Sumber: flixster

Sewaktu baru dipecat dan masih menyesuaikan diri dengan hari-hari yang kosong setelah berkarier sekian lama, apa yang harus dilakukan ketika mendadak anak menelepon dan minta bantuan menjaga cucu selama seminggu? Artie Decker (Billy Crystal) enggan, tapi istrinya Diane (Bette Midler) mengiyakan penuh semangat. Mereka lama sekali tidak bertemu cucu-cucu sampai Artie butuh bantuan Diane untuk menghafal nama ketiganya.

Di lain pihak, putri mereka sendiri, Alice (Marisa Tomei) berat hati memercayai keduanya. Terkuaklah masalah klasik kakek-nenek vs ibu-ayah: perbedaan aliran pengasuhan. Klise penyebabnya, jurang generasi. Saya bisa bayangkan betapa ruwet Artie dan Diane menghafal aturan seperti tidak memberikan makanan manis, berupaya keras menghindari “no” dan “don’t”, serta yang paling berat: menganggap ada teman khayalan si bungsu Barker, yang bernama Carl si kanguru.

Menghadapi karakter tiga anak itu sendiri sudah cukup menantang. Sungguh khas potret kebanyakan keluarga masa kini dengan aneka “gejala” yang tak terpikirkan di zaman dulu. Si sulung yang dicap terobsesi berprestasi sehingga emoh bersenang-senang dan memaksa diri berlatih biola setiap hari. Si tengah yang gagap sehingga harus ikut terapi bicara dan dibully di sekolah. Lalu si bungsu yang menyebut kakeknya “Farty”, susah duduk tenang, dan mengamuk jika makanannya disentuh orang lain.

Sungguh, film ini menghangatkan hati. Sependek pengetahuan saya, belum banyak yang menyorot sudut pandang para kakek dan nenek secara utuh. Mulai dari “persaingan” dengan besan karena merasa dianggap the other grandparents, upaya mengakrabkan diri dengan cucu berikut perangkat teknologi yang asing, pola asuh yang rumit dan ketat lagi membingungkan, disalahkan anak sendiri dan merasa tidak dipercaya, sampai rasa malu Artie untuk menceritakan pemecatan pada putrinya. Dia bahkan tertekan karena tidak boleh memarahi cucu, sebab bilang “tidak” saja tak boleh. Sama sekali.

Sungguh, saya tahu rasanya… Dititipi tapi diberi beban sebongkah. Seperti memegangi kuning telur yang tak boleh rusak, serbawaswas dan takut salah sedikit saja. Padahal ternyata “sistem” Alice dan suaminya memiliki cela. Mengajarkan cara hidup sehat bukan berarti boleh membohongi anak.

Sementara itu Diane menaruh harapan, “You know what grandparenting means? Second chance.” Adegan favorit saya ketika Artie membawa Barker ke toilet umum namun si bocah kesulitan buang hajat, sepertinya unsur psikologis. Demikian pula sewaktu Diane menasihati Alice yang mengulur-ulur waktu menyusul suaminya karena mencemaskan anak-anak.

[sws_blockquote_endquote align=”” cite=”” quotestyle=”style01″] “I know you want to be a perfect mother, but there’s no such thing. After your kids grow up… Your husband is the one who stays!” [/sws_blockquote_endquote]

Tentu saja yang paling mengharukan, ketika Artie mengobrol hati ke hati dengan Alice. Silakan tonton sendiri.

 

 


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)