Dalam arahan penerjemahan dari penyunting, terdapat poin berikut:

  • Mencari padanan yang paling sesuai dengan bahasa sasaran.

Contoh:

Her eyelids rose and fell

Matanya mengerjap-ngerjap (bukan: Bulu matanya naik dan turun)

 

Ini selaras dengan poin lainnya, yakni:

  • Menerapkan logika berbahasa.

Contoh:

His brow is frowning

“Dahinya berkerut” bukan “alisnya berkerut”

His eyes roll

“Bola matanya berputar” bukan “matanya berputar”

 

Dampaknya dahsyat, karena saya mengingat banyak ekspresi yang masih terasa seperti terjemahan sekali dalam buku-buku yang saya baca, termasuk terjemahan sendiri karena saya juga menirunya. Contoh:

I allow my eyes to become used to the dim light

Acap kali ini diterjemahkan Kubiarkan mataku beradaptasi/terbiasa dengan keremangan.

Saya berdiskusi dengan Mas Agus dan Nur Aini, sempat membayangkan apa yang dilakukan orang bila tiba-tiba berada dalam gelap.

“Mengerjap-ngerjap?”

“Itu kalau silau,” kilah Mas Agus.

“Melotot?”

“Awalnya sudah terlihat, tapi ingin lebih jelas.”

“Menyipitkan mata?”

Kali ini Nui yang menukas via YM, “Sepertinya terlalu jauh kalau ditafsirkan begitu.”

Akhirnya saya pilih ‘menajamkan pandangan’. Jadilah terjemahannya Kutajamkan pandangan dalam keremangan.

Kemudian saya menemukan The fine lines yang berarti keriput, sering kali diterjemahkan ‘keriput halus’. Tanpa bermaksud menyalahkan penerjemah lain yang memilih ‘garis-garis halus’, saya mengalihbahasakannya menjadi ‘garis-garis tipis’.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

2 Responses to “ Padanan yang Logis ”

  1. gravatar Nadiah Alwi Reply
    December 7th, 2011

    Kutajamkan pandangan dalam keremangan. >> Like this! 🙂

    • gravatar admin rinurbad.com Reply
      December 9th, 2011

      Thank you, Nad:)

Leave a Reply

  • (not be published)