minggu

“Enaknyaa, bisa rebahan,” kata seorang teman yang bekerja kantoran ketika tahu saya baru bangun tidur siang.

Ketika baru menjadi freelancer (lagi), saya sering tersinggung oleh ucapan semacam itu. Kadang terpikir berkata, “Enaknyaaa nggak boleh rebahan.” Namun komentar yang demikian, sering kali sambil lalu, sampai kapan pun akan tetap ada. Padahal semasa saya ngantor, tetap bisa rebahan sejenak kalau mau… di mushala. Terlepas dari enaknya tidur siang, bukan hanya itu alasan saya menjadi freelancer.

Tidak perlu tergesa-gesa bangun pagi di hari kerja agar tak terlambat dan terjebak macet memang sangat saya syukuri, namun tidak mengurangi rasa hormat kepada mereka yang bekerja kantoran. Ini dalam arti luas, tentu saja. Bukan “golongan menengah ke atas” dalam arti jabatan manajer dan sebagainya.

Sepengamatan saya, kantoran zaman sekarang sudah tidak terpaku dengan jam kerja 8 pagi sampai 4 sore. Kalau ada rapat, bisa pulang larut malam. Kadang-kadang lembur di akhir pekan atau tugas ke luar kota. Di musim penyusunan laporan, adik saya sering menginap di kantor karena dia tidak suka membawa PR pulang.

Kembali ke soal macet, yang sepertinya sudah jadi makanan sehari-hari warga sejumlah kota. Tanpa pandang bulu, semua kena efeknya. Saya kagum sekali pada tetangga yang bekerja di toko komputer nun jauh di utara sana, padahal kawasan kediaman kami di timur. Ia harus berangkat jam setengah tujuh naik motor dan pulang tiap hari pukul sepuluh malam, karena menunggu toko tutup. Tanggal merah bukan berarti libur. Kurir langganan bercerita, kendati area yang menjadi tanggung jawabnya “hanya” satu kecamatan, ia pulang paling cepat pukul sembilan malam. Kadang hari Minggu masuk, agar tumpukan barang lekas berkurang dan pelanggan tidak menunggu lama.

Keduanya belum berkeluarga, memang, meski lajang tetap punya hak merasa lelah. Ada lagi yang berkantor di perbatasan kota (Cimahi). Sebelum ke kantor, bapak ini mengantar dulu putrinya yang bekerja di pabrik sekitar pukul lima pagi. Paling lambat setengah enam. Pulang lagi, berangkat pukul setengah tujuh. Kalau kemacetan sedang luar biasa atau turun hujan sehingga jalur bawah kebanjiran, ia baru sampai rumah sekitar pukul delapan. Pukul sembilan mengantar lagi putrinya kalau shift malam.

Bapak ini jarang sekali sakit. Tetapi sewaktu anak bungsunya bersekolah cukup jauh dari rumah, beliau berbagi tugas dengan sang istri untuk antar-jemput si bungsu. Antar-jemput si sulung tetap dilakukan sendiri. Di sinilah terbantahkan perkataan sementara orang (yang paling tidak saya sukai) jika suami bekerja kantoran sedangkan istri di rumah dan/atau bekerja di luar juga, “Laki-laki sih pulang kerja bisa langsung tidur, nggak peduli rumah acak-acakan. Perempuan mana bisa begitu.”

Dalam keluarga perlu dipupuk toleransi dan saling menghargai antara dua profesi berbeda ini. Bila tidak dibiasakan, dalam lingkup yang lebih luas pun akan terjadi ketidakharmonisan dan lebih parah lagi, persaingan tidak sehat. Saya pribadi belajar dari pekerja lepas yang lain, di antaranya tetangga yang pekerja bangunan, mengeluh tidak akan membuat kita “eksis”. Dimengerti atau tidak, profesi kita dianggap lazim atau tidak, yang penting kita bekerja sebaik mungkin. Ibarat mencari barang terselip, biasanya dapat ditemukan lebih mudah jika mencari dengan mata, bukan mulut.

Sudah bukan zamannya freelancer mencari pengakuan. Tunjukkan saja dengan karya.

