Tadi pagi, Mas Agus tergesa-gesa hendak bertemu klien. Di jalan depan terminal yang ramai, terasa ponsel di saku jaketnya bergetar. Ketika baru mengeluarkan ponsel, dia dihampiri seorang nenek. Mas Agus mengira nenek itu peminta-minta atau tunawisma, spontan menggerakkan tangan karena riweuh dengan ponsel dan menepikan motor yang masih menyala. “Punten Ma, punten nuju pameng.” (Maaf Mak, lagi tanggung)
Mendadak seorang lelaki berkata, “Eh dia bukan pengemis, cuma minta tolong diseberangin.” Mas Agus kaget dan tak enak hati. Untung nenek tadi masih di pinggir jalan.
“Mak, mau nyeberang? Ayo saya tolongin,” Mas Agus mengulurkan tangan.
“Iya Cep, mau ke pasar,” jawab nenek itu. Ternyata matanya sakit sebelah, sangat repot menyeberangi jalan Cileunyay yang sangat padat dan macet di sekitar tol. Mas Agus malu, terutama pada diri sendiri. Begitu banyak orang, namun nenek tadi justru memilihnya. Pasti beliau sangat berhati-hati.
Sesampai di seberang, Mas Agus minta maaf telah salah duga. Nenek itu tersenyum, mengucapkan terima kasih sambil mengusap-usap lengan Mas Agus yang berjaket.
Bukan satu-dua kali kami mengalami yang seperti ini, dan biasanya sulit dilupakan. Alhamdulillah Allah masih memberi kesempatan…


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)