Gaya selingkung adalah pedoman tata cara penulisan. Tiap penerbit memberlakukan gaya yang biasanya berlainan. Ada yang sangat taat KBBI sehingga mengikuti setiap pergantian istilahnya bila direvisi, ada juga yang hanya menerapkan sebagian.

Dalam bahasa Inggris, selingkung disebut style guide. Contohnya seperti ini.

Bagi penerjemah, mengetahui selingkung sangat penting untuk mencapai hasil yang sesuai dan berkenan mengingat kerja editor relatif lebih ringan karenanya. Bukan hanya urusan peristilahan (ada yang tetap memakai ‘nafas’, bukan ‘napas’), tetapi juga loyalitas pada naskah. Ada penerbit yang menetapkan seratus persen menjaga keutuhan buku asli, terlepas dari gaya berbelit-belit dan kalimat super majemuk, ada juga yang memberikan panduan lebih jauh untuk mencairkan kekakuan dan mempertinggi keterbacaan.

Berikut ini panduan dari sebuah penerbit yang saya kutip sebagian:

  • Terjemahan harus dirasakan sebagai tulisan asli sehingga sebaiknya menggunakan struktur kalimat bahasa Indonesia.
  • Mencari padanan yang paling sesuai dengan bahasa sasaran.
  • Memenggal kalimat yang terlalu panjang agar tidak bertele-tele, asalkan tidak mengganggu atau menjadikannya rancu.
  • Menyederhanakan kalimat agar tidak terlalu kaku.
  • Menguraikan suatu kata, frasa, atau kalimat yang membingungkan, atau kurang familier dalam bahasa Indonesia, dalam kalimat panjang.

Beberapa poin panduannya sama dengan penerbit lain yang bekerja sama dengan saya, maka otomatis memudahkan saya juga untuk memoles terjemahan sebelum menyerahkan kepada penyunting.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

2 Responses to “ Mengenal Selingkung (1) ”

Leave a Reply

  • (not be published)