 

Mencoba Bertoleransi

Dalam salah satu buku, saya pernah menulis seperti berikut dalam Kata Pengantar:

Buku yang ditulis pada tahun 2003 ini tidak bertujuan memprovokasi, membujuk, menghimbau, atau mengajak mereka yang sudah merasa nyaman dalam kemapanan dan karier di bawah bendera perusahaan untuk meninggalkannya, melainkan buah pikiran yang memuat berbagai pengalaman dan seluk-beluk dunia kerja independen serta diharapkan dapat memberi semangat pada mereka yang menggelutinya.

Saya ingin membahas pentingnya membiasakan toleransi ihwal dua profesi berbeda ini. Mulai dari keluarga sebagai satuan masyarakat terkecil. Sependek pengetahuan saya, bila sudah sangat berakar dari keluarga, tidak akan terlalu “goyang” di lingkungan yang lebih besar.

Hobi membanding-bandingkan, yang acap kali menimbulkan persaingan tidak sehat, memang sifat manusia. Bukan hanya berlaku di kalangan freelancer terhadap pekerja kantoran dan sebaliknya. Sesama freelancer pun bisa dilanda kecemburuan sosial. Ada saja yang berkata, “Dia sih job-nya rutin lancar, sudah kayak langganan.”

Sebenarnya di situ mengandung pujian, ya nggak?:))

Atau ada juga yang protes frontal, “Kok dia boleh panjang deadline-nya, saya nggak?” Dan sebagainya. Selalu ada kalau mau mencari-cari.

Semasa kantoran, saya juga menemui kesukaran menjelaskan pekerjaan. Seperti dalam postingan Ayu, pertanyaannya, “Kerja di mana?” Tetangga yang bertanya di angkot saat itu tampak bingung sewaktu saya jawab, “Di perusahaan IT.” Memang dulu bidang IT belum terlalu populer. Namun saya tidak merasa “sendiri”. Sampai sekarang masih banyak orang tidak mengerti perbedaan psikolog dan psikiater, juga sales dan marketing.

Salah satu yang kerap dipermasalahkan adalah fleksibilitas. Pekerja lepas terkesan santai, bisa nongkrong-nongkrong di kafe sambil bekerja kalau mau, tidak perlu mengeluarkan uang terlalu banyak untuk busana resmi. Ini tidak seratus persen benar. Ada freelancer yang pe-we-nya kerja di rumah. Nongkrong di luar lebih cocok untuk ngobrol dan menikmati suasana. Biasanya karena mudah terdistraksi, seperti saya. Pembicaraan dipotong setengah menit saja saya langsung lupa, apalagi kerja di tempat yang hilir-mudik. Kadang kala ini tetap diusahakan (baca: terpaksa), meski kepala-kepala yang melongok ingin tahu bikin risi dan saya harus memanis-maniskan senyum lalu bilang, “I love to work in silence,” seperti kata pengurus kebun binatang di film We Bought A Zoo.

Bukan soal kenyamanan saja memang, namun sifat konfidensial pekerjaan. Ada klien ghostwriter kami yang meninjau ulang pertemuan di luar rumah dan mengubah lokasi di tempat tinggal beliau saja. Di tempat ramai, mau tak mau harus mengeraskan suara sewaktu mengobrol. Proyek bisa bocor. Saya mengamini itu sebab cukup sering mendengar pembicaraan yang semestinya bersifat internal di tempat umum, tanpa bermaksud menguping.

Ihwal anggaran belanja untuk baju, juga tidak semua pekerja lepas bisa cuek. Ada yang memang dari sananya hobi berpenampilan necis, baik karena sudah karakter maupun akibat keharusan bertemu banyak orang, harus mempunyai pos pengeluaran khusus. Sewaktu ngantor dulu, asisten project manager dan desainer boleh memakai jeans serta bersepatu kets. Pustakawati dan pengajar di sebuah lembaga bahasa asing pun demikian. Jadi tetap relatif.

Masalah jam kerja, rasanya banyak orang tahu bahwa freelancer bukan berarti berleha-leha. Kenalan saya yang narik ojek misalnya, setengah hari memang sudah pulang. Tapi dia mulai pukul lima pagi, mengantar langganan ke pasar. Separuh hari digunakan untuk pekerjaan lain, lebih-lebih jika pendapatan ojeknya minim hari itu. Tak berbeda dengan pegawai kantoran yang menempuh perjalanan jauh kemudian sesampai di rumah mencicil cucian dan setrikaan, atau menjaga anak sehingga baru tidur larut malam.

