dimeja

Meski tampak tak berhubungan, pekerjaan yang saya geluti sebelum sepenuhnya menjadi penyunting lepas sedikit-banyak berperan dan menjadi landasan. Menulis konten web, copywriting untuk naskah promosi semasa ngantor, dan skrip komik membuat saya terbiasa menulis ringkas. Demikian pula menulis cerpen dan artikel untuk beberapa media cetak serta online. Tanpa saya sadari, itu semua latihan yang bermanfaat ketika mulai terjun menerjemahkan buku sekalipun.

Dalam proses kreatifnya, semua pekerjaan di atas mengalami tahap revisi juga. Di situ saya dibiasakan tidak kelewat posesif pada kalimat sendiri, alias tega membuang dan memangkas apa yang saya tulis. Kebanyakan memang karena keterbatasan ruang sehingga saya belajar mengira-ngira lahan pemuatan. Sewaktu menerjemahkan buku anak berilustrasi ini, misalnya. Dulu saya pikir, lebih baik kepanjangan lalu mengguntingnya daripada harus menambah. Itulah sebabnya saya tidak pernah berhasil menulis novel “gemuk” sebagaimana standar kebanyakan penerbit. Saya lemah pula dalam deskripsi.

Pada suatu masa dalam perjalanan karier, saya mengira tugas menyunting semata-mata pemangkasan. Mas Agus pun menyebut saya “editor tipe tukang cukur“. Pekerjaan menyunting dapat diumpamakan URL shortener terkadang, namun tidak sampai meringkas kebablasan seperti SMS bahasa gaul.

Ternyata anggapan saya keliru. Meski kebanyakan perapian naskah berarti mengurangi alinea, kalimat, atau kata, kadang-kadang saya harus menambahi juga. Katakanlah agar ada kesinambungan antarparagraf. Ibarat dunia rias wajah, saya yang biasa menerapkan gaya minimalis dan nyaris pucat jadi ngos-ngosan karena harus membubuhkan warna tambahan yang menceriakan dan mempertebal lapisan di bagian wajah tertentu. Penyuntingan terjemahan juga menuntut saya mempelajari ini, ketika saya menggarap genre historical romance.

Tantangan ini bukannya tidak seru. Saat harus menambah kata atau kalimat guna memperjelas suatu uraian, saya perlu menilik gaya penulis dan penerjemah agar selaras. Tidak mudah memang, suatu waktu pembaca yang jeli masih mengamati keberbedaan gaya kami meski buku tidak sampai “belang” setelah terbit. Hingga kini saya masih berlatih menambah kalimat, kapan-kapan akan diceritakan di postingan terpisah:)

 


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)