Masih banyak buku tersohor yang belum saya baca, jadi ini hanya menuliskan spontan beberapa sosok ibu yang saya ingat.

  1. Ibu dalam Dua Ibu-nya Arswendo. Dalam novel sederhana yang sangat membumi ini, ketabahan Ibu membesarkan anak-anak yang bukan darah dagingnya kemudian melepaskan mereka ketika tiba waktunya sungguh luar biasa.
  2. Ibu dalam For One More Day-nya Mitch Albom. Semakin membuat saya paham bahwa orangtua tunggal yang dipandang dengan cibiran dan digosipkan bukan hanya ada di Indonesia.
  3. Marmee (Little Women dan Kapten March). Membesarkan empat anak dengan karakter berlainan serta jauh dari suami sungguh tantangan yang tidak mudah.
  4. Nyonya Erroll, ibu Ceddie (Little Lord Fauntleroy). Walaupun dibenci mertua, dia tidak menghasut anaknya membenci sang kakek.
  5. Kate Cold (seri Eagle and Jaguar-nya Isabel Allende). Nenek nyentrik yang tangguh, cerdas, dan sangat memperhatikan cucu.
  6. Ibu Temujin yang saya lupa namanya (Wolf of The Plains). Saya terkesan oleh kemampuannya bangkit serta bertahan hidup ketika sepeninggal suami, dibuang di hutan bersama anak-anaknya yang masih kecil.
  7. Sophie (Snowfall at Willow Lake). Problematikanya yang cukup kompleks membuat saya banyak belajar.
  8. Kay Bawden (The Casual Vacancy). Semua ibu dalam novel itu menghadapi masalah membesarkan anak yang beranjak remaja dan segala “keunikannya”. Namun saya paling bersimpati pada Kay sebagai wanita, terutama di adegan paling tak terlupakan: makan malam bersama Gavin di rumah Samantha.
  9. Ibu Anastasia Krupnik. Saya lupa persisnya bagaimana kata-kata wanita ini sewaktu menjelaskan pilihan profesinya dan suami kepada Anastasia. Kurang lebih, “Kami memang tidak kaya, tapi aku cinta pekerjaanku.”

Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)