Sumber foto

I love you, Dexter. Very much. I just don’t like you anymore. I’m sorry.”

Bisakah sebuah persahabatan bertahan? Berapa lama seorang wanita dapat menyimpan perasaannya kepada seorang pria yang telah tahu bahwa ia menaruh hati sejak lama?

Tidak mudah mengolah konsep drama romantis yang masih digemari penikmat film berbagai usia sekaligus berusaha menghadirkannya semudah mungkin dicerna. Persahabatan antarlawan jenis yang berbau hubungan fisik sudah muncul dalam Friends with Benefit dan No Strings Attached, barangkali dalam bahasa anak muda beberapa tahun lalu disebut Hubungan Tanpa Status (HTS). Tapi Emma Morley (Anne Hathaway) memang naksir teman sekampusnya, Dexter Mayhew (Jim Sturgess) yang memesona. Tahun demi tahun berganti, mereka bersahabat dan bertemu orang lain. Masing-masing punya karier, kendati tidak bisa dibilang beruntung.

Mengapa demikian? Dexter memang terkenal dan sukses menjerat banyak wanita, namun profesinya sebagai presenter TV tayangan tengah malam mengundang cemooh serta keprihatinan. Emma memilih pekerjaan karena harus bertahan hidup, kendati Dexter tahu ia memendam bakat menjadi penulis. Porsi cerita lebih banyak diteropongkan pada Dexter.

Yang membuat film ini istimewa, bukan sekadar upaya menahan hati, cemburu, flirting dan sejenisnya antara dua orang dewasa. Emma dan Dexter, dengan persahabatan mereka, berjuang menjalani hidup dengan problematikanya. Irisan waktu yang beralih terasa pas, tak banyak kata ‘hambur’, cukup ekspresi guna menunjukkan sesuatu yang terjadi. Terutama yang menyedihkan. Mungkin bisa dikatakan, One Day cocok untuk kita yang jemu berlinang air mata berlama-lama, mengajari kita tersenyum akan kecerobohan sendiri dan belajar dari kesalahan kemudian bangkit. Konflik persahabatan serta antarpasangan juga disuguhkan dengan baik. Saya juga tertegun ketika seseorang (kalau disebutkan akan jadi spoiler) berkata, “Those who can, do. Those who can’t do, teach.” Di samping itu, kalimat yang saya sukai adalah, “Now I worry you’re not very nice anymore.”

One Day tidak terjebak menjadi klise. Pesannya sangat kentara, hidup harus berlanjut, dan pasti ada maknanya. Ada orang yang membutuhkan kita di sampingnya.

Jim Sturgess sukses ‘bermetamorfosa’ setelah kesan ringkihnya di film The Other Boleyn Girl, dan Anne Hathaway naga-naganya menjadi ratu drama romantis (mungkin komedi romantis juga?) di mata saya.

Skor: 4/5

 

 


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

4 Responses to “ One Day (2011) ”

  1. gravatar Nurchasanah Reply
    January 29th, 2012

    hehehe ini jg … segera mencari ke lapak dvd bajakan atau …. 😀

    • gravatar admin rinurbad.com Reply
      January 29th, 2012

      Hahaha… aku lagi dengerin salah satu OST-nya yang dinyanyikan Robbie Williams.

  2. gravatar selviya Reply
    January 30th, 2012

    Kalau gak salah, ini diangkat dari novel ya Mbak? Btw aku suka banget Jim Sturgess setelah nonton The Other Boleyn Girl.Cakep banget, haha 😀

    • gravatar admin rinurbad.com Reply
      January 30th, 2012

      Kata Linda iya, Selvy. Aku malah nggak ngeh ada novelnya:)

Leave a Reply

  • (not be published)