Sumber poster

Banyak sekali alasan untuk nonton film ini. Jason Patric menjadi ayah, Cameron Diaz menjadi ibu. Ini juga kesempatan melihat sisi kebapakan Alec Baldwin.

Saya mendengar pertama kali dari Tria Barmawi ketika mengulas novelnya, They Want Me To Be Bright, bahwa anak yang menuntut orangtuanya ke meja hijau ‘terinspirasi’ dari buku Jodi Picoult yang diangkat ke layar lebar ini. Pembukanya, monolog Anna Fitzgerald, sudah amat mengaduk-aduk emosi.

When I was a kid, my mother told me that I was a little piece of blue sky that came into this world cause she and dad loved me so much. It was only later that I realized that it wasn’t exactly true. Most babies are coincidences.

Setelah berkali-kali mendonorkan bagian tubuh guna memperpanjang usia kakaknya, Kate, yang menderita leukemia, Anna menemui pengacara Campbell Alexander (Alec Baldwin) untuk mengajukan tuntutan pada ayah-ibunya. Tindakan bocah 11 tahun ini tentu saja mengejutkan, dan sudah pasti mengundang amarah sang ibu, Sara (Cameron Diaz).

Memiliki anak yang sakit berat membutuhkan komitmen kuat seluruh keluarga. Bukan hanya kesabaran si pasien yang terkikis, keluarga pun menjadi rapuh akibat perubahan-perubahan yang harus ditempuh. Sara berhenti bekerja, adiknya mengambil pekerjaan paruh waktu saja, dan seluruh perhatian terfokus pada Kate seorang. Tak terhitung pesan moral yang bisa diraup dari film ini. Antara lain, keras kepala (dan mementingkan keberhasilan pribadi yang dipandang sebagai kemenangan) tipis garisnya dengan semangat dan optimisme dalam berjuang.

You just love her so much that you don’t want to let her go!

Yang terpenting, seseorang harus tahu kapan saatnya berhenti. Dan merelakan.

Semua karakternya menakjubkan. Campbell Alexander

Spoiler Inside SelectShow

, Kate sendiri yang tetap memikirkan adik-adiknya dan berusaha hidup normal, Jesse yang sebenarnya juga membutuhkan perhatian

Spoiler Inside SelectShow

, Anna yang gigih, tak luput performa akting Jason Patric dan Cameron Diaz yang berhasil menampilkan perselisihan pasutri dalam memperjuangkan hidup putri sulung mereka. Saya juga makin betah menonton karena adanya Joan Cusack, hakim tegas yang belum lama kehilangan putrinya secara mengenaskan. Intinya, jangan merasa malang sendirian. Semua orang punya masalah dan kepedihan masing-masing.

Spoiler Inside SelectShow

, membuat saya ingin mulai membaca karya-karya Jodi Picoult dan menonton filmnya bila ada.

Skor: 5/5

 

 

 


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

5 Responses to “ My Sister’s Keeper (2009) ”

  1. gravatar tezar Reply
    March 5th, 2012

    kalo filmnya belum lihat, tapi bukunya memang keren 🙂

  2. gravatar esti Reply
    March 14th, 2012

    Jodi Picoult emang keren. Sempat menerjemahkan salah satu bukunya. Penceritaannya bisa mengajuk emosi pembaca. Lumayan-lah buat yang suka drama 🙂

    • gravatar admin rinurbad.com Reply
      March 14th, 2012

      Wah, yang judul apa, Mbak?:D

  3. gravatar za Reply
    March 14th, 2012

    wah, buku Jodi Picoult lainnya memang apa? Saya terharu tonton film ini.

    • gravatar admin rinurbad.com Reply
      March 14th, 2012

      Banyak. Bisa dilihat di sini.

Leave a Reply

  • (not be published)