya. Sebab tugas editor bukan mencari-cari kesalahan.

 


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)