Sumber cover: blog Ribka

Penulis: Haqi Achmad & Ribka Anastasia Setiawan

Penyunting: Gina S. Noer & Donna Widjajanto

Penerbit: Plot Point, 2013

Tebal: 200 halaman

Harga: Rp49.000,00

 

“Tujuh ribu buku laku dalam dua minggu. Itu memang kesuksesan yang luar biasa tapi jujur saja pada waktu itu aku tidak punya uang dan aku tidak bisa cetak ulang bukunya.”

(hal. 105)

Ada yang mengherani saya karena masih membaca buku trik-trik dan resep menulis. Mungkin karena saya sudah berstatus mantan penulis yang tidak pernah prolifik, padahal sejatinya menerjemahkan dan menyunting tetap membutuhkan kemampuan menulis juga. Bisa dikatakan, keduanya merupakan format lain kepenulisan. Selain itu, saya suka mengambil inspirasi dari mana saja, bahkan dari profesi-profesi yang tampak “jauh” dari bidang yang saya tekuni. Apalagi kepenulisan, yang memang bersentuhan.

Khusus buku seri ini, saya memang terpikat setelah membaca yang sebelumnya. Formatnya yang memanjakan mata, bahasanya yang ringan, bahkan komposisi foto di covernya yang membuat saya kerasan menatap berlama-lama. Menurut saya, wajah-wajah yang ada di sampul buku ini menularkan semangat. Paling-paling saya nyadar belakangan,

“Hm, cowoknya cuma satu. Apakah ini berarti teori bahwa penulis [fiksi] lebih banyak perempuan itu benar?”

Suara hati saya lagi yang menjawab,

“Lha, yang nulis buku ini kan satunya juga cowok.”

Kemudian saya memutuskan membacanya dari belakang.

Kecerdikan buku ini adalah pemilihan sosoknya yang beragam. Semua penulis berkualitas, kendati tulisan Alanda Kariza-lah yang paling jarang saya baca. Baru satu artikel di sebuah majalah suatu tahun. Variasinya itulah yang menjadikan menarik. Bahkan kedua penulis tampak jelas riset dulu, sehingga tidak ada cerita membosankan dalam arti sudah sering saya baca di internet. Ihwal buku kontroversial Vabyo, contohnya.

Karena bersifat mirip memoar, “wawancara” dengan pertanyaan yang hampir sama di tiap bagian ini menghadirkan kelima penulis secara manusiawi. Perasaan bersalah Vabyo tatkala buku pertamanya tidak memuaskan dari segi penjualan, semisal. Saya bukan penggemar karya-karya Dee, namun tersentuh oleh penuturannya jatuh-bangun menerbitkan indie termasuk bela-belain membeli laptop dengan honor menyanyi. Juga kejujurannya bahwa sebagian besar pendapatannya kini adalah dari royalti.

Tak kalah menggedornya, kalimat sederhana Farida Susanty,

“Untuk aku, starting point menulis itu memang senang dengan kegiatan menulisnya sendiri, bukan untuk diterbitin atau yang lain.”

(hal. 144)

Hampir senada dengan Clara Ng yang mengaku pemalu dan takut melempar karyanya ke publik. Penulis yang bisa menangani genre berlainan ini membuat saya betah menyimak ceritanya tentang proses karya yang ditaksir petinggi penerbitan namun masih menemui jalan berliku. Penyebab penulisan novel perdananya, yakni keguguran, pun saya baru tahu. Tak ayal, membuat saya teringat salah satu cerpen beliau di sebuah majalah wanita yang pahit-manis.

Dari kisah Clara Ng yang gemar menulis memo internal berbau motivasi, saya lagi-lagi memperoleh ilham. Artinya, suka menulis tidak mutlak harus menerbitkan buku. Menulis dapat diterapkan di bidang apa saja dan pasti ada manfaatnya.

Bagaimana dengan Alanda? Ia mengaku tidak menjadikan penulisan sebagai sumber nafkah, dan lebih lanjut menyatakan,

“Nggak tau sih, ini a blessing or a curse. Tapi, karena tidak ‘terkenal’, aku masih punya banyak ruang untuk berkembang dari segi segmen tulisan.”

(hal. 29)

My Life As Writer perlu dibaca oleh calon-calon penulis masa sekarang yang relatif lebih mudah memperoleh kesempatan mempublikasikan karya. Terkait satu pria dan empat wanita yang saya bahas tadi, sepertinya seru juga kalau ada My Life As Writer 2 yang semua narasumbernya pria.

Poin istimewa lain, penyuntingan buku ini rapi dan enak dibaca.

Cerita singkat salah satu penyusunnya dapat dibaca di blog sang penulis.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

3 Responses to “ My Life As Writer ”

  1. gravatar Ms. Plaida Reply
    April 14th, 2013

    Menarik, baca ulasan ini kenapa jadi pengen beli yaa.. Padahal terhadap buku pertamanya saya bergeming.
    (contoh kemampuan yang bisa didapat dari menulis: kemampuan persuasif :mrgreen: )

    • gravatar Rini Nurul Reply
      April 14th, 2013

      Alhamdulillah ^_^

  2. gravatar Leila Reply
    May 28th, 2013

    Jadi pengin beli, Mbak. Terima kasih atas ulasannya :).

Leave a Reply

  • (not be published)