Perkara cuti pegawai yang “cuma” (rata-rata) 12 hari bisa jadi pemicu tudingan sebal pada pekerja lepas yang mudah meninggalkan pekerjaan untuk jalan-jalan atau urusan keluarga. Sering-sering “bolos”, deadline freelancer bisa molor mengingat biasanya, usai liburan tidak bisa langsung melanjutkan kerja karena capek. Ini berisiko, kecuali kita bisa mengelola energi dengan baik. Jadi sebenarnya sama dengan pekerja kantoran yang menantang “bahaya” terkait kinerja dan penilaian bila kerap tidak masuk atau terlambat.

Pendapatan

“Enak ya kamu, punya tunjangan dan bonus,” omel seorang freelancer kepada seorang pekerja kantoran.

Sekadar gambaran, mengurus tunjangan pengobatan sungguh memakan waktu. Banyak dokumen harus diisi, tempat yang didatangi, orang yang perlu dihubungi. Setiap tahun peraturan berubah, di masa perampingan wajar ada bantuan yang dikurangi. Memang lumayan dan tetap sepadan. Namun saya yakin, orang kantoran yang punya fasilitas bantuan pengobatan pun tidak ingin sering-sering ke dokter apalagi opname. Apa enaknya sakit?

Dalam hal pendapatan, tidak jarang pekerja lepas dan kantoran sama-sama tidak punya standar tetap. Sekitar 13 tahun silam, saya diberitahu bahwa patokan UMR (dulu belum UMK) untuk lulusan S1 adalah sekian rupiah. Saya tidak langsung memperoleh nilai itu ketika bekerja, karena tak punya pengalaman. Seiring dengan waktu, performa, dan kenaikan jabatan bila ada, pendapatan dan lain-lain akan bertambah. Idealnya demikian.

Pekerja lepas sama saja. Walau tahu “harga pasaran”, contohnya, menentukan nilai kompensasi atau honor tidak bisa main gebuk. Banyak sekali aspek perlu diperhatikan. Semisal penerjemah buku. Umumnya tiap penerbit memberlakukan kenaikan honor setelah penerjemah mengerjakan beberapa buku, asalkan kinerjanya baik dan memuaskan. Mengutip Krismariana, sewaktu mengajukan kenaikan pun harus lihat-lihat situasi. Dengan cara tertentu, katakanlah ketika kita sudah akrab dengan klien, kita cari tahu kalau-kalau penerbitnya mengalami kelesuan finansial. Pada masa seperti itu, tentu tidak bijak meminta kenaikan.

Bahan “kesirikan” lain ialah fasilitas. Bekerja kantoran berarti mendapat peralatan dan adakalanya, koneksi internet. Ada masalah, tinggal minta tolong ke bagian IT. Namun saya yakin semua pegawai sadar (kalau praktiknya, tergantung individu bersangkutan) bahwa berlama-lama online di luar keharusan dan melebihi kebutuhan tugas bisa mencelakakan penilaian kinerja. Freelancer memang harus mengorek dompet sendiri untuk keperluan ini, karenanya tak salah menjadikan kemandirian itu suatu kebanggaan secara proporsional. Toh sama saja, kalau kita berlarut-larut online, pekerjaan bisa terbengkalai. Lantaran biaya perbaikan bisa mahal jika mondar-mandir ke reparasi, belum lagi ongkos transportasinya, kita jadikan pecut untuk belajar menangani sendiri. Setidaknya yang mendasar.

Memelihara kecemburuan sosial tak akan ada habisnya. Demi mengamankan pergaulan dan ketenteraman bersama, kedua belah pihak perlu menjaga batas-batas berkelakar. Ada kerabat pekerja kantoran yang sedapat mungkin menghindari pembahasan pensiun di depan para pekerja lepas. Bila masih ada pertanyaan terlontar akibat “keanehan” profesi kerja rumahan, saya kadang memakai selorohan, “Saya kan pertapa profesional.”

 

Perkara Libur

Ketika menulis ini, saya sedang terharu. Anak perempuan tetangga kami, yang pekerja lepas, akan mengikuti training di luar kota. Program sekolah yang tidak memungut biaya, namun setidaknya anak itu memerlukan sedikit bekal. Berhubung ayahnya baru memulai satu proyek dan belum dibayar, tetangga lain yang bekerja kantoranlah ikut urunan membekali anak tersebut.

