Suka baca chicklit? Penggemar karya-karya Sophie Kinsella? Salah satu penerjemah bukunya, Twenties Girl, adalah Nurkinanti Laraskusuma. Lala, demikian panggilan akrabnya, juga menggarap novel-novel lain. Di antaranya Thanks for Memories karangan Cecelia Ahern. Sabtu malam ini, Lala menyempatkan menjawab sejumlah pertanyaan saya terkait penerjemahan buku.

1. Sejak kapan Lala tertarik pada dunia penerjemahan? Apakah ini cita-cita Lala sejak dulu? Kalau bukan, apa sebenarnya minat terbesar Lala?

Aku sebenarnya terjerumus ke dalam dunia penerjemahan ini. Waktu itu aku baru lulus kuliah (Desain Grafis ITB, 1998) dan mengajar beberapa mata kuliah di suatu perguruan tinggi swasta Jakarta. Kepala sekolah di sana expat dan kebetulan juga bekerja sebagai freelance copywriter. Karena menurut beliau aku fasih berbahasa Inggris maupun Indonesia, aku ditawari proyek menerjemahkan annual report… yang dengan nekad (sebentar.. ‘nekad’ atau ‘nekat’ ya?) aku terima. Setelahnya aku jadi sering ditawari proyek serupa oleh beliau dan bukan hanya yang ‘serius’ seperti annual report dan company profile tapi juga adaptasi iklan dan naskah musikal. Lepas dari pekerjaan mengajar, aku lantas mendirikan biro konsultan branding dan desain bersama beberapa teman sementara pekerjaan sampingan menerjemahkan dari beliau tetap mengalir. Malah akhirnya aku dijerumuskan untuk kedua kalinya: menulis naskah sitkom, salah satunya Bajaj Bajuri. Tapi itu cerita lain.. :D

Fast forward ke tahun 2002, ibuku sudah 2 tahun beralih profesi jadi penerjemah setelah berpuluh2 tahun bekerja sebagai desainer interior. Ibuku ditanya (oleh GPU) apakah punya saudara atau kerabat lain yang ingin menerjemahkan, karena menurut mereka biasanya bakat ini bawaan dalam keluarga. Karena pada dasarnya aku ini orangnya bosenan–maksudnya gak betah kalau cuma ngerjain kerjaan yang ituuuu itu aja–aku pikir coba ajalah. :D Jadilah ibuku mengajukan namaku ke GPU. Tentu aja aku juga disuruh kirim CV dulu, dites dulu, dsb, tapi rasanya sih nggak lama prosesnya. Tiba2 aja aku udah resmi jadi penerjemah lepas GPU. Jadi ini minat atau lagi2 terjerumus, ya? Kalau terjerumus kok ya doyan? :) )

Nah, kalau bicara minat sih sebenarnya paling besar aku rasa seni musik, lalu seni rupa, baru bahasa dan sejauh ini semuanya aku eksplorasi. :)

2. Sebelum menekuni bidang ini, bagaimana bayangan Lala tentang profesi penerjemah buku?

Terus terang sebelum menekuni bidang ini, aku nggak pernah terpikir sama sekali tentang profesi penerjemah. Padahal dari kecil aku baca buku terjemahan. Baru ketika ibuku sendiri jadi penerjemah buku, aku tersadar bahwa profesi penerjemah itu bukan hanya ADA, tapi juga sesungguhnya mulia.

3. Apa judul buku pertama yang Lala terjemahkan? Bagaimana kesan-kesan
Lala atas cerita/pengarang/dan hal-hal lain menyangkut buku tersebut?

Buku pertama yang aku terjemahkan adalah lungsuran tugas ibuku yang tersisih karena beliau mulai dikasih tugas-tugas serius macam Lord of the Rings. Jadilah aku dapat buku Nora Roberts berjudul Daring to Dream. Buku ini bagian dari Dream Trilogy, yang ketiganya kuterjemahkan. Aku sendiri nggak pernah baca roman, jadi waktu menerjemahkan buku ini banyak meringis.. apalagi waktu di adegan-adegan percintaan. :) ) Di luar ketiga buku ini, aku nggak pernah beli/baca Nora Roberts lagi. It’s just not my cup of tea. :p

4. Mana yang lebih menarik buat Lala, fiksi atau nonfiksi?

Tentu saja fiksi.
5. Genre apa yang Lala favoritkan untuk dialihbahasakan? Adakah pengarang/judul tertentu yang sangat Lala idamkan?

Genre favoritku chicklit dan beruntungnya setelah ketiga buku Nora Roberts itu sebagian besar buku yang jadi tugasku termasuk genre itu. Variasinya paling melenceng sedikit ke teenlit atau guylit. Pengarang favoritku di genre itu adalah Sophie Kinsella dan lagi2 beruntung, aku dikasih kesempatan menerjemahkan karyanya yang berjudul “Twenties Girl” dan ternyata buku itu bahkan melampaui ekspektasiku. Jadi rasanya sih seperti sudah tercapai impiannya… sejauh ini. :D
6. Apakah Lala menerjemahkan tiap hari, pada waktu yang sama atau fleksibel dalam jadwal?

