Judul ini adalah plesetan momotoran (bahasa Sunda, artinya naik motor ke mana-mana).

Di tahun keempat perkawinan, kami dapat pinjaman motor dari famili. Tujuannya menghemat ongkos transportasi karena tempat tinggal kami di Selatan lumayan jauh di tempat pertemuan dengan klien yang sering kali di Utara (kata orang, pusat kota).

Motor yang bunyinya kayak batuk-batuk ini sangat membantu. Lagi-lagi kami belajar menikmati proses dan bersyukur. Suatu ketika, remnya tidak berfungsi dan lumayan ribet memperbaikinya, sebab motor ini produk Cina. Kabel gas pun putus berulang kali. Namun sekitar satu tahun kami bermotor dengan kondisi tersebut. Tidak gegabah, tentu saja. Menghindari kawasan tak berpenerangan selepas Maghrib, umumnya di jalan pintas kalau mau pulang dari kota.

Setelah rem bisa diganti, mocin ini belum fit benar dalam arti tidak bisa dipakai mudik ke provinsi tetangga. Tak mengapa. Saya masih ingat jasa sang mocin, melewati jalur Nanjung menuju Soreang seusai silaturrahim Lebaran ke daerah Utara membawa ricecooker lungsuran. Di mata orang lain mungkin memprihatinkan, tapi jadi manis sekali pembelajarannya sewaktu kami kemudian mampu membeli ricecooker sendiri.

Kira-kira empat tahun silam, kami membeli Si Ijo. Motor tangguh yang dalam kondisi bekas pun masih kuat dibawa mudik sekian ratus kilometer. Kami sadar, secara bertahap kekuatannya menurun. Selama itu kami berusaha menyisihkan uang untuk membeli motor lagi sambil terus memantau perkembangan harga. Kami bukan penabung yang baik, setidaknya menurut ukuran umum. Namun kami optimistis, terlebih setelah cicilan rumah lunas.

Dua peristiwa membelokkan “tabungan” ini untuk keperluan lain, sedangkan kebutuhan sudah mendesak. Si Ijo semakin mudah panas dan kerepotan menyusuri jalan lereng yang mirip jalur off road. Persentase bunga kredit merayap naik di angka yang cukup berat bagi kami.

Lalu terulurlah pertolongan Tuhan lewat seorang sesepuh baik hati, yang bukannya tidak pernah susah. Kami berpikir-pikir dulu sebelum menerima pinjaman tanpa bunga ini, besaran tiap bulannya, dan faktor ketidakenakan yang tidak boleh sampai hilang demi menjaga hubungan keluarga. Yang harus dikuatkan ketika meminjam adalah niat dan komitmen. Sungguh mudah melupakan utang ketika uang sudah di depan mata. Selain itu, prinsip kami adalah menghindari barang seken apabila dananya hasil pinjaman. Khawatirnya sebelum lunas, barang sudah ngadat dan mondar-mandir ke reparasi.

Ireng, demikian nama anggota keluarga baru kami ini, masih menjalani beberapa prosedur termasuk STNK dan plat nomor. Karena sangat berhati-hati, Mas Agus tidak mau memakai Ireng jalan-jalan ke Batukuda. Memilih tempat parkir pun ekstracermat, secara tidak langsung menambah pengetahuan saya mengenai posisi yang menyulitkan pemakai parkiran lain dan sebagainya. Alhamdulillah, Ireng tidak menemui kendala ketika dibawa melintas provinsi dua bulan ke belakang. Kecuali satu hal: agak boros bensin. Saya tergelak-gelak melihat baliho besar iklannya di jalan pulang, ditanggapi Mas Agus, “Ya seliter 60 km itu kalau jalannya turuuun terus.”

Kami melepas Ijo ke tangan yang dapat memanfaatkannya. Ijo, semoga amalmu bertambah banyak di rumah baru.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)