Sumber cover

Sumber cover

 Penulis: Nina Moran

Penyunting: Nurjannah Intan & Ikhdah Henny

Penerbit: B First

Meskipun belum banyak, sudah beberapa buku fiksi dan nonfiksi ihwal dunia penerbit yang saya baca. Terus terang, referensi dunia penerbitan lokal masih jarang. Di sinilah buku Nina Moran ini mengisi celah. Serta-merta saya teringat uraian seorang pembimbing di penerbitan besar akan gambaran dasar mengenai penerbitan. Bidang itu tidak hanya mencakup buku, tapi juga majalah seperti Go-Girl yang dibangun Nina Moran bersaudari.

Cerita sukses bisnis sudah banyak diangkat di artikel media cetak maupun online. Profil pengusaha, trik-trik dalam wawancara singkat, dan wejangan untuk berani mencoba (yang kadang nekad) bukan main kerapnya saya temukan. Di buku ini, saya menemukan apa yang saya cari. Penjelasan gamblang, rinci, dan fokus. Saya makin sukar berhenti baca sewaktu Nina mulai bercerita ihwal dua tahun pertama menjadi pengusaha. Lengkap dengan aneka kendalanya tentu saja.

Semakin jauh membaca, semakin saya sadari akan sedikitnya yang saya ketahui. Ihwal pengajuan proposal pinjaman modal usaha ke bank, contohnya. Dengan lancar Nina menceritakan pertemuan dengan orang bank yang mengemukakan kekurangan proposalnya. Penulis juga tak ragu menyebutkan angka modal, berapa yang dikeluarkan untuk apa saja. Rasanya seperti kuliah bisnis lewat buku, membuat saya manggut-manggut terus.

Saya pernah berurusan sedikit-sedikit dengan percetakan dan sablon, tapi sangat minim dibandingkan pengalaman penulis ini. Mungkin jika belum baca buku ini, saya tidak akan pernah tahu bahwa percetakan ada yang demikian besar dengan jenjang organisasi lebar dan rumit pula konfliknya. Kerja sama dengan percetakan tertuang dalam kontrak. Kemudian bila majalah dilengkapi bonus, percetakan menyediakan tenaga penyisipan untuk menangani. Ada uraian mendetail mengenai distribusi dan keagenan, termasuk lapak media cetak di pertokoan. Ternyata punya lapak pun bisa menimbulkan napas tersengal-sengal.

Tecermin benar bahwa Nina dan dua adiknya selaku pendiri Go-girl! tergolong pekerja keras. Kendati berposisi bos, mereka bertiga masih turun tangan mengerjakan “remeh-temeh” sampai diherani orang lain. Mereka masih terjun dalam pemotretan, menulis ulang, juga layout dan desain. Saya acungkan jempol atas kejujuran Nina mengemukakan bahwa perusahaannya menanggung utang besar di suatu tahun sekalipun majalahnya mulai terkenal.

Dinamika dan hiruk-pikuk dunia kerja majalah dari kacamata bisnis ini bertambah menarik karena mengandung solusi kreatif dan strategi mengatasi berbagai masalah. Saya jadi tahu bahwa pemotretan berlokasi “sensitif” yaitu lokasi pedagang produk bermerek palsu dapat menyinggung klien sehingga pemred harus bertindak lekas. Juga bahwa agensi iklan menerapkan sistem bayar mundur yang merepotkan arus kas. Tapi dengan gaya tuturnya yang tulus dan optimistis, Nina Moran tidak terkesan “eksploitasi drama”. Membangun bisnis memang bukan kerja ringan. Saya masih bisa tersenyum-senyum membaca uraiannya mengenai etos kerja generasi sekarang.

Setelah tahun ketiga, banyak kru yang keluar-masuk. Semua orang pasti punya pertimbangan masing-masing, tapi kecenderungan tenaga kerja yang masih muda-muda itu, hmmm… apa, ya? Gampang bosan. Entah bagaimana banyak yang percaya kalau kerja dua tahun setelah itu harus naik pangkat. Kalau enggak naik pangkat, ya, keluar.

Saya sempat enggak punya asisten beberapa tahun. Masalahnya, setiap saya kasih tau kalau jobdesc-nya serabutan, tiba-tiba pelamar menunjukkan gelagat kabur dari ruangan. Situasi paling hit: memberi tahu asisten untuk canvassing alias cek stok ketika saya enggak bisa. Muka mereka langsung shock. “Tapi, nanti aku dikasih mobil, kan?” “Kalau enggak, tapi dikasih ongkos, gimana?” tantang saya.

Cerita lain yang “menempeleng” adalah sewaktu Go Girl! baru berdiri dan belum mampu menyewa kantor. Menurut Nina, tidak semua pelamar yang dipanggil datang barangkali karena alamatnya di rumah dan dikira perusahaan fiktif.

Tak urung, saya terharu oleh semangat dan komitmen Nina Moran bersaudari. Keteguhan mereka untuk mengembalikan pinjaman modal yang walau sangat besar ternyata tidak memadai. Dukungan penuh orangtua yang sama-sama berjiwa bisnis kuat, bahkan sang ibu ikut berburu vendor barang bonus guna menekan harga. Pelajaran demi pelajaran yang Nina lalui dijadikannya tempat berkaca, bahkan dia lebih sering menyalahkan diri (secara proporsional) daripada orang lain. Tak pelak orangtuanya menjadikan tiga wanita ini sangat tangguh. Orang yang biasa “susah” dari kecil memang banyak, tapi yang pernah mengenyam kemakmuran kemudian jatuh dan tidak mengeluhkan nasib menurut saya relatif sedikit.

Dalam wawancara dengan beberapa pengusaha lainnya, Nina menyoroti bahwa pendukung terbaik usaha adalah pasangan dan keluarga. Rata-rata mengemukakan kendala yang sama: sumberdaya manusia. Tidak mengherankan bila organisasi bisnis masa kini jadi “kurus”, satu usaha digawangi di bawah sepuluh orang, misalnya. Saya jadi merenung dan malu karena suka mengeluh capek lalu cari-cari asisten, padahal masih bisa mengerjakan sendiri beberapa urusan.

Kekurangan buku ini hanyalah ukuran hurufnya yang mungil. Kadang saya juga bingung oleh kata ganti “kami” dan “kita”. Namun secara keseluruhan, ini kisah blakblakan yang sangat menambah wawasan.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

PREVIOUS ARTICLE

NEXT ARTICLE

2 Responses to “ No One To Someone ”

  1. gravatar hume Reply
    December 19th, 2015

    Makasih atas reviewnya! mau nanya nih… ada lagi gak ya buku nonfiksi/memoar yang menceritakan kisah perjuangan yang blak-blakan gini? Atau kisah perjuangan pekerja buku lainnya, seperti yg kamu tulis di link berikut ini: http://www.rinurbad.com/romantika-perjuangan/

    Saya senang sekali membacanya. Mengingatkan bahwa butuh proses dan perjuangan untuk mendapatkan apa yang kita inginkan

    salam

    humes221b@gmail.com

    • gravatar Rini Nurul Reply
      December 22nd, 2015

      Setahu saya, buku-buku Seri My Life As cukup gamblang memaparkan liku-likunya. Mengenai pekerja buku, sudah baca tulisan Uci ini?

Leave a Reply

  • (not be published)