Dua tahun yang lalu, saya mengikuti tes menerjemahkan komik Prancis di penerbit MnC! ini melalui e-mail. Bagi kebanyakan lulusan Sastra Prancis yang akrab dengan komik sebagai salah satu materi kuliah, barangkali ini semacam impian yang menjadi kenyataan. Setelah dinyatakan lulus, saya dikirimi bahan berupa hasil fotokopi yang harus dinomori balon-balonnya sesuai urutan teks dalam hasil terjemahan.

Karena berkas itu harus dikembalikan, saya tidak bisa mengutip kalimat sumbernya di sini.

Tenggat untuk setiap naskah hanya dua minggu, tapi alhamdulillah koneksi tidak bermasalah meski saya harus bekerja sampai malam dan mencari-cari kontak komikusnya. Seperti pada umumnya seniman Prancis, Mauricet relatif tidak mudah ditemukan karena tidak ‘ngeksis’ di dunia maya. Jadilah saya harus bereksplorasi sendiri sembari berkomunikasi dengan editor. Salah satunya urusan putar otak menerjemahkan nama yang sebisa mungkin lucu. Jujur, lucu adalah beban terberat untuk saya.

Menerjemahkan komik hampir sama dengan pictorial book, sedapat-dapatnya tidak makan tempat dan muat di ruang yang tersedia yakni balon kata. Kocaknya, karena tampilan cover seperti di atas, anak-anak sering kali tertarik sehingga sahabat saya yang satu ini harus bersusah payah menyembunyikan bukunya dari sang putra semata wayang:D


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)