Kedua istilah ini saya temukan ketika membaca buku Hurufontipografi untuk kedua kalinya. Sebenarnya, kedua kasus tipografi ini sering saya temui sewaktu mengetik apa pun. Memang sama-sama tidak enak dipandang.

“Orphan” berarti baris pertama paragraf terpenggal di akhir halaman. Contohnya seperti di bawah ini

 

Sedangkan “widow” artinya baris terakhir yang tersisa menggantung di halaman berikut. Contohnya seperti ini:

 

Yang kerap saya alami, baris terakhir ini “tertinggal” di halaman penutup bab. Jadi setelah kalimat terakhir itu, bawahnya kosong melompong. Makin tidak enak dilihat, sebab jika bagian kosong di bawah tersebut sampai tiga perempat pun masih tampak janggal.

Memang ini “urusan” setter, tapi saya pikir ada baiknya diketahui. Sependek pengamatan saya, penulis yang tidak mau hirau perkara orphan dan widow ini bisa jadi merepotkan editor dan tim pengolah naskah lainnya. Apalagi kalau orphan dan widow-nya ternyata banyak.

Ketika terlibat penyuntingan suatu waktu, saya harus menambahkan tulisan guna memperjelas suatu uraian. Meski tidak menghitung atau menaksir dulu, ada kepuasan tersendiri ketika tulisan yang hanya dua halaman itu selesainya pas di bagian yang tepat:)


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)