Sebenarnya relatif banyak mengingat saya sempat menjaga ibu kami di rumah sakit kemudian membawanya pulang sekitar seminggu dan tidak pernah menonton apa-apa selama itu. Mungkin saja ingatan saya kacau seperti biasa, ada beberapa yang ditonton Oktober. Namun secara keseluruhan, saya puas dengan mayoritas film lepas di bawah ini. Setimpal mengingat saya sedang lebih gandrung film seri karena satu dan banyak hal.

A Good Marriage

Nonton horor dan thriller buat saya hukumnya wajib, minimal satu per bulan (atau satu season kalau seri, maunya). Saya sudah naksir poster film ini sejak melihat woro-woronya di situs web sang pengarang novel, Stephen King. Two can keep a secret if one of them is dead, demikian tagline-nya yang mencuri hati. Lumayan panjang namun plotnya cepat, kemasan drama thriller yang menegangkan dan ceritanya tidak biasa. Paling tidak, ada beberapa kejutan menuju akhir sehingga cerita yang sudah sering diolah menjadi istimewa ala King. Intinya sih, menyimpan rahasia itu menanggung beban berat. Bahkan ketika orang yang bersangkutan sudah tidak ada.

 

You’re Not You

Walaupun masih ada beberapa film Hilary Swank yang belum saya tonton, bisa dipastikan saya pertimbangkan film apa saja yang dia bintangi (Tolonglah Hilary, jangan main komedi slapstick ya). Melihatnya dipasangkan dengan Josh Duhamel, saya bayangkan akan menarik sekali dan memang benar. Mungkin Anda jemu menyaksikan pasien-pasien penderita penyakit yang kronisnya bersifat terminal berusaha termotivasi positif, namun saya membutuhkannya. Kesabaran sang pasien yang mau memberi kesempatan pada perawatnya yang sama sekali tidak berpengalaman sangat langka, apalagi membuahkan persahabatan yang berpotensi menggiring tuduhan keluarga dan orang-orang terdekat pasien kepada sang perawat. Film yang menawan dan mengharukan.

 

Grand Piano

John Cusack dan thriller, jujur saja tidak selalu berhasil memerankan antagonis. Mungkin karena antagonisnya tidak seberkarakter Identity (susah benar saya move on dari film satu itu). Ide dasarnya keren, beberapa adegan cukup menambah ketegangan, namun Elijah Wood dan pianonya tetap yang paling mencuri perhatian. Saya pribadi sering membayangkan, lagu-lagu klasik cocok untuk mengiringi adegan sadis.

 

Louder Than Words

 

Nah, ini yang saya cari. Temanya agak beda, apa yang dilakukan untuk mengatasi kesedihan dan menjalani hidup setelah orang tercinta berpulang. Sepertinya tidak adil jika saya bilang karena pasiennya anak-anak, terasa lebih menusuk. Siapa yang tahu bagaimana nasibnya bila berumur panjang? Memahami maksud Tuhan memang butuh waktu yang tidak sebentar. Sering saya membaca dan menonton bahwa dukacita akibat berkabung bisa memicu perceraian, tidak sedikit pula perselingkuhan. Di film ini, dampaknya lebih kompleks karena pasangan yang kehilangan putri tercinta itu masih punya tiga anak lain yang butuh diperhatikan. Apalagi mereka memasuki masa dewasa muda. David Duchovny bermain dengan baik sekali. Sewaktu menunggui Mamah, saya terkenang adegan pasangan ini harus tidur di kursi rumah sakit yang tidak nyaman dan mengalami gejolak emosi karena keluarga pasien lain tidak ingin berdekatan dengan mereka setelah mendengar sesuatu.

 

 

Avis de Mistral

Kapan lagi nemu film Prancis yang tidak nyeni alias lebih mudah dimengerti, manis, dan menyentuh seperti ini? Jean Reno jadi kakek pula (dan saya baru tahu sebenarnya dia bukan orang Prancis). Tema film ini tentang kakek yang harus berlibur dengan cucu-cucunya sedangkan dia sudah puluhan tahun bertikai dengan ibu mereka yang baru bercerai. Tidak mudah mengakrabi remaja, luar biasanya malah cucu terkecil yang terlahir tuna rungu menjadi penengah dalam suasana panas. Sangat mengharukan melihat perlakuan mereka terhadap bocah manis itu sehingga kekurangannya nyaris tidak terasa. Saya semakin larut karena ada lagu-lagu jadul dimainkan, misalnya Knocking on Heaven’s Door-nya Bedil Jeung Kembang Eros Guns N Roses. Adegan favorit saya ketika Paul menasihati Adrien bahwa seusai liburan dia harus menjadi pria utama di rumah. Adrien berlari hendak meninggalkan kebun, dikejar Paul, yang kemudian memeluknya. “Tumpahkan,” kata sang kakek.

