Pertama-tama perlu saya luruskan dulu, S.M. Hasan Al-Banna yang menulis buku ini adalah manajer Maher Zain. Namanya memang hampir sama dengan cendekiawan muslim yang sudah berpulang itu.

Alkisah, sewaktu dihubungi Mbak Esti dan ditanyai kesediaan menerjemahkan buku nonfiksi Islam populer, saya langsung mau. Karier saya sebagai penerjemah buku bermula dari nonfiksi Islam pula dan saya sering rindu mengerjakan genre ini lagi. Kemudian saya berkomunikasi dengan Mas Andityas Prabantoro, penanggung jawab sekaligus salah satu penyunting buku ini.

Terasa familier? Kami bertiga pernah berkolaborasi mengerjakan The Casual Vacancy. Bedanya, yang memberi arahan kali ini adalah Mas Tyas, bukan Mbak Yuli. Kelakarnya, kalau dulu kami (khususnya saya dan Mbak Esti) berembuk masalah kata serapah, kini kami “disuruh solehah”. Mas Tyas memberikan bacaan referensi buku nonfiksi remaja yang senada untuk menyerap gaya.

Nah, di situlah justru tantangannya. Bahasa remaja yang populer adalah kekurangan saya. Untuk memastikan, saya menunjukkan contoh alinea dan minta dikoreksi Mas Tyas. Beliau menjelaskan bahwa agar cair, antara lain perlu dikurangi koma dan kalimat diusahakan tidak kepanjangan. Selain itu, istilah yang cenderung berat pun sedapat mungkin dihindari.

Waktu itu Mbak Esti belum ditunjuk sebagai editor. Semasa penggarapan, saya sering berdiskusi dengan beliau terutama menyangkut kosakata. Lantaran sebelumnya baru menerjemahkan makalah, gaya masih terbawa. Kritik Mbak Esti saat itu, “Diksinya kayak birokrat.”:)) Deg-degan lagi karena saya terpaksa minta perpanjangan waktu. Tanggapan Mas Tyas, “Itu biasa kok, asal nggak lama-lama.” Kalau Anda pernah bertemu beliau (atau mengintip meja kerjanya seperti saya), barangkali bisa mengira-ngira kenapa saya sungkan banget. Meskipun sudah “kenal” lama, kami baru bersua di acara diskusi buku The Casual Vacancy tahun lalu. Saat itu Mbak Esti minta Mas Tyas saja yang naik panggung dengan saya, tapi beliau menolak dan duduk-duduk saja memantau di deretan belakang pengunjung.

Peran serta Mas Agus tidak boleh dilupakan. Sering kali ada bagian kalimat yang tidak saya mengerti dan bisa jadi lebih mudah diketahui jika dikembalikan ke bahasa Arab. Sependek pengetahuan saya, ayah penulis menerjemahkan sejumlah materi dari bahasa Arab dan Urdu. Maka Mas Agus menerjemahkan beberapa frasa kembali ke bahasa Arab (biasa disebut back translation).

[sws_green_box box_size=”100″]Mas Agus mengizinkan saya menceritakan ini dengan menggarisbawahi bahwa dia hanya mampu menjadi editor terjemahan Arab, bukan penerjemah Arab:D [/sws_green_box]

Saat mengetahui ini, Mbak Esti mengusulkan pencantuman nama Mas Agus selaku editor ahli. Tapi dia tidak mau:D

Kehebohannya tidak sampai di situ. Saya ribet dengan dokumen cetak waktu pengecekan akhir. Di sela-sela kerja, saya mondar-mandir membacakan kalimat pada Mas Agus untuk meyakinkan bahasanya sudah cukup sederhana dan mudah dicerna. Dia mengajari penulisan nama yang tepat, kemudian saya merujuk buku suntingannya yang sudah lebih dulu terbit. Beberapa bab yang saya jadikan referensi adalah kisah peperangan, yang membuat mata saya berkaca-kaca khususnya ketika Hamzah tewas.

Lagi-lagi saya mengacungkan jempol pada Mbak Esti. Sebelum menyunting, beliau membaca dulu buku aslinya secara keseluruhan. Saya baru bisa begitu beberapa kali.

 

 


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)