path

Sebenarnya ini bukan kali pertama saya menggarap buku terbit ulang, baik sebagai penyunting maupun penerjemah. Sama-sama seru dan menambah ilmu, bila buku tersebut pernah terbit secara independen, di penerbit yang lain, atau penerbit yang sama.

Saya tidak terlalu memperhatikan jarak penerbitan ulang tadi dengan yang sebelumnya. Semula tugas ini ditawarkan kepada Mas Agus. Setelah bincang-bincang dengan Icha selaku penanggung jawab dan menyatakan ketertarikan (serta dikarenakan kesibukan Mas Agus), saya dipercaya menggarap penyuntingan buku ini. Satu hal yang saya ingat, Icha bilang waktu itu, “Kirain Teh Rini cuma minat sama fiksi.” Oh, tentu tidak😀

Yang bikin saya langsung menyatakan minat adalah pengalaman membaca buku Pak Komaruddin Hidayat, Psikologi Kematian, yang amat mengesankan. Saya terngiang terus anjuran beliau supaya “rumah sakit” menjadi “rumah sehat” saja, dijadikan ruang aktivitas pemberdayaan lansia, penyuluhan pencegahan sakit. Belum lagi pemikiran beliau yang saya sependapati, betapa kita kadang harus sembunyi-sembunyi ketika sakit atau opname. Pasalnya, meski berniat baik, tidak jarang penjenguk kurang mengerti bahwa pasien membutuhkan istirahat. Sampai-sampai ada kasus orang sakit yang mengaku hendak berlibur ke luar kota, padahal dirawat inap.

Oret-oretan koreksi

Selanjutnya, diskusi penggarapan yang berlangsung selama hampir satu bulan sangat mengasyikkan. Saya pernah mengerjakan kumpulan tulisan beberapa kali, demikian pula antologi. Untuk buku terbit ulang, triknya berbeda. Perlu diupayakan agar wajah dan konten menjadi sesegar mungkin. Icha mengirimi saya daftar isi versi lama (bukan main rapinya dokumentasi penulis). Rombak pembagian bab, tata ulang daftar isi, ada pula pengecekan isi tulisan yang sebagian mengandung data-data dan angka tahun serta perlu diperbarui. Dengan sendirinya, judul tulisan pun diubah meski tidak selalu perlu dilakukan.

Belakangan, untuk kepentingan “wajah baru” ini, editor lepas lain digaet menggabungkan beberapa artikel baru karya penulis. Ini kabar menyenangkan buat saya, artinya buku Path of Life tidak semata-mata “ganti riasan”. Idealnya buku terbit ulang memang begitu, ada tambahan dari penulisnya sendiri yang lebih relevan dengan kekinian. Terlebih karena perombakan ini, tetap saja saya siwer. Icha sempat menanyakan satu tulisan yang tertinggal disetor gara-gara judulnya mirip dengan beberapa tulisan lain. Untungnya hanya satu. Supaya pembaca tidak mengira tulisan itu sama saja dengan artikel lainnya, saya ubah sekalian judulnya. Alhamdulillah disetujui:)

Saya dimintai usulan judul. Waktu itu saya sarankan Merayakan Festival Kehidupan. Namun tidak dipakai, dugaan saya agar senada dengan buku Pak Komar yang terbit lebih dulu yakni Wisdom of Life.

Masih terkait teknis penyuntingan, saya senang sekali karena:

  1. Usulan subjudul/penggantian judul artikel 99% dipakai. Ada yang saya pendekkan, tapi dipanjangkan lagi:D
  2. Usulan kutipan dipakai semua. Contohnya di bawah ini.

Tulisan Pak Komar di buku ini bervariasi. Ada yang agak berat, tapi ada juga yang personal sekali dan bikin manggut-manggut. Berikut salah satu favorit saya, mengenai kesehatan dan penyakit:

kutipan KH

Seperti buku Psikologi Kematian, beliau masih membahas datangnya maut juga. Menurut saya ini penting diulang-ulang dengan cara penyampaian berbeda, supaya pembaca (dalam hal ini saya) ingat mati selaku hal paling pasti. Pak Komar menuturkannya dengan puitis dan menyejukkan:

Kita bertemu teman sejati di perempatan jalan kehidupan, berjalan secara pasti sambil menikmati taman dunia, melangkah menuju kampung ilahi bertemu Tuhan Sang Kekasih.

Icha sendiri mengaku paling menyukai Work is Where You Play.

daunBeberapa bagian buku ini, terutama menyangkut hubungan orangtua-anak dan anak tersebut sudah jadi orangtua juga, sempat saya ceritakan pada kakak di Jateng dan memicu diskusi agak sengit. Ajaibnya, desain sampul Path of Life senapas dengan foto daun yang saya bidik di makam Bapak dua bulan lalu.

 

 


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)