Sewaktu cuci mata alias tidak belanja pun, banyak hal yang saya amati di toko buku. Saya sudah jarang sekali mendatangi toko besar yang genre bukunya sering diletakkan di rak tidak relevan itu, sebab lokasinya di tempat-tempat yang tidak bersohibi untuk warga kabupaten seperti kami dan lahan parkirnya pun demikian. Terakhir kali ke sana, hanya di ruang obralan dan tidak masuk bangunan utama.

Di salah satu toko besar langganan para pelajar sejak saya masih SD dulu, memang tidak terlalu nyaman. Lorongnya kecil, rak serbatinggi berhadapan. Namun di sanalah, ketika antre kasir, saya melihat sesuatu yang menarik. Para pegawainya benar-benar mengobrol tentang buku, membaca yang berderet di dekat kasir itu. Bahkan kemudian salah seorang menunjuk, “Coba sini, mau lihat itu… Bertanya Kerbau Pada Pedati.” Sungguh menyenangkan karena ada tim pedagang yang mengakrabi produknya, tidak sekadar memajang dan menjual.

Mengamati pengunjung sudah pasti termasuk hobi iseng saya. Memperhatikan rak atau jenis buku yang dikerumuni remaja atau pelajar, misalnya (ketahuan karena masih pakai seragam). Saya jadi percaya kata-kata anak tetangga yang menyukai Surat Kecil Untuk Tuhan, lalu menyarankan saya nonton filmnya, karena pernah melihat sendiri dua gadis cilik usia SD bilang pada ayah mereka, “Beli ini ya Bi, bagus. Sedih ceritanya, dari kisah nyata.”

Berlama-lama di sebuah toko buku yang populer akan diskonnya belum lama ini dikarenakan antara lain musik yang diputar di sana. Para pegawainya menata buku dengan santai, sesekali membantu pengunjung yang bertanya, dari hasil nguping saya belajar membaca informasi dan mencari rak yang dinomori. Mungkin harus begitu juga sistem rak di rumah, sayangnya saya hobi sekali pindah-pindahkan posisi buku. Sembari mencari di rak sejarah, saya ikut manggut-manggut menyanyi lagu lama Boomerang dan beberapa lagu Creed.

Di ruangan lain, saya pernah mendengar beberapa pegawai melakukan semacam permainan. Bukan jenis obrolan yang ketawa-tiwi mengganggu pengunjung dan terkesan tidak profesional, tentunya. Mereka membahas satu seri fantasi, yang amat terkenal dan laris sampai-sampai ada poster besarnya di dinding depan toko. Bergantian menyebut judul-judul yang termasuk seri itu berurutan, wow kagum deh saya:)

Saya juga salut pada kesabaran penjaga penitipan yang sekaligus mencatat pengunjung di dekat pintu masuk. Ada anak usia balita yang mondar-mandir di puteran (entah apa namanya), dia hanya memandangi sambil tersenyum. Padahal saya sudah mau marah ketika ada anak sepantaran SD mendorong saya ketika akan pindah ke deretan buku lain. Berhubung anak-anak, saya diamkan saja kemudian memperhatikan buku yang dihampirinya. Kalau tidak salah berjudul Jakarta Kota Hantu. Hmm, menarik untuk dicatat.

 

[sws_single_pin_it]

[sws_linkedin_button]

[sws_facebook_share]

[sws_tweet_button]

[sws_related_posts]

 


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

2 Responses to “ Pasang Mata dan Telinga di Toko Buku ”

  1. gravatar uci Reply
    April 8th, 2013

    Wah, ponakanku yg kelas 3 juga baca jakarta kota hantu. Buku itu ngetop ya rupanya…

Leave a Reply

  • (not be published)