 

This is Where I Leave You

Sempat cemas karena film terakhir Jason Bateman ternyata komedi yang bikin bete karena adegan jijik, alhamdulillah tidak begitu. Bahkan melebihi ekspektasi saya. Tentang meninggalnya seorang ayah setelah lama sakit, kemudian kelima anaknya dipanggil pulang untuk berkabung sesuai keyakinan selama seminggu penuh. Baru satu hari, konflik sudah meletus. Ibu yang eksentrik, sulung yang berusaha punya anak sampai frustrasi, anak perempuan satu-satunya bertemu mantan kekasih sekaligus tetangga, si bungsu yang dianggap selalu mengacau, sedangkan Jason Bateman sendiri memerankan pria sukses yang bercerai karena istrinya menyeleweng dengan bos dan dia pergoki setelah satu tahun berlangsung. Ternyata mereka sekumpulan orang dewasa yang tidak bahagia, membawa gembolan emosi masing-masing. Tapi hidup memang begitu. Hidup bukan kesempurnaan. Selain bikin merenung, film ini bikin saya tergelak-gelak juga. Silakan cari tahu kenapa.

 

Thanks for Sharing

Ternyata temanya “dewasa”, saya nggak perhatikan waktu nyambar. Menarik juga sih mengetahui isi hati dan pikiran para pria ketika mengikuti terapi kelompok gara-gara kecanduan. Godaan selalu timbul, dan tanpa sadar jadi api dalam sekam. Tak disangka, yang kelihatan paling “ngasal” justru paling mampu mengendalikan pada akhirnya. Saya ngakak melulu karena sang mantan dokter panik dalam taksi sementara dia tidak boleh naik subway selama terapi. Lagian sih, taksi kok ada TV-nya… kan pusing. Atau untuk mengisi waktu dalam kemacetan? Belakangan saya baru sadar Pink ikut bermain di sini, soalnya dia pakai nama asli. Dan aktingnya boljug.

Stuck in Love

 

Kedengarannya seperti komedi romantis biasa, tapi rupanya berbeda. Lagi-lagi perceraian yang menuntut kakak-beradik remaja bersikap lebih dewasa “sebelum waktunya”. Si kakak mendiamkan ibunya selama dua tahun, memarahi ayahnya karena tidak kunjung melupakan masa lalu melankolis, tapi nilai plusnya: ini keluarga penulis. Meski si adik tidak memihak, dia berang karena suami baru ibunya mengkritik ayahnya. Kreatif juga sang ayah saya pikir, membayar kedua anaknya agar rajin menulis dan tidak perlu bekerja paruh waktu di restoran sebagaimana kebanyakan remaja.

Di mana ada film remaja sendu, kayaknya Logan Lerman dan Liana Liberato ada. Tapi di sini, Nat Wolff yang menonjol di antara semua pemain bagus. Adegan favorit saya: telepon dari Stephen King. Kutipan darinya, “The most important things are the hardest to say.” Oh ya, di penutupnya tidak ada adegan kejar-kejaran taksi/pesawat karena penyesalan kemudian orang yang dicintai berbalik dan menerima permintaan maaf.

 

Heaven is for Real

Ini dari kisah nyata, ihwal seorang anak yang “nyaris meninggal” dan mengaku ke surga. Pengakuan itu berdampak mengguncang pada orangtua, teman-teman, dan kerabatnya. Saya lebih memperhatikan upaya sang pendeta dan istrinya ketika ditagih rumah sakit (dan rasanya tidak begitu jelas bagaimana selesainya). Kondisi ekonomi mereka sedang sulit, tapi rumahnya besar dan rapi. Berhalaman luas pula. Wow banget deh.

 

Peace, Love, and Misunderstanding

Perceraian sepertinya harus diterima sebagai fakta kehidupan, tidak perlu dibarengi komentar begini-begitu yang mempersulit mereka yang menjalaninya. Kata orang perubahan itu pasti, dan tidak pernah mudah. Seorang anak perempuan menelan harga diri dengan membawa putra-putrinya (hai, Nat Wolff lagi!) sementara ke rumah sang ibu di Woodstock, setelah dua puluh tahun tidak bicara satu sama lain. Tantangan emosi datang sekaligus, ajakan membuka lembaran baru, dan rahasia-rahasia yang baru terungkap. Catherine Keener paling piawai memerankan karakter wanita seperti ini, Jane Fonda jadi langganan lansia eksentrik yang tetap seperti umumnya nenek, menyayangi cucu secara berlebihan. Film ini jadi kesempatan buat saya melihat akting Elizabeth Olsen, setelah sekian kali melihat kembarannya melulu. Satu konflik menarik yang saya tandai: ketika seorang pecinta lingkungan dan “dunia hijau” bertemu lawan jenis keren yang menekuni bidang “bertentangan” dengan prinsipnya. Film yang bagus untuk belajar perihal kenyataan hidup.

