“Dingin,” demikian pengakuan kebanyakan tamu Peluncuran Buku Playing ‘God’ di Amartapura Ballroom, Grand Royal Panghegar, hari Sabtu pagi lalu. Saya tersenyum-senyum melirik seniman (yang menyebut diri ‘buayawan’) Radhar Panca Dahana yang mengangkat kaki dan bersila di kursinya di awal acara. Belakangan, di depan hadirin, ia mengaku dijadwalkan cuci darah hari itu di sebuah rumah sakit namun memilih pulang saja karena pertimbangan biaya. Secara blakblakan, Radhar mengemukakan sejumlah pengalaman yang menggelitik tawa terkait interaksinya dengan rumah sakit dan dokter. Menurutnya, ia bisa hidup karena terus menjadi pemarah. Bahkan para dokter yang merawatnya hafal betul sifat satu ini.

Tanpa sungkan pula, Radhar menceritakan kekagumannya pada para perawat di sebuah rumah sakit yang kerap ia sambangi. Ia menemukan mereka tengah makan mi instan, namun hebatnya, setiap kali, “Ada yang teriak mau mati,” demikian katanya, “mereka sigap berlari. Dokternya? Nggak tahu pada ke mana.”

Di mata saya, kuat sekali pria berperawakan kecil ini. Semangat hidupnya menyala-nyala, tidak terlihat sakit. Satu demi satu uraian para pasien cuci darah, termasuk perupa Jeihan Sukmantoro yang sudah cangkok ginjal di Singapura, menghangatkan suasana. Tidak ketinggalan Jalaluddin Rakhmat ikut berbagi. Kang Jalal mengisahkan kepanikan dan tangis kala sang istri ternyata mengidap Stevens Johnson Syndrome yang ditengarai bisa membutakan, bahkan merenggut nyawa. Canda sang dokter kala itu, “Wah gimana Bu, kalau nanti Bapak tidak cinta lagi karena Ibu jadi tidak cantik?” Kang Jalal sendiri mengaku berdoa istrinya termasuk yang sejuta, bukan yang satu orang, mengingat sindrom langka tersebut hanya menyerang satu dari sejuta orang.

Pengalaman personal, uraian dan kelakar yang ditutup dengan, “Saya tidak akan ceritakan terlalu panjang. Nanti beli saja buku saya.”:D Di pembukaan pun, saat Dr. Rully Roesli memberikan tanda mata kepada kakak iparnya (suami Dr. Ratwini Soemarso Roesli), beliau berkata, “Cuci darah bisa menimpa siapa saja, termasuk kerabat dekat dokter.” Saya mencamkan (semoga tidak lupa) salah satu ucapan Profesor Firman, “Syukuri penyakit. Tidak semua orang mendapatkan cobaan. Kemudian, bersabarlah.”

Dimainkannya lagu Manusia Baru karya almarhum Harry Roesli dan Aat Suratin oleh Rumah Musik Harry Roesli justru meninggalkan kesan yang mendalam. Lagu lembut ditingkahi cericip burung dan iringan biola mengingatkan saya pada beberapa jam malam harinya, ketika membaca lagi Playing ‘God’ di bagian sakit hingga berpulangnya sang seniman besar. Kisah yang tak pernah bosan saya baca itu membuat saya terpekur kemudian berdoa banyak-banyak, karena terlintas pertanyaan, “Apakah besok pagi saya akan bangun lagi?”

Esok harinya, liputan acara ini muncul di Tribun Jabar, rubrik Senandika. Di sana tertulis, Playing ‘God’ membuat Kang Jalal menangis. Memang demikian pernyataannya, kurang-lebih seperti ini, “Mungkin ini hukuman Tuhan atas perbuatan saya, membuat pembaca menangis dengan buku-buku yang saya tulis. Sekarang giliran saya menangis membaca setiap bab buku ini.”


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)