Warga sekitar, walau tak semua, cukup memaklumi pekerjaan kami. Apabila suami harus rapat RT sampai malam dan beberapa hari berturut-turut misalnya, ada tetangga bilang, “Jangan sampai kerjaanmu telantar lho.” Kadang jika suami masih di luar menjelang jam sembilan malam, salah satu tetangga menyuruhnya pulang. “Sudah waktunya buka kantor, Mas.”:))

Satu pertanda, kerukunan antara pekerja lepas dan kantoran sangat mungkin terjadi. Seperti halnya editor dan penulis yang “setara” serta tidak merasa lebih tinggi dari yang lain.

Beranjak ke pengalaman saya dengan orang marketing bank, ketika saya duduk-duduk menunggu suami di antrean teller. Bisa saja sih saya kesal karena diganggu, kendati ada rumus tenang “toh dia hanya menjalankan tugas”. Mau tak mau saya senyum-senyum menyaksikannya kebingungan menawari jenis tabungan apa sewaktu tahu kami berdua pekerja lepas dan belum punya anak. Kehabisan celah, mungkin. Saya enteng saja mengatakan punya rekening di bank lain, dan tidak marah karena toh dia sopan, tak memaksa.

Tidak sedikit orang kantoran yang memiliki pengertian terhadap dunia freelancer yang kadang berjam tidur jungkir balik. Salah satu kolega editor saya biasa menelepon ilustratornya siang-siang bila perlu, karena tahu rekanannya tersebut sering begadang dan masih tidur di pagi hari. Pernah juga saya ditelepon klien sewaktu tidur siang, untungnya sudah belajar dari suami untuk “menormalkan suara” sewaktu menjawab panggilan:))

Freelancer ada di mana-mana. Para pengemudi angkutan umum termasuk pekerja lepas menurut saya, hanya bidangnya yang berbeda. Namun orang kantoran perlu ada. Tak dapat dimungkiri perannya dalam kepekerjalepasan. Para editor in house, contohnya, merupakan relasi yang bekerja tetap. Dari tangan merekalah ada penunjukan pelaku proyek, penugasan berdasarkan kepercayaan, dan penilaian kinerja. Hebatnya, hampir semua memercayakan order tanpa perlu bertemu muka lebih dulu.

Begitu banyak tugas mereka, sehingga wajar saja memperoleh libur secara berkala. Tatkala editor yang biasa bekerja sama dengan saya mengundurkan diri, rasanya seperti memulai dari awal dan beradaptasi dengan editor yang menggantikannya. Persis perubahan tim kerja semasa ngantor.

Masih tidak puas karena jarang libur? Bayangkan bila semua orang di dunia ini ingin libur secara bersamaan. Contoh paling signifikan sudah ada, kemacetan membludak tiap mudik Lebaran. Di luar itu, bayangkan jika satu hari  saja semua pengemudi angkot, bus, taksi, pilot, penarik ojek, penarik becak, libur tanpa kecuali. Demikian pula pedagang sayur, bubur, pegawai supermarket, petugas parkir, pedagang di pasar, warung besar sampai kecil, bengkel, juru cat, jasa reparasi komputer, dan warnet.

Pasti repotnya bukan main.

Masih mengomel soal libur? Saran saya, tak usah jadi freelancer.

 

Empati dan Saling Mengerti dalam Keluarga

Tenggang rasa dalam keluarga, ketika anggotanya berlainan profesi, tentu menjadi contoh yang baik di mata anak-anak. Saya belajar dari seorang sepupu jauh agar mengenyahkan gengsi dan tetap percaya diri (tanpa berlebihan tentunya) ketika menyandang predikat pekerja lepas. Di rumah, beliau membangun ruang kerja khusus dan mengajarkan pada anak-anak bahwa “di situ kantor Papa dan Mama”. Bukan berarti tidak kelimpungan, dan itu masih terjadi setelah mereka menjalani bidang tersebut selama belasan tahun.

Di film-film Hollywood, cukup banyak karakter yang dikisahkan bekerja lepas. Penggambaran visual mestinya lebih membantu pemahaman ketimbang tulisan. Malah saya kian mantap menjadi freelancer setelah menyaksikan film Beethoven. Memang George yang berprofesi kartunis tengah terancam krisis sehingga bisa saja kehilangan rumah dan miliknya yang lain, namun itu menambah keasyikan dan daya tarik pekerja lepas di mata saya.