 

Chef

Salah satu film terbaik yang pernah saya tonton. Kalau nonton tayangan masak-masakan, saya jarang sekali ngiler apalagi kepingin bisa masak. Kagum sih iya. Jadi ingat obrolan dengan seorang teman baik bahwa “lumrahnya” banyak urusan masak-memasak yang butuh tenaga besar sehingga wajar bila kadang-kadang lelaki lebih mampu menangani.
Chef film yang menginspirasi perihal mengajari anak berwirausaha, teknik membawa anak bekerja, menjadi orangtua tunggal dalam perpisahan yang tetap damai seperti teman, dan paling penting: bermedia sosial. Saya tertegun lama sekali di bagian perang Twitter, cekcok dengan blogger, dan Youtube yang menghancurkan karier Carl Casper (Jon Favreau). Saya harus ingat bahwa membawa ponsel berkamera bukan berarti boleh seenaknya merekam seseorang atau suatu kejadian, juga berpikir dulu ketika melihat meme yang “mengundang tawa” karena orang yang di-meme-kan itu manusia. Belum tentu saya sendiri senang kalau jadi mereka.

 

Raising Helen

Sudah lama sekali saya mencari film ini. Kepingin lihat seperti apa Kate Hudson berperan jadi orangtua, kendati bukan “sungguhan”. Dia “ketiban wasiat” kakaknya untuk menjadi wali ketiga keponakan setelah mereka meninggal. Bedanya dengan Life as We Know It, ada konflik tambahan karena kakak sulung mereka (Joan Cusack) merasa lebih mampu dan berpengalaman sebagai ibu sehingga tersinggung oleh penunjukan Helen. Lalu mulailah jempalitan sang ibu wali muda dengan kariernya yang glamor dan ternyata tidak pas untuk hidup berkeluarga, mengubah berbagai pola, dan mengibaskan pikiran bahwa gagal itu “kiamat”. Seperti lagu di pembuka film:

If you’re not here to help then you’re just in the way

The road is littered with the faint of heart, the fools who fell from stress

It’s a fact of life that you can’t catch up, better learn how to love the mess

Juga lagu yang menjadi semacam motto Helen dan almarhum kakaknya:

When a problem comes along, you must whip it

If the cream sits out too long, you must whip it

When something’s going wrong

You must whip it

 

The Single Moms Club

Kenapa ya, film tentang wanita dan konflik senyata ini justru merupakan karya seorang pria? Wanita-wanita yang terlibat dan menjadi dekat ini berlatarbelakang berbeda dari segi etnis, profesi, dan alasan menjadi orangtua tunggal. Jan, petinggi penerbitan yang secara sadar memilih jadi ibu dengan donor anonim pun mengalami problematika setelah anaknya beranjak remaja dan ingin tahu siapa ayahnya. Keputusan yang disangkanya hanya menyangkut diri sendiri ternyata mengabaikan sisi anak di masa depan. Saya jadi teringat tokoh wanita yang menghadapi masalah serupa di novel All I Ever Wanted. Ide bagus juga bila para ibu ini bersatu, bergantian mengawasi anak sehingga sempat sejenak “menghirup ketenangan”. Saya jadi makin paham bahwa ada saatnya anak lebih bisa bicara dengan orangtua anak lain.

 

And So It Goes

Rasanya membosankan dan “seragam”, jika para lansia digambarkan judes semua. Namun di tangan sutradara Rob Reiner, Oren Little (Michael Douglas) tidak separah itu jadinya. Dia hanya punya satu teman, berusaha menepis tanggung jawab mengasuh cucu karena merasa gagal jadi ayah satu anak saja, dan sering mengesalkan tetangganya (Diane Lane). Saya senyum-senyum ketika Oren membuka akun FB anaknya. Di sini orang yang menjual rumah pribadi memilih menyewa apartemen kecil sampai rumahnya terjual, sehingga peminat bisa melihat-lihat dengan utuh seperti rumah baru yang siap dihuni.

