Berdasarkan kegagalan pernikahan yang lalu, Buzzy dan Katie membuat kesepakatan untuk tidak memaksakan bertemu demi menghindari “drama” di rumah tangga kedua mereka. Buzzy bekerja pagi hari sebagai instruktur fitness, sedangkan Katie di malam hari mengelola restoran. Buzzy sangat memahami kondisi Katie yang masih disambangi mantan suaminya, Dara, seorang seniman panggung. Dengan kata lain, pasangan ini sama-sama “mewarisi” keluarga satu sama lain, termasuk yang mantan-mantan.

Sulitnya, Marsha, kakak Katie, tidak menyukai Buzzy. Dinilainya sang adik ipar suka berbicara mesum, kendati bagi Max, suami Marsha tidak jadi soal. Selain itu, Marsha kurang menghargai Buzzy lantaran cincin kawin adiknya dibiayai kantong Katie dan bahkan pasangan tersebut tinggal di apartemen Katie. Perilaku Marsha ini tidak berbeda dengan cara pandangnya yang merendahkan suami sendiri. Max seorang musisi yang menurut Marsha punya pekerjaan berkat dirinya, Marsha-lah yang memiliki studio rekaman. Agaknya salah satu penyebab ketidaksehatan rumah tangga mereka ialah alasan Marsha menikah dengan Max, yaitu kehamilan.

Situasi bertambah rumit saat adik tiri Buzzy, Linda, muncul dan menginap beberapa hari. Buzzy sudah lama tidak bertemu adik yang jauh lebih muda darinya itu, sedangkan Katie kesal lantaran suaminya tidak mengatakan lebih dulu bahwa Linda pernah menelepon dan mengatakan akan datang. Bentrokan-bentrokan kecil timbul, apalagi Max kemudian makin jengkel pada Marsha dan minta cerai.

Lumrah saja jika pasangan suami-istri bertengkar dan membela saudara masing-masing. Tapi membiarkan “orang ketiga” masuk, apalagi di usia perkawinan baru yang masih rawan, tetap berisiko. Pernah berumah tangga tidak menjadikan Buzzy dan Katie tangkas menghadapi masalah.

Pesan moralnya sangat eksplisit: urusan rumah tangga lebih baik diselesaikan berdua saja.

Poster dari flixster

Skor: 3,5/4


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)