Suatu waktu, ada yang bertanya, “Bagaimana caranya supaya bisa jadi penerjemah papan atas sekelas …?” Namanya sengaja tidak saya sebutkan, demi kenyamanan beliau-beliau.

Ternyata kriteria “papan atas” tersebut berbeda-beda. Ada yang menempatkan popularitas sebagai tolok ukur. “Kebetulan” penerjemah bersangkutan menerjemahkan buku-buku yang tren dan “menggelegar”, karya para penulis kenamaan, juga aktif di media sosial/internet sehingga otomatis menjadi perpanjangan tangan kesohoran tadi. Padahal banyak juga penerjemah berbakat yang jarang muncul di dunia maya, bahkan bila di-google, yang bermunculan hanyalah judul-judul karyanya. Ada lagi yang beranggapan bahwa yang papan atas itu relatif sangat berpengalaman, otomatis punya standar tarif sendiri, dan bebas memilih buku yang disukai untuk diterjemahkan.

Perihal kompensasi, saya tidak akan berkomentar. Namun kalau boleh menafsirkan sendiri, biasanya penerjemah yang demikian ini jadi “kesayangan” penerbit/editor, diandalkan dan dipercayai kemampuannya baik untuk genre tertentu maupun tidak. Singkatnya, sudah jaminan mutu. Untuk itu, persyaratannya saya rumuskan berdasarkan sudut pandang editor saja.

  1. Menerjemahkan dengan tepat. Typo satu-dua masih ada, dimaklumi. Tapi tidak ada kata yang diartikan melenceng, apalagi “ngarang”. Dalam berproses, jelas ada kontribusi masukan editor. Penerjemah yang kampiun belajar dari koreksi tersebut sehingga tidak mengulangi kesalahan yang sama.
  2. Tekun riset. Ini sudah harga mati. Saya pernah dengar dari seorang editor in house, ihwal seorang penerjemah yang cermat dan melampirkan catatan sumber serta referensi yang digunakannya. Jelas, ini memudahkan editor yang kerjanya bukan melulu mengurusi naskah.
  3. Tepat waktu. Bukan berarti terlambat itu “dosa”, namun hendaknya tidak sering-sering. Penerjemah andalan umumnya sangat paham krusialnya tenggat terkait jadwal penerbitan.
  4. Tidak menerabas idiom. Peka mana yang pun/wordgame, sadar bahwa epigraf/puisi/lagu perlu dialihbahasakan secara berima, mengolah metafora, peribahasa, oxymoron.
  5. Mematuhi selingkung penerbit. Bila taat KBBI, ya ditaati. Jika hanya sebagian, demikian pula. Percuma saja ngotot memakai “sekedar”, misalnya, bila selingkung penerbit mengacu pada KBBI seratus persen.
  6. Mau membaca ulang. Teknik tiap orang berbeda. Ada yang membaca kembali setelah dikerjakan seluruhnya, ada yang per kalimat/alinea sambil jalan. Ada yang dalam hati, ada yang membaca keras-keras untuk mengecek apakah sudah pas konotasinya, konteksnya, dan lain-lain. Dengan demikian, penerjemah tidak berpikir, “Ah, toh ada editor, ada proofreader.” Bagaimanapun penerjemahan buku adalah karya tim.

BTW, saya biasa menggunakan istilah penerjemah scroll down, hanya saja banyak yang bingung.

Lebih baik bersibuk-sibuk mengasah keterampilan, rasa bahasa, dan hal-hal penting lain tinimbang semata meresahkan honor dan kenaikannya. Pendek kata, sebelum bicara kompensasi, mari kita tanya diri sendiri, “Apakah kualitas terjemahan saya sudah meningkat?”


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)