Beberapa minggu yang lalu, saya disapa seorang kolega editor in house dengan pertanyaan, “Kira-kira kenapa ya Mbak, satu penerjemah bagus di buku pertama… tapi di buku selanjutnya tidak bisa semulus itu?”

Saya mengaku padanya, saya pribadi merasakan perubahan itu ketika menerjemahkan buku seri. Namun ternyata yang dimaksud rekan editor tersebut bukan semata seri. Buku terpisah dan ordernya berurutan. Memang tidak sampai menurun drastis mutu terjemahannya, tetapi tetap terasa. Sang editor memahami keruwetan mengelola waktu dan energi bagi penerjemah freelance, baik yang murni bekerja di rumah (dan sering kali terpaksa begadang) maupun yang masih mempunyai aktivitas lain serta bekerja kantoran (dan akhirnya harus begadang juga).

Dari sisi penerjemah, saya menjelaskan bahwa kemungkinan penyebabnya adalah kelelahan beserta aspek-aspek tak terduga. Tanpa bermaksud mengesankan kurang profesional, barangkali saja penerjemah ‘kaget’ menghadapi genre yang relatif baru ditemuinya atau jenuh karena mengerjakan yang itu-itu saja. Editor tersebut sepakat dan mengibaratkan tetumbuhan dalam ekosistem, perlu diselang-seling demi kebertahanannya.

Dari pihak editor sendiri, beliau menyatakan sikap untuk mengubah cara pandang dalam menyeleksi/menilai penerjemah. Istilahnya, tidak ‘terpukau’ lagi CV yang kemilau karena pernah bekerja sama dengan penerbit besar dan berjam terbang banyak. Pendek kata, “Perhatikan apa yang terjadi hari ini, sekarang, bukan kemarin.” Semua diperlakukan sama. Cukup masuk akal, menurut saya, sebab beberapa kawan pernah menyampaikan penurunan kecepatan menerjemahkan karena satu dan lain hal. Terlebih semakin lama menggeluti bidang ini semakin terasa, bagi saya pribadi, kecepatan bukan poin utama lagi. Malah bertambahnya pengalaman menuntut kita bertambah awas dan hati-hati sebab biasanya dipandang mampu mengerjakan tema-tema sulit yang tentu tidak bisa di-sprint. Di sisi lain, umumnya kian banyak jam terbang penerjemah, kian keras mereka pada diri sendiri (baca: performanya).

Kemudian saya meminta saran kepada sang editor, kira-kira apa yang perlu dilakukan penerjemah agar tetap segar dan menjaga kualitas kendati mungkin tidak bisa persis di titik yang sama. Menurut beliau, kemungkinan besar ini terjadi pada penerjemah yang memperoleh order rutin dan nyaris jarang ‘menarik napas’. Idealnya, penerjemah memberi jarak seminggu dari pekerjaan ke pekerjaan. Jadi setelah selesai satu, berlibur, bersenang-senang dan tentunya istirahat fisik berikut pikiran sehingga benar-benar segar dan pulih untuk kembali bertempur dengan singa mati baru.

Langkah yang kedengaran mudah namun membutuhkan iktikad kuat dan perlu dicoba. Bagaimana menurut Anda?:)

 


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

13 Responses to “ Naik-Turun Kualitas Terjemahan (diperbarui) ”

  1. gravatar Tika Reply
    January 25th, 2012

    Entah kalau yang sudah banyak pengalaman menerjemahkan ya… Kalau saya, di tengah-tengah menerjemahkan suka merasa; kok beberapa kata yang berbeda saya terjemahkan jadi itu lagi itu lagi ya? Merasa kurang sekali bekal perbendaharaan kata. Kalau sudah begitu bertekad kalau sudah beres kerjaan yang ini mau banyak-banyak buka kamus lagi dan baca buku-buku terjemahan. Meskipun sejauh ini belum jadi dilaksanakan sih, hahahaha…

    • gravatar admin rinurbad.com Reply
      January 25th, 2012

      Itu lazim terjadi kok, Mbak Tika. Saya juga begitu, niat baca kamus biasanya terlaksana satu-dua hari, seringnya lupa, hihihi…

      • gravatar Tika Reply
        January 26th, 2012

        Iyah.. seringnya abis nerjemahin itu inginnya ‘liburan’ baca banyak buku, buat bekal terjemahan berikutnya. Tapi so many books to read so little time 🙂

    • gravatar Femmy Reply
      January 25th, 2012

      Selain kamus, tentunya buku yang lebih ampuh untuk memperkaya kosakata adalah tesaurus. Kalau tesaurus yang tersedia belum cukup, bikin tesaurus sendiri untuk kata-kata yang sering dihadapi 🙂

      • gravatar Tika Reply
        January 26th, 2012

        Salam kenal Mbak Femmy 🙂

        Iya setuju, Mbak… Memang suka merasa ingin melengkapi tesaurus sendiri. Tapi kalau saya sejauh ini masih baru rencana, hihihi… makasih sarannya Mbak 😀

  2. gravatar Meggy Reply
    January 25th, 2012

    Kebetulan aku sedang mengerjakan terjemahan yang hanya berjarak seminggu dari job sebelumnya, so far rasanya gak cukup break cuma seminggu ;)apalagi buku sebelumnya ceritanya agak ‘berat’.. hehehe.. untung yg saat ini ceritanya lebih ringan dan beda genre. Tapi mengerjakan buku yang beda genre itu memang membantu untuk selingan/penyegaran. IMHO lho.. ^_^

    • gravatar admin rinurbad.com Reply
      January 25th, 2012

      Terima kasih komentarnya, Mbak. Jadi kasuistis ya:)

  3. gravatar nurcha Reply
    January 25th, 2012

    pernah ngalamin juga kayak mbak tika … hehehe … kalau aku pas ngerjain editing mbak. begitu beres satu langsung dikasih order editing selanjutnya … jetlag bahasa penulis … gak ada komplain siy dari editornya, tapi aku menyelesaikannya lewat tenggat yang seharusnya … hihihi, lain kali harus belajar untuk manajemen waktu dan pikiran. 🙂

    • gravatar admin rinurbad.com Reply
      January 25th, 2012

      Jetlag bahasa penulis, berarti naskah lokal ya, Nur? *Catat*. Terima kasih ya sharing-nya:)

      • gravatar nurcha Reply
        January 26th, 2012

        yup, naskah lokal. bahasa anak-anak. jadi terpacu belajar untuk baca lebih banyak naskah anak-anak. :). mengingat karakter setiap orang ketika menulis berbeda. hehehe. sama-sama mbak.

    • gravatar Tika Reply
      January 26th, 2012

      *tos* Mbak Nur 🙂

      • gravatar nurcha Reply
        January 26th, 2012

        tos juga mbak tika, salam kenal 🙂

  4. gravatar honeylizious Reply
    January 26th, 2012

    saya kalo bahasa asing masih terbata-bata 😀

Leave a Reply

  • (not be published)