gramediashop.com

 

Penulis: Lexie Xu

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 2011

Tebal: 304 halaman

 

“Kalau orang miskin nggak punya harga diri, apa lagi yang tersisa?”

Saya sudah tertarik oleh judul yang benar-benar membetot perhatian pemilik otak sadis (atau otak horor, kata seorang karib) saya sejak melihatnya diiklankan di situs Gramedia. Untunglah saya bersabar karena ternyata ini buku seri dan saya menunggu sampai ketiga-tiganya terbit. Penantian itu sungguh tidak percuma, meski sebenarnya jika ‘tidak sengaja’ membaca terpisah atau buku ini lebih dulu pun tidak masalah.

Mungkin yang ingin disampaikan penulisnya, kalau ingin menikmati ketegangan dan suasana mencekam, jangan tanggung-tanggung! Satu paket sekalian. Kalau dipikir-pikir, banyak juga film horor Indonesia yang berkaitan dengan kehidupan seputar remaja atau sekolah. Tebakan saya benar, judul buku kedua ini terinspirasi film John Tucker Must Die, yang juga sangat saya sukai:)

Tantangan menulis sekuel buku thriller tentu saja istimewa, harus meningkatkan kengerian dan kemencekaman yang sudah tumbuh di buku pertamanya. Lexie Xu berhasil dengan baik. Mungkin saya tipe pembaca yang kecanduan ‘ditakut-takuti’ tapi penasaran, sambil ingin membuktikan siapa pelaku dan dalang sebenarnya yang dikuak dengan sangat memesona, rapi dan detail. Bukan sekadar menambah karakter baru atau mempertebal halaman, penulis menghadirkan konflik yang lain, lebih ‘segar’ dan lebih sadis (tentu saja, saya sangat menikmatinya, hohoho).

Saya sempat mengintip web penulis dan mengetahui bahwa karakter Frankie yang muncul di buku ini berbibitkan profil Jerry Yan (atau mungkin pemuda yang diperankannya di Meteor Garden, maaf saya lupa namanya) yang iseng dan jahil namun penuh perhatian. Tapi imajinasi saya kala membacanya meleburkan ‘dasar’ yang diletakkan penulis, sebab sukar membayangkan Jerry Yan berseragam SMA dan berbadan besar (bahkan raksasa, menurut Hanny). Frankie dengan cepat merebut hati saya, biang onar yang kocak dan menciptakan jalinan menarik dengan abangnya, Ivan, yang mengaku ambisius untuk menjadi anak kesayangan orangtua sehingga merasa perlu mengambinghitamkan adik. Menurutnya, harus ada pembanding sebagai bukti. Harus ada yang kalah.

Lexie Xu sukses membuat saya deg-degan dan khawatir, sekaligus kembali mendorong saya untuk melanjutkan ke buku berikutnya. Top.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)