Beberapa hari yang lalu kami bernostalgia, mengobrolkan pengalaman lucu dan seru yang ketika dijalani kadang memegalkan hati. Tapi sekarang kami dapat mengenangnya sambil tertawa geli.

Menurut saya, pekerjaan paling “aneh” yang pernah digeluti Mas Agus adalah mengecat kandang macan di kebun binatang. Itu tempat wisata yang cukup terkenal di kawasan kediamannya di kampung halaman. Pada dasarnya dia lebih terampil melakukan hal-hal yang membutuhkan kecermatan dan ketelitian, karena terlatih sabar. Suatu tahun, Mas Agus menjadi asisten pengetikan seorang dosen bahasa Inggris yang sudah sepuh. Saya hanya sanggup membantu membacakan tulisan tangan beliau yang bersambung. Namun mengetik ditunggui sang dosen, sambil melihat materi kalimat yang diuraikan itu saya angkat tangan deh:D. Sebelum kami menikah, saya pernah dapat hadiah ulang tahun berupa cermin berhiaskan kaligrafi doa berkaca buatan Mas Agus sendiri. Cermin itu masih ada di kamar, bingkainya sempat pecah lalu dia perbaiki lagi.

Untuk saya sendiri, yang “aneh” dan sulit dilupakan adalah menulis transkrip film. Waktu itu seorang bapak menginginkan anaknya belajar bahasa Inggris dengan metode audio visual secara mandiri sebelum diberangkatkan ke luar negeri. Order menulis transkrip ini agak mirip hobi iseng saya ketika masih bersekolah, yakni menuliskan lirik lagu untuk tetangga yang hendak berlatih band. Bedanya, kali ini lebih serius tentu. Saya menyimak dari VCD. Asyiknya, salah satu film bergenre horor dan berjudul Thirteen Ghosts. Masa itu sudah ada internet meski koneksinya terbatas sekali (baca: lambat dan mahal), namun tidak terpikir oleh saya mencari skripnya secara online kemudian menyalin begitu saja. Rasanya tidak jujur, apalagi tenggat yang diberikan klien cukup longgar.

Setelahnya, sang klien meminta saya menulis transkrip dari rekaman BBC. Bayangkan aksennya yang begitu sulit, ditambah kamus saya pun belum memadai. Saya harus menunggu sore atau malam-malam supaya bisa memutar cukup keras tanpa gangguan, sambil digelendoti keponakan SD yang malah jadi diuber-uber ibunya karena tidak belajar. Ketika mematikan komputer, ternyata anak itu tidur lelap di sebelah kaki saya. Katanya, dialek British membuat dia ngantuk berat.

Kalau dipikir-pikir, pekerjaan saya yang paling tidak nyambung sekalipun masih berhubungan dengan menulis atau perkomputeran. Ketika masih ngantor, saya pernah ditugasi atasan menerjemahkan materi untuk CD company profile ke bahasa Inggris. Saya langsung kerjakan sambil mengobrol dengan rekan-rekan seruangan, tapi dipandangi heran. Pasalnya, saya menulis di notes bergambar Pokemon, hadiah majalah anak-anak yang dilanggani keponakan dan diserahkannya pada saya. Malu? Ah, tidak.

Pengalaman seru Mas Agus sekarang adalah menyunting teks-teks administrasi ke-RT-an. Kadang saya ikut membenahi kalimat di surat edaran penagihan iuran, misalnya. Tapi di mata kalangan tertentu (termasuk beberapa tetangga yang mungkin tidak terbiasa melihat orang punya keahlian bertukang dan membangun rumah sendiri), pekerjaan “aneh” suami saya ialah bertukang kayu. Sewaktu melihat Mas Agus membuat bangku atau meja, ada yang menyangka dia menerima pesanan:)).


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.