Sumber: flixster

 

Sependek pengetahuan saya, masih jarang cerita yang mengupas hubungan anak dan orangtua setelah berusia dewasa. Inilah daya tarik People Like Us, beralur cepat sehingga rasanya berkedip pun sayang. Semua datang beruntun ketika Sam (Chris Pine) mengalami masalah di tempat kerjanya selaku salesman, kemudian mendadak ayahnya meninggal.

Ayah Sam bukan orang “sembarangan”. Ia produser kenamaan, memiliki semacam “gua pribadi” penuh koleksi rekaman bernilai tinggi yang diwariskan kepada putranya itu. Sam berharap peninggalan sang ayah, Jerry, dapat menyelamatkannya dari konflik keuangan. Ternyata Jerry mewariskan sejumlah uang yang tidak sedikit kepada seorang bocah lelaki bernama Josh.

Dengan marah pada keadaan sekaligus permintaan terakhir Jerry karena dirinyalah yang harus menyerahkan uang itu, Sam menyelidiki ibu Josh, Frankie (Elizabeth Banks). Ia lintang-pukang menghidupi sang anak yang kerap menimbulkan persoalan di sekolah, karakternya yang “antik” untuk bocah sebelas tahun, dan ternyata Frankie juga anak Jerry.

Walau dilanda rasa ingin tahu yang besar, Sam terus mendatangi Frankie dan mengakrabi Josh. Kegelisahan karena menyimpan rahasia dan kepedihan Sam mengenang perlakuan Jerry yang seolah menjaga jarak sedari dulu membuatnya tak beranjak dari rumah sang ibu, Lilian (Michelle Pfeiffer). Rupanya Frankie memendam kesedihan yang sama,

[sws_blockquote_endquote align=”” cite=”” quotestyle=”style01″] The last thing I remember about my dad is the tail-lights as he drove away and I never thought what’s wrong with him, I thought ‘what’s wrong with me that he would leave and never come back. [/sws_blockquote_endquote]

Kedekatan dua saudara yang sekian lama tak saling mengenal ini mengalir natural. Josh pun kerap mengundang senyum, termasuk ketika ia ditemani ibunya ke psikiater anak karena keharusan dan hukuman dari sekolah. Dialog Sam dengan Lilian menyiratkan satu pesan, tidak semua orangtua mampu mengungkapkan perhatian dan kasih sayang. Mereka tidak sempurna, namun sebenarnya mereka mencintai anak-anaknya.

People Like Us mengajarkan kita untuk menjadi benar-benar dewasa dengan menghadapi kenyataan, betapa pun pahitnya. Juga menyelesaikan masalah. Seperti sewaktu

Spoiler Inside SelectShow
. Pada saat tertentu yang tidak disangka-sangka, manusia bisa berubah.

Film yang lebih dari sekadar mengharukan ini mengandung banyak kalimat bagus. Salah satu favorit saya yang ini,

[sws_blockquote_endquote align=”” cite=”” quotestyle=”style02″]Most doors in the world are closed, so if you find one that you want to get into, you damn well better have an interesting knock. [/sws_blockquote_endquote]

 


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)