Penulis: Dina Y. Sulaeman
Penerbit: Pustaka Iiman
Tebal: 297 halaman
Cetakan: I, 2007
Harga: Rp 62.000,00

Telah banyak buku yang mengupas perjalanan ke berbagai belahan dunia dan aneka sarana angkutan, tetapi masih sangat jarang ditemui buku yang fokus membahas tempat-tempat menarik di Timur Tengah dan penulisnya benar-benar menetap di sana. Menarik, dalam arti bukan semata tempat wisata, melainkan mengandung nilai historis dan menggelontorkan cerita bermuatan budaya beserta pernak-pernik terkait yang perlu diketahui. Penulis beserta suaminya melakukan perjalanan khusus untuk menggarap buku ini.

Kolaborasi kedua penulis, meski tidak berporsi sama, terasa proporsional. Tentu saja tetap ada perbedaan warnanya. Dina Sulaeman lebih banyak mengupas budaya dan kehidupan sosial, sedangkan sang suami mempertajam sudut politik. Pembaca diajak menelusuri negeri Iran dari kota ke kota dengan bahasa yang lentur sehingga semua kalangan dapat meresapinya.

Aneka segi yang ‘terpendam’ hiruk-pikuk pemberitaan dikemukakan di sini. Salah satunya, anggapan bahwa peraturan Iran menindas kaum wanita. Kenyataannya, para wanita mengenyam pendidikan tinggi, ada yang belajar kungfu, bahkan dapat terjun ke bermacam profesi kecuali pemimpin dan tentara. Penulis sempat memperdebatkan pelarangan wanita menjadi presiden, yang pada hakikatnya bukan pemimpin negara Iran sesungguhnya karena masih ada tampuk yang lebih tinggi, namun kenalan-kenalannya menyatakan dengan seloroh bahwa hidup mereka sudah cukup ‘menderita’ dengan kedudukan wanita yang sekarang. Rata-rata perempuan Iran keras, berani [baca: galak], dan tidak jarang yang bossy. Iklan sebuah merk makanan di televisi memotret fenomena itu, betapa suamilah yang lebih banyak tahu ini-itu soal dapur.

Bukti lain bahwa Iran melindungi wanita adalah peraturan mas kawin. Meskipun pembayarannya dapat diangsur dan bahkan dibebaskan sama sekali seiring dengan waktu apabila sang istri merelakan karena cinta, pria yang mencoba-coba mangkir dari kewajiban menyerahkan mahar akan dikenai hukuman penjara. Dengan demikian para wanita Iran memiliki tabungan masa depan, berjaga-jaga bila harus menjanda. Menilik karakter masyarakat kita yang biasanya ‘meleluasakan’ keluarga dan pihak-pihak lain campur tangan terlalu jauh dalam perkawinan, agaknya upaya penjaminan hari tua wanita dengan ketegasan ketentuan mahar tersebut sukar ditegakkan. Kesadaran akan menabung dan berantisipasi membutuhkan sikap mental yang kukuh.

Rekaman unik kehidupan sehari-hari terlihat pada sikap para pedagang di Iran. Kebanyakan dari mereka berlaku seolah tidak butuh konsumen, bahkan pembelilah yang harus mengucapkan terima kasih setelah berbelanja. Perilaku ini didasari ketidaksetujuan terhadap cara berbisnis ala Barat yang memanjakan konsumen sehingga justru mengistimewakan mereka yang berkantung tebal. Akan tetapi tidak semua pedagang marah bila barang yang mereka jual ditawar, bahkan penulis mengalami kejadian menyenangkan terutama di kalangan orang-orang Zoroaster.

Sentimen etnis di negara yang heterogen kerap terjadi, demikian pula di Iran. Rata-rata mereka tidak menyukai orang Afghanistan karena dipandang membebani ekonomi. Pada suatu ketika, negara menyelenggarakan program pemulangan orang Afghan ke negara asal mereka. Etnis Arab pun termasuk minoritas. Penulis menjelaskan bahwa cara mereka bersikap cukup berbeda, tidak kebanyakan ta’aruf (berbasa-basi).