Sebenarnya relatif banyak mengingat saya sempat menjaga ibu kami di rumah sakit kemudian membawanya pulang sekitar seminggu dan tidak pernah menonton apa-apa selama itu. Mungkin saja ingatan saya kacau seperti biasa, ada beberapa yang ditonton Oktober. Namun secara keseluruhan, saya puas dengan mayoritas film lepas di bawah ini. Setimpal mengingat saya sedang lebih gandrung film seri karena satu dan banyak hal. A Good Marriage Sumber Nonton horor dan thriller buat saya hukumnya wajib, minimal satu per bulan (atau satu season kalau seri, maunya). Saya sudah naksir poster film ini sejak melihat woro-woronya di situs web sang pengarang novel, Stephen King. Two can keep a secret if one of them is dead, demikian tagline-nya yang mencuri hati. Lumayan panjang namun plotnya cepat, kemasan drama thriller yang menegangkan dan ceritanya tidak biasa. Paling tidak, ada beberapa kejutan menuju akhir sehingga cerita yang sudah sering diolah menjadi istimewa ala King. Intinya sih, menyimpan rahasia itu menanggung beban berat. Bahkan ketika orang yang bersangkutan sudah tidak ada.   You're Not You Sumber Walaupun masih ada beberapa film Hilary Swank yang belum saya tonton, bisa dipastikan saya pertimbangkan film apa saja yang dia bintangi (Tolonglah Hilary, jangan main komedi slapstick ya). Melihatnya dipasangkan dengan Josh Duhamel, saya bayangkan akan menarik sekali dan memang benar. Mungkin Anda jemu menyaksikan pasien-pasien penderita penyakit yang kronisnya bersifat terminal berusaha termotivasi positif, namun saya membutuhkannya. Kesabaran sang pasien yang mau memberi kesempatan pada perawatnya yang sama sekali tidak berpengalaman sangat langka, apalagi membuahkan persahabatan yang berpotensi menggiring tuduhan keluarga dan orang-orang terdekat pasien kepada sang perawat. Film yang menawan dan mengharukan.   Grand Piano Sumber John Cusack dan thriller, jujur saja tidak selalu berhasil memerankan antagonis. Mungkin karena antagonisnya tidak seberkarakter Identity (susah benar saya move on dari film satu itu). Ide dasarnya keren, beberapa adegan cukup menambah ketegangan, namun Elijah Wood dan pianonya tetap yang paling mencuri perhatian. Saya pribadi sering membayangkan, lagu-lagu klasik cocok untuk mengiringi adegan sadis.   Louder Than Words   Sumber Nah, ini yang saya cari. Temanya agak beda, apa yang dilakukan untuk mengatasi kesedihan dan menjalani hidup setelah orang tercinta berpulang. Sepertinya tidak adil jika saya bilang karena pasiennya anak-anak, terasa lebih menusuk. Siapa yang tahu bagaimana nasibnya bila berumur panjang? Memahami maksud Tuhan memang butuh waktu yang tidak sebentar. Sering saya membaca dan menonton bahwa dukacita akibat berkabung bisa memicu perceraian, tidak sedikit pula perselingkuhan. Di film ini, dampaknya lebih kompleks karena pasangan yang kehilangan putri tercinta itu masih punya tiga anak lain yang butuh diperhatikan. Apalagi mereka memasuki masa dewasa muda. David Duchovny bermain dengan baik sekali. Sewaktu menunggui Mamah, saya terkenang adegan pasangan ini harus tidur di kursi rumah sakit yang tidak nyaman dan mengalami gejolak emosi karena keluarga pasien lain tidak ingin berdekatan dengan mereka setelah mendengar sesuatu.     Avis de Mistral SumberKapan lagi nemu film Prancis yang tidak nyeni alias lebih mudah dimengerti, manis, dan menyentuh seperti…

Kesan Rinurbad

A Good Marriage - 9.5
You're Not You - 10
Grand Piano - 8.5
Louder Than Words - 9.9
And So It Goes - 9.2
Chef - 10
Raising Helen - 10
Peace, Love, and Misunderstanding - 9.3
Heaven is for Real - 8.9
Stuck in Love - 10
Thanks for Sharing - 9.5
This is Where I Leave You - 9.8
Avis de Mistral - 10
The Single Moms Club - 9

9.5

Keren

Senang karena pilihan saya mengikuti insting belaka tapi banyak "kenanya".

User Rating: Be the first one !
10

Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

2 Responses to “ Tontonan November ”

  1. gravatar Haya Aliya Zaki Reply
    December 4th, 2014

    Menarik, Rini. 🙂 Aku bookmark buat referensi aku. Mau kubaca-baca ulang. Makasih. 🙂

    • gravatar Rini Nurul Reply
      December 4th, 2014

      Sami-sami, Haya. Makasih sudah bertandang:)

Leave a Reply

  • (not be published)