Waktu mulai menerjemahkan untuk GPU, aku hanya sempat mengerjakan di akhir pekan. Baru sekitar tahun 2008 aku memutuskan untuk menjadikan penerjemahan buku ini sebagai pekerjaan utamaku. Saat itu anakku baru mau 2 tahun, suamiku juga bekerja, jadi waktu kerjaku bisa dibilang juga 9 to 5 dengan pengecualian pada hari/jam mengantar anakku ‘sekolah’. Suamiku meninggal dunia tahun 2011 lalu, sehingga sekarang mau nggak mau jadwalku harus bisa lebih fleksibel karena harus mengurus anak sendiri, tapi sekaligus juga waktunya diperpanjang atau kecepatanku ditambah karena anaknya juga mesti dikasih makan. Yah, begitulah. ;)
7. Apa kendala tersulit yang pernah Lala hadapi?

Kendala tersulit adalah ketika aku nggak bisa nyambung sama pengarangnya. Biasanya saat akan mulai menerjemahkan, aku baca beberapa halaman untuk menyelami cara berpikir dan gaya bahasa pengarangnya. Setelah itu aku langsung menerjemahkan supaya perasaanku ikut mengalir sesuai perkembangan cerita (kalau udah baca endingnya duluan suka jadi beda mood-ku). Nah, ada tuh pengarang-pengarang yang sampai berbab-bab juga tetap aja aku nggak ngerti maunya apa. Tapi yaaaah, tetap aja harus aku kerjain sih. :p
8. Sebagai putri seorang penerjemah senior yang juga populer, adakah “beban” tersendiri yang Lala rasakan? Dan apakah Lala pernah tertarik menerjemahkan novel sastra India seperti Ibunda?

Kalau dihubungkan dengan kesenioran/kepopuleran ibuku sebagai penerjemah sih aku sama sekali nggak merasa ada beban. Genre kami beda, gaya bahasa buku-buku yang kami terjemahkan juga beda. Lagi pula orang2 mana tahu sih Nurkinanti Laraskusuma itu anaknya Gita Yuliani yang nerjemahin Lord of the Rings. :p Kalau ada yang tahu kalau buku-buku yang mereka baca itu diterjemahin aku aja udah syukur. :) )

Aku dan ibuku kerja di satu ruangan dan suka saling bertanya kalau ketemu kata/frasa tertentu. Aku masih suka dapat kerjaan dari kenalan-kenalan di biro iklan dan kalau nggak ada waktu aku alihkan ke ibuku. Jadi yah, kami malah seperti partner kerja, saling mendukung dan bekerja sama.

Soal ketertarikan untuk menerjemahkan novel sastra India, tertarik sih… dan bukan khusus India, melainkan Asia secara umum. Tapi nanti aja deh, kalau anakku udah besar dan waktuku lebih banyak. :D

9. Apa tips Lala untuk menerjemahkan chicklit?

– Gunakan bahasa sehari-hari, itu jelas. Khususnya untuk bagian-bagian dialog. Coba dibayangin atau kalau perlu diucapkan sendiri, bikin lidah gatel nggak ngomongnya? Kalau masih gatel ya ganti. :p
– Jangan pilih kata/frasa bahasa Indonesia yang untuk mengertinya aja masih harus buka kamus Bahasa Indonesia lagi. :) )
– Meng-update diri dengan istilah2 gaul/populer Indonesia karena bisa jadi diperlukan untuk padanan kata. Tapi juga jangan istilah yang hanya sekejap populernya karena bisa jadi buku yang kita terjemahin dibaca sama orang 10-20 tahun yang akan datang dan mereka gak akan ngerti maksudnya.
– Jangan takut ngarang istilah. Be creative. Contoh: dapat buku yang terus-menerus menggunakan istilah “hopeless romantic”, akhirnya aku ajukan istilahnya jadi “romantis kronis” karena nggak mungkin sepanjang buku istilah itu dijabarkan, bukan dipadankan. Ternyata disetujui dan malah dipakai juga di judul bukunya. :)
– Sering-sering nonton TV, film, denger musik populer karena sering ditemukan referensi tersebut dalam buku-buku chicklit. Dalam beberapa kasus aku pernah mandeg gak nemuin arti/maksud/padanan kata, trus kebetulan nonton TV nemu jawabannya. :) )
– Jangan serius2 amat baca tips ini. Hahaha. Seriously, chicklit itu harus dibawa santai nerjemahinnya. Kalau kelewat serius jadi kaku. Jadi kalau nggak suka ketawa, atau sulit mendapati lucunya suatu situasi, baik dalam buku maupun kejadian sehari-hari, aku saranin sih jangan nerjemahin chicklit. :) )

Wawancara yang mengesankan, cerita-cerita seru dan renyah seperti halnya membaca chicklit itu sendiri. Terima kasih banyak, Lala, sungguh sangat bermanfaat:)


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)