Di tahun pertama pernikahan, kami sempat mengalami “dua dunia”. Saya ngantor, suami bekerja lepas. Tanpa bermaksud sombong atau meremehkan pendapatan sendiri, justru karena suami yang baru merintis usahalah saya bisa sering main. Suami rapat dengan klien, saya jalan dengan teman. Mungkin itu yang disindir di masa sekarang I work, she shops. Secara rutin setiap gajian, saya mengajaknya kencan di tempat makan favorit kami. Justru dengan statusnya sebagai pekerja lepas, suami dapat menjemput saya dari kantor kendati kami belum memiliki kendaraan. Bukannya saya takut pulang sendiri, tapi rumah orangtua jauh dari kantor dan di atas jam delapan malam sudah tak ada angkutan umum ke sana.

Mengharapkan pengertian orang lain, meski keluarga sendiri sekalipun, memang susah-susah gampang. Baru tujuh tahun silam saudara-saudara memahami bahwa kami tidak bisa mudik Lebaran secara rutin. Saya masih ingat suatu malam takbiran, suami dalam perjalanan pulang dan ditelepon kakak apakah akan mudik. Sesuai pengakuannya, “uang saku” untuk bekal pulang itu baru diterima detik-detik terakhir hari tersebut. Segala rencana mundur, bahkan batal, sudah dianggap biasa sehingga kami jarang berjanji. Kali lain, Mas Ipar menelepon dan kaget karena suami masih di luar rumah sekitar jam tujuh malam. “Cari apa sih, kerjamu sampai begitu?” Padahal beliau juga bukan orang kantoran. Kami tertawa-tawa saja, menganggap itu tanda kasih sayang kakak kepada adiknya.

Mau tak mau, Lebaran jadi momen “sakral” bagi keluarga besar kami. Kalau kakak pulang, saya dan suami menyempatkan datang. Kadang menginap, kadang pergi-pulang, tergantung sikon. Yang penting ikut kunjungan keliling ke saudara dan yang dituakan. Ini semacam keharusan karena adik saya yang kantoran sudah mirip freelancer, liburnya hanya sehari. Harus diakui, pihak keluarga suami lebih bisa mengerti karena kebanyakan berwirausaha. Adik ipar pernah tidak bisa mudik karena ayam-ayam ternakannya baru bertelur.

Pasangan berstatus orang kantoran, terutama suami, acap dipandang “jaring pengaman” kendati tidak melulu soal finansial. Ibu perias saya ketika menikah dulu, menceritakan betapa pedih rasa kehilangan beliau tatkala suami berpulang. Pasalnya, suami beliaulah yang ikut repot di akhir pekan, khususnya di hari resepsi atau akad nikah klien.

Singkatnya, kekompakan itu penting. Tak perlu juga berkomentar, “Wah, saingan nambah nih,” jika kenalan atau saudara memutuskan mengundurkan diri dari kantor dan menjadi pekerja lepas seperti kita.

 

 


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

4 Responses to “ Pekerja Lepas dan Kantoran Sama Baiknya ”

  1. gravatar lulu Reply
    March 12th, 2013

    Malah, klo boleh geer, pekerja lepas mendingan daripada kantoran. Paling nggak, kita mengurangi kemacetan di jalanan… hihi

    • gravatar Rini Nurul Reply
      March 12th, 2013

      Kayak hari ini. Orang lain bikin macet di jalan raya, aku bikin macet di internet:p

  2. gravatar Ken Reply
    March 12th, 2013

    Betul, sama baiknya, kok. Yang tidak baik adalah ‘keterpaksaan’, misalnya pengin kerja kantoran eh, kok ya nggak dapet-dapet. Pengin kerja jadi free-lancer, apa daya nggak ada ketrampilan. Selama kita bisa memilih dan menyadari semua konsekuensinya, kerja kantoran atau freelance sama enaknya 🙂

    *Enaknya kerja kantoran itu: bisa nggosip sama teman di kubikel sebelah hahaha.

    • gravatar Rini Nurul Reply
      March 12th, 2013

      Betul, Ken. Pada dasarnya kerja apa saja sama-sama capek:))

Leave a Reply

  • (not be published)