Membicarakan Iran tak mungkin tidak menyenggol embargo Amerika. Namun hal itu tidak membuat gentar masyarakat yang undang-undangnya bercirikan Syiah-sentris tersebut karena mereka justru semakin mandiri. Kehebohan resolusi anti Iran tahun 2006 tidak berimbas lantaran salah timing, saat itu penduduk Iran malah tengah memperingati peristiwa Karbala sekaligus Sepuluh Hari Fajar dan semangat juang mereka meluap-luap. Yang mengagumkan, seruan media-media Amerika untuk memboikot pemilu Iran pun nihil belaka. Orang-orang Iran menentang karena ingin menunjukkan bahwa mereka tak bisa diatur-atur. Tidak mengherankan bila CNN menyebut penduduk negeri mullah ini orang keras kepala.

Pendapat keliru lainnya ialah menyoal seni. Faktanya, negeri ini tidak memberangus total seni. Perempuan dipersilakan menyanyi, asalkan berupa koor. Jika ia menyanyi solo, maka pendengarnya harus sesama perempuan. Musik pun diperbolehkan selama tidak melenakan. Pendek kata, seni yang bermanfaat untuk mencerahkan manusia, bukan ‘seni untuk seni’ yang biasanya menggiring pada tindakan-tindakan permisif.

Deskripsi makanan yang menerbitkan air liur, foto-foto yang melengkapi sejumlah halaman, dan berbagai kebiasaan penduduk Iran dengan segala macam ritualnya menjadikan Pelangi di Persia bertambah sarat informasi. Sangat disarankan agar wisatawan yang datang sendirian menguasai bahasa Persia karena jarang sekali orang Iran yang dapat berbahasa Inggris. Ini menampik pendapat dunia Barat bahwa Iran tertutup, tidak aman, dan tidak ramah [bahkan dicap sarang teroris] karena toh masih ada saja wisatawan yang menjelajah kota-kota unik di sana, sebut saja Isfahan dan Shiraz.

Kepedulian pemerintah lagi-lagi membangkitkan rasa kagum. Penduduk di suatu kota yang sangat panas diberi keringanan membayar listrik karena mereka harus memasang AC freon dan tidak menggunakan teknik pendingin ruangan khas Iran seperti warga kota lainnya. Belum lagi bahan bakar yang murah.

Walaupun sebagian besar penduduk Iran bermazhab Syiah, kerukunan sangat terlihat utamanya di kota Shiraz. Pernikahan lintas mazhab pun tidak dilarang, meski ada juga yang kemudian berpindah sesuai mazhab pasangannya. Para penyair dan tokoh besar yang Sunni tetap dihormati oleh orang Iran secara umum.

Fakta yang cukup mengejutkan sekaligus menjadi salah satu pesona terkuat buku ini ialah penelusuran jati diri Alexander the Great. Sangat keliru apabila kita menilainya sama dengan Iskandar Zulkarnain, yang ditengarai sesungguhnya adalah Cyrus, raja Dinasti Achaemenian. Penulis membandingkan dengan film mengenai Alexander dengan bintang Colin Farrell yang dipertanyakan validitas sejarahnya, kecuali bahwa raja Macedonia itu adalah homoseksual. Orang Iran membenci Alexander lantaran menggempur habis Istana Persepolis, dan orang India pun demikian. Tidak hanya itu, film 300 yang melukai hati masyarakat Iran karena menggambarkan bangsa Persia sebagai orang barbar dan buas mengundang kecaman dari orang-orang Iran yang telah bertebaran di luar negeri.

Usikan Amerika terhadap negeri ini memang tak pernah berhenti. Konon, perkara kecanduan narkotika yang sukar diperangi di Iran merupakan siasat negeri adikuasa itu dengan mengadaptasi langkah Inggris kala melakukan Perang Candu terhadap Cina. Pidato Ahmadinejad dipelintir sedemikian rupa dan diberitakan mengandung kalimat “Israel harus dihapus dari peta dunia”, padahal naskah pidato aslinya dalam bahasa Persia menunjukkan bahwa yang disasar adalah rezim Zionis dan bukan orang Israel secara keseluruhan. Betapa permainan media dalam pertempuran politik tidak bisa dipandang sepele.

Lebih dari sekadar memoar dan catatan perjalanan, Pelangi di Persia membukakan mata hati pembaca. Banyak pelajaran dapat diraup, banyak mutiara dapat digenggam. Sebuah referensi yang benar-benar berharga.

[rating=4]


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)