Alkisah, hasil kerja seorang penerjemah harus digarap ulang besar-besaran. Muncul keheranan atau bahkan pertanyaan ketika nama penerjemah tersebut tetap dicantumkan di halaman hak cipta. Kadang-kadang berdua dengan editornya, apabila dipandang perlu. Tergantung situasi dan kesepakatan dengan editor yang bersangkutan.

Saya sependapat dengan Fahmy Yamani, yang mengemukakan bahwa tindakan pencantuman nama penerjemah tadi tidak jadi soal. Bagaimanapun, walau sedikit, penerjemah sudah punya kontribusi sejak awal. Usahanya tetap perlu dihargai. Perkara banyak kesalahan karena kurang teliti, mengantuk, sedang sakit, ada masalah pribadi, dan lain-lain, biarlah menjadi urusan penerjemah itu sendiri dan Tuhan.

Lain halnya apabila hasil terjemahan tersebut sejak mula dinyatakan tidak bisa dipakai. Umumnya, penerbit menerapkan konsekuensi (jika tak ingin disebut “sanksi”) atas kasus seperti ini: tidak dibayar atau tidak diorder lagi. Namun saya kenal para editor in house yang tangguh dan sabar, layak diberi acungan jempol. Mereka menerjemahkan ulang tanpa mengeluh, tak jarang mengedit ulang juga apabila hasil periksa editor lepas masih kurang “sempurna”, namun tidak keberatan jika nama mereka tidak dicantumkan. Ada pula seorang penerjemah dan editor senior lepas yang bukan hanya sekali mengalami kasus di atas, tidak mempermasalahkan pencantuman namanya sebagai editor saja.

Mengapa? Inilah yang lebih penting menurut mereka:

1. Fokus mengerjakan tugas sebaik-baiknya

2. Menyampaikan catatan dan masukan kepada penerjemah bersangkutan

3. Kemampuan mengoreksi dengan teliti itu diakui oleh kantor/klien penerbit. Sependek pengetahuan saya, penerbit tidak pernah abai akan potensi. Seperti halnya mereka tidak mentah-mentah menelan “pengaduan” editor lepas dan tetap memeriksa ulang.

Saya pernah juga berada di posisi yang mirip dengan penerjemah seperti ini. Satu kata pun di buku yang terbit tak sama dengan hasil terjemahan saya. Toh nama tetap dicantumkan, dan setelah diselidiki, berkas printout yang saya setor (dulu masih begitu aturannya) hilang akibat suatu musibah. Saya bayangkan betapa repot editor lintang-pukang menerjemahkan ulang dan berusaha bertanggung jawab atas kejadian itu.

Anda boleh saja tidak sepaham. Tapi jika saya boleh mengutarakan, dan harus boleh memang, “Adakalanya protes malah membuang waktu dan tenaga. Kadang-kadang memaklumi dan mengerti keadaan lebih sehat lagi hemat energi. Juga lebih gampang move on jadinya.”

[sws_facebook_share]

[sws_linkedin_button url=”http://plugins.righthere.com” position=”right”] [/sws_linkedin_button]

[sws_single_pin_it pin_count=”horizontal” url=”” image_url=””] [/sws_single_pin_it]


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)