A very busy sunday

Kebanggaan seorang penyunting lepas ketika menerima buku jatah bukti terbitnya adalah mendapati nama di halaman hak cipta tidak berdampingan dengan nama editor in house. Ini tidak hanya dialami oleh penyunting sebenarnya, tetapi juga penyelaras aksara (lepas). Jujur saja, ini suatu kemewahan yang mengesankan mengingat di penerbit tertentu, sering kali nama editor in house pun tidak dicantumkan. Saya tidak mengetahui alasannya, malah kadang mengira-ngira bahwa terjemahan atau tulisannya sedemikian bagus sehingga tidak membutuhkan suntingan ‘berat’.

Sebenarnya wajar-wajar saja jika penyuntingan dilakukan berdua dengan pihak dalam, utamanya buku lokal. Hasil suntingan tidak dikoreksi ulang, semata diseragamkan mengikuti selingkung yang berlaku. Misalnya, saya baru mengetahui bahwa yang baku di suatu penerbit (kalau tidak salah di KBBI pun demikian) adalah ‘enggak’ bukan ‘nggak’. Memang risikonya, terkadang endorsement atau sinopsis cover belakang tidak senada dengan hasil suntingan yang sudah digarap. Seperti penulis, tiap penyunting memiliki gaya sendiri-sendiri. Yang satu mungkin lebih menyukai kalimat yang serbaringkas, sedangkan yang satu lagi menganut paham keleluasaan lebih bagi penulis/penerjemah. Sekali lagi ini bukan keluhan, sebab bagaimanapun penyuntingan berlapis menguntungkan guna meminimalkan kekeliruan.

Ada kalanya, pencantuman dua nama berlaku jika penyunting bersangkutan masih membutuhkan supervisi. Penilaiannya relatif tergantung penanggung jawab proyek (buku) tersebut. Kadang penyunting yang masih baru, dalam arti baru dikenal oleh penerbit atau bahkan baru terjun ke dunia penyuntingan berhak ‘tampil’ tanpa dampingan di halaman hak cipta. Saya pernah melihat sendiri nama seorang penyunting yang menggarap hasil terjemahan lebih dari tiga orang untuk satu buku. Di sisi lain, belum tentu penyunting yang berpengalaman atau sudah senior di bidang penulisan/penerjemahan (baca: mengerjakan banyak buku) ‘dilepas’ seorang diri.

Jantung penyunting akan lebih deg-degan saat menggarap buku lokal, khususnya bila penulis diberi kesempatan untuk membaca ulang hasil suntingan. Hampir semua penulis memperoleh peluang ini dan hampir semua penerbit mempersilakan sehingga sudah selayaknya penulis meluangkan waktu kendati naskah sudah lama diserahkan dan ia tengah menghadapi tenggat lain (saya sendiri pernah mengalami). Kadang penyunting membubuhkan catatan-catatan untuk revisi atau catatan kaki jika diperlukan guna memperjelas, utamanya pada naskah nonfiksi yang relatif berat. Ketegangan meningkat kala penyunting terpaksa membabat bagian-bagian tertentu dalam naskah, tentu sesuai kesepakatan dan komunikasi dengan perwakilan penerbit.

Apabila perubahan dalam penerjemahan, contohnya puisi yang dibuat berima karena sebelumnya tidak, dibiarkan, penyunting boleh tersenyum. Berarti perubahannya ‘direstui’. Demikian pula jika catatan kaki yang ditambahkan pada buku lokal tidak dikembalikan ke semula atau bahkan diubah lagi, artinya cara kerjanya tidak melanggar batas kreativitas.

 

 

 

 

 

 

 


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)