Bahasa itu arbitrer, manasuka, mudah berubah dan sangat tergantung konteks. Argumen saya ini tidak disukai seorang teman yang “kebetulan” pakar kebahasaan. Tapi pernyataan dosen saya itu sangat membekas, utamanya dalam bahasa Prancis saja banyak sekali pengecualian.

Suatu tahun saya pernah bertanya pada seorang senior, kepada siapa penerjemah harus berpihak: pembaca atau penulis? Beliau menjawab: penulis. Dengan tekad kuat untuk loyal pada pesan yang ingin disampaikan penulis dan menyelaraskan pemikiran (yang nyatanya susah, karena adakalanya berseberangan juga) saya berupaya mengontak penulis dan bertanya. Kadang unsur yang amat kecil namun perlu saya mintai izin ketika hendak mengubah atau menggeser arti, sampai-sampai pengarang merasa saya rewel dan mengganggu karena nanya melulu. Di lain kasus, pengarang teramat sibuk dan mengaku jarang online lantaran sudah beralih suasana ke karya lain. Bisa jadi karya yang saya tangani itu buah penanya yang sekian tahun silam.

Di titik itu saya belajar, sebagai seniman, sangat lumrah pengarang berkeinginan mempertahankan karya seorisinal mungkin. Atau lebih tepatnya, pandangan dan pendapat dalam karya itu (maka maaf saja, saya tidak setuju pameo “jangan menilai orang berdasarkan tulisannya. Buat apa ada psikolinguistik dan teman-temannya?). Saya meneguhkan hati dan menyiapkan diri apabila ada pertanyaan atau komentar yang bernada keheranan atau tidak suka, tinggal jawab saja, “Itu pandangan penulis, bukan saya. Jadi silakan diskusikan dengan beliau.”

Masih terkait pengarang, karena kesibukan dan lain hal, tidak semuanya mampu menjelaskan maksud kalimat atau penggunaan kata tertentu. Ada juga yang bilang, “Ya pengen aja deh pake kata itu.”

Kemudian saya coba beralih “menuruti” pembaca. Wow, ini sulit tingkat dewa, dewi, dan segala penghuni kahyangan. Contohnya, soal catatan kaki saja. Ada pembaca yang menganggap catatan kaki itu mengganggu kenikmatan baca sehingga perlu dihindarkan. Jadilah kosakata tertentu sebisa mungkin dipadankan dengan risiko mengalami distorsi, atau bagaimanalah caranya supaya tidak perlu ada keterangan tambahan. Tak kalah sengitnya, ada pembaca yang berpendirian bahwa lebih baik istilah dibiarkan utuh. Catatan kaki boleh, tapi jadi glosarium dengan konsekuensi bolak-balik halaman depan atau belakang.

Pembaca mana yang harus saya dengarkan? Rasanya seperti skripsi saja, dua pembimbing beradu argumen sedangkan saya selaku mahasiswanya menjadi pelanduk di antara dua gajah.

Di saat-saat frustrasi itulah saya iri pada penerjemah buku jadul (baca: tahun 80-90-an). Bahasa para penerjemah kawakan itu mengalir sekali, strukturnya sangat Indonesia, dan rasanya seperti membaca buku karya asli (bahasa Ibu) saja. Pikir punya pikir, wajar banyak pembaca di kota kecil kesukaran menikmati buku terjemahan. Ketika saya tengok lagi buku jadul-jadul itu, bisa dihitung dengan jari kata yang dicetak miring. Atau tanda-tanda khas kalimat berpengaruh asing. Catatan kaki? Apalagi. Mom dan Dad dijadikan Papa dan Mama atau Ayah-Ibu pun tidak diprotes, sangat lain dengan zaman media sosial ini. Apa mau dikata, dulu segalanya relatif lebih simpel.

Belakangan saya menentukan sendiri acuan yang paling tepat: editor dan juklak alias selingkung penerbitnya. Kenapa? Mereka punya alasan kuat untuk setia pada KBBI, atau memadukan KBBI dengan selingkung pengecualian. Merekalah yang memutuskan membidik segmen tertentu dengan kosakata khusus dan lebih mengenal pembaca. Tak pelak subjektivitas berperan, dan tiap editor punya rasa bahasa sendiri, tapi setidaknya lebih ajek bagi saya. Dulunya ingin memuaskan pembaca, namun jelas tidak mungkin menyenangkan semua orang. Toh masalah rasa bisa jadi perdebatan tak berujung. Kaku dan luwes saja beda ukuran, ibarat yang asam buat saya sangat mungkin segar dan enak untuk orang lain. Ini pernah saya alami dengan penutur asli. Penutur asli yang lama bermukim di Indonesia sangat mungkin berlainan pendapat dengan yang menetap di negara asalnya.

Pelajaran buat saya, menjadi penerjemah (dan penyunting) menuntut keberanian dan percaya diri memilih gaya tertentu.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)