Masih banyak yang keliru mengenai dua profesi ini, saya juga pernah beberapa kali menerima lamaran dan dikirimi naskah karena dikira bekerja di penerbitan. Karena itulah saya merasa perlu menjelaskan lebih rinci. Isinya tidak berurutan, semoga tidak membingungkan.

Terkait naskah lokal

Editor in house:

  • Menyeleksi naskah, membaca kiriman naskah yang masuk, berkorespondensi dengan penulis yang naskahnya diterima untuk proses lebih lanjut. Keputusan penerbitan naskah biasanya merupakan hasil rapat redaksi, di penerbit tertentu pihak marketing pun punya andil dan menilai naskah tadi dari segi daya jual. Jadi bisa saja editor suka, namun tidak disetujui dalam rapat karena pertimbangan satu dan lain hal.
  • Setelah naskah dinyatakan diterima, editor membuat catatan sekiranya perlu koreksi. Bukan hanya revisi tata bahasa, bisa saja dari penyesuaian latar dengan masa kini, pembenahan plot, dan hal-hal yang berkaitan dengan selingkung. Penulis dipersilakan merevisi.
  • Usai revisi diterima (yang sangat tidak tentu waktunya, tergantung penulis juga salah satunya), naskah dicek ulang. Bisa saja dikembalikan lagi jika revisi belum memuaskan, sebagaimana yang pernah saya baca di Menjadi Penerbit (Ikapi DKI, 2000). Bila tidak, editor berkomunikasi dengan setter, proofreader, desainer cover, dan pihak-pihak lain yang terkait.

Catatan: Itu gambaran singkat untuk satu naskah saja.

  • Ada penerbit yang memungkinkan editor in house bertemu penulis ketika mengajukan naskah, bincang-bincang sejenak. Editor juga yang membaca dan membalas e-mail atau telepon penulis yang menanyakan kabar naskah mereka.
  • Menagih revisi dari penulis. Juga lanjutan naskah apabila penulis sudah menerbitkan bukunya di sana dan berupa seri. Tidak jarang melobi penulis untuk menggarap tema tertentu.
  • Untuk menghubungi penulis tertentu yang karena satu dan lain hal sangat sibuk namun menghendaki segala perubahan dalam naskahnya diketahui, editor in house kadang perlu datang ke rumah atau kantor penulis. Bisa saja ini terjadi di akhir pekan. Tak jarang penulisnya bermukim di luar kota.
  • Menegosiasikan royalti, membicarakan beli putus, dan sebagainya. Berkomunikasi dengan sekretaris redaksi ihwal Surat Pernyataan Penerbitan Buku berikut segala detailnya.
  • Kepada editor in house jugalah biasanya penulis memprotes perubahan tