Di suatu penerbit relasi saya, salah satu editornya memberikan panduan selingkung yang mencakup pemakaian kata ganti “ia” dan “dia”. Sebelumnya, saya jelaskan lebih dulu mengapa hal itu diperlukan. Bayangkan bila teks di bawah ini seluruhnya menggunakan nama orang:

Tak pernah Noah mengira mengantar setumpuk kayu bakar ada manfaatnya. Berhati-hati agar tak mengganggu Sophie, Noah bangun untuk ke kamar kecil dan menyalakan api. Kerlap-kerlip api menghiasi seluruh rumah nyaman ini, dan cahaya siang menerobos masuk melalui jendela. Noah berharap Sophie kerasan tinggal di sini. Noah berharap Sophie berencana menetap selama beberapa waktu. Sophie Bellamy. Siapa Sophie omong-omong? Noah tak tahu apa pun kecuali bahwa satu siang  bersama Sophie mengungguli setiap pertemuan lain yang pernah dialaminya.

Tidak keliru, tapi kurang enak dibaca. Sebagaimana kebanyakan penerbit, variasi kata ganti sangat penting. Bisa memakai “wanita itu”, “lelaki itu”, dan sebagainya selain “ia” dan “dia”. Masalahnya, ketetapan penerbit mengenai dua kata ganti ini berlainan. Ada yang menentukan bahwa “dia” untuk orang sedangkan “ia” untuk selain orang. Yang saya bahas ini menyatakan “ia” dan “dia” sama-sama untuk orang.

Contoh I

Tak pernah Noah mengira mengantar setumpuk kayu bakar ada manfaatnya. Berhati-hati agar tak mengganggu Sophie, Noah bangun untuk ke kamar kecil dan menyalakan api. Kerlap-kerlip api menghiasi seluruh rumah nyaman ini, dan cahaya siang menerobos masuk melalui jendela. Ia berharap Sophie kerasan tinggal di sini. Ia berharap Sophie berencana menetap selama beberapa waktu. Sophie Bellamy. Siapa wanita itu omong-omong? Noah tak tahu apa pun , kecuali bahwa satu siang bersama Sophie  mengungguli setiap pertemuan lain yang pernah dialaminya.

Seluruh sudut pandang alinea ini diceritakan dari kacamata Noah. Dalam bahasa penceritaan, ini lazim disebut POV. Karena menggunakan sudut pandang orang ketiga, bisa saja di alinea berikutnya Sophie yang menjadi “ia” kemudian Noah menjadi “dia”. Untuk itu, diperlukan kejelian guna mengetahui POV siapa yang digunakan dalam alinea tersebut. Bisa saja sepanjang bab POV-nya tidak berubah.

Contoh II

Sophie memencet ponselnya, mendengarkan selama semenit. “Tak ada jawaban.”

“Hari ini turun salju. Mungkin dia keluar untuk bermain.” Noah duduk di bangku panjang di depan pintu untuk memakai sepatu bot. “Aku bermain hoki selama di sekolah,” ujarnya. “Aku masih main, kadang-kadang. Ada liga rekreasi untuk laki-laki di kota.”

“Max suka hoki. Setengah tahun, dia fanatik bisbol, dan  setengah tahun sisanya, dia fanatik hoki.”

Noah dan Sophie membicarakan Max, sehingga Max otomatis menjadi “dia” dalam dialog tersebut.

 

Contoh III

Sekarang, saat memandang ke belakang, ke jalan yang telah kutelusuri, tampak jalur setapak itu dipenuhi rumput dan alang-alang, benih-benih dan dosa-dosa silam yang tidak diakui telah tumbuh dan mengakar. Yang lain membayangiku sepanjang perjalanan. Wanita itu tidak bernama, tapi ia terlihat seperti Susan, mendiang istriku; dan Jennifer, putri pertamaku, yang tewas di sampingnya di rumah kecil kami di New York,  berjalan bersamanya, menghantuiku.

Adakalanya aku berharap mati bersama mereka. Kadang-kadang penyesalan itu kembali.

Di sini, POV yang digunakan adalah orang pertama alias ber-aku. Tentu saja si aku tidak sendirian. Karena itu sang hantu wanita/Susan/almarhumah istrinya menjadi “ia”.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)