Itu pertanyaan keponakan saya beberapa waktu lalu. Memang masih banyak yang berpendapat bahwa “sebaik-baiknya” seorang lulusan jurusan tertentu adalah menekuni pekerjaan yang sesuai latar belakang akademisnya. Sementara di mata saya, orang-orang yang sanggup “melenceng” dari ilmu yang dipelajari semasa kuliah atau sekolah termasuk kreatif dan keren. Bukan berarti yang memilih jadi praktisi sesuai jurusan atau titel tidak begitu, sih.

Pemikiran keponakan tadi sederhana saja, mempelajari bahasa asing selain Inggris sudah jelas memakan waktu khusus dan, seperti kata beberapa kawan sekuliah saya, sayang jika tidak dimanfaatkan terus apalagi sampai luntur. Kenyataannya, yang datang ke tangan saya mayoritas memang tawaran menyunting dan menerjemahkan bahasa Inggris. Kalau dari dulu saya pilih-pilih, rasanya kurang profesional selaku pemula. Sekarang ini saya suka menjadi penerjemah dan editor generalis. Toh sudah beberapa kali saya memperoleh kesempatan menerjemahkan bahasa Prancis, walau buku dewasanya baru dua judul.

Lalu bagaimana supaya bahasa Prancis saya tidak aus? Ya diasah, meski sedikit-sedikit. Delapan tahun silam saya masih meluangkan waktu baca kamus dan menuliskan beberapa kosakata di kertas bekas setiap malam. Sambil menyelam minum jus alpukat, sebab sambil belajar saya juga melatih otot tangan dengan tulisan tangan. Metode saya sekarang begini:

  1. Menonton film Prancis. Ini yang paling efektif, utamanya melatih pelafalan. Harus diakui film Prancis itu “sepi-sepi”, kadang bikin ngantuk kalau sedang tidak mood. Jadi saya pilih-pilih juga. Rasanya belum pernah saya nonton film komedi atau laga dalam bahasa ini. Yang paling berkesan adalah L’Amour. Comme le chef pun lumayan menghibur.
  2. Membaca. Bila sedang iseng, saya lirik-lirik bahan kuliah dan buku latihan zaman dulu yang ditemukan sewaktu beres-beres. Jujur, lebih banyak malasnya. Buku umum berbahasa Prancis yang saya miliki sangat sedikit, jadi saya irit-irit membacanya. Materi yang cukup membantu adalah blog atau artikel online, seperti wawancara dengan Pierre Guglielmina ini.
  3. Dua hal yang terjarang saya lakukan: menulis (di diari) dan mendengarkan lagu. Terlepas dari semua itu, saya beruntung karena beberapa buku yang saya edit mengandung bahasa Prancis walaupun sedikit. Suatu waktu saya membantu Mas Agus mengecek teks bahasa Prancis di novel Hatta, kendati ada yang terlewat juga:p

Bukan berarti “lompatan budaya” sewaktu menerjemahkan ini tidak membuat pening juga. Seperti yang pernah saya alami tahun lalu, contohnya. “Pertentangan” Inggris dan Prancis dalam pemilihan kata cukup berpengaruh. Saya merenung cukup lama karena nama lain ikan mola-mola dalam bahasa Inggris adalah “sunfish” sedangkan Prancis “poisson-lune”. Lantaran buku aslinya berbahasa Prancis, saya biarkan padanan “ikan bulan” saja.

Sampai kini saya tidak berencana menjadi spesialis. Namun saya optimistis akan mendapat peluang menerjemahkan dan menyunting buku Prancis lagi:)


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)