Obsesi

Penulis: Lexie Xu

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tebal: 240 halaman

Cetakan: ke-4, September 2011

 

Seorang ibu sepuh yang gemar sekali membaca mengatakan bahwa buku-buku lokal terlalu cepat dituntaskan, alias lekas tamat di tangan beliau. Bagi saya pribadi, buku lokal adalah penyegaran. Tentu perlu berhati-hati memilih genre dan saya menjatuhkan pilihan pada fiksi remaja satu ini, kendati penulisnya bukan lagi remaja.

Saat ketegangan meningkat pada halaman-halaman awal, saya bersorak. Terharu, tepatnya. Apalagi buku ini sudah cetak ulang dalam jumlah cukup signifikan, pertanda remaja dan konsumen buku Indonesia masih menaruh minat pada genre thriller. Tidak seperti yang saya khawatirkan. Bukan berarti saya memandang rendah romansa dan persahabatan, drama serta topik lainnya, akan tetapi bolehlah jika ditinjau dari selera pribadi, saya merasa tidak ‘kesepian’. Toh, pengamatan saya pada beberapa buku remaja atau pra remaja yang pernah saya sentuh menunjukkan indikasi ketertarikan ke arah thriller dan sejenisnya.

Lalu mengapa buku remaja? Memang selalu ada kecemasan (jika tak hendak menyebut ‘rintangan’) bahwa jurang generasi tercipta sehingga saya tidak bisa menikmati buku-buku yang diperuntukkan mereka yang lebih muda. Tapi kalau saya bisa mengonsumsi cerita anak, saya optimis bisa mengerti fiksi remaja kontemporer. Dalam arti bukan melulu bernostalgia romantis dengan buku remaja baheula yang tentu kurang menarik di mata remaja sekarang.

Bumbu romansa dan persahabatan menyemarakkan kisah Jenny-Hanny-Markus-Tony ini. Saya langsung tersedot sedari mula, mengidentikkan diri dengan Jenny. Tinggal di rumah yang dicurigai berhantu? Bukan hanya sekali, lengkap dengan insiden-insidennya. Peralihan sudut pandang antara Hanny dan Jenny yang mulus ditambah penokohan yang ‘adil’: Jenny yang pendiam tapi pintar serta Hanny sahabatnya yang cantik tapi terseok-seok dalam pelajaran meski tak parah benar menambah nilai plus. Dialog yang cair, renyah, membuat saya tergelak berkali-kali dan tak bisa meletakkan buku ini, bahkan membalik halaman terus sampai selesai. Sedikit saja saya mengerutkan kening, perihal anak-anak SMA yang berpelukan di sekolah. Terus terang ingat sebuah film remaja beberapa tahun silam.

Klimaksnya patut diacungi jempol. Beberapa kejutan terkait motif seorang karakter (tak usah saya sebut siapa), pengungkapan sesuatu yang membuat saya lumayan sedih, dan… penutup yang cerdik, menggiring saya untuk langsung melanjutkan ke buku keduanya.

Karakter favorit saya: Markus.

Skor: 3,5/5


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

2 Responses to “ Obsesi (Johan Series #1) ”

  1. gravatar Lexie Reply
    January 28th, 2012

    Thank you ya, Mbak Rini, buat review-nya yang bagus banget! Boleh nggak aku pasang link-nya di website-ku? Thanks sebelumnya! ^^v

    • gravatar admin rinurbad.com Reply
      January 29th, 2012

      Sama-sama, Mbak Lexie. Tentu saja boleh, silakan ^_^

Leave a Reply

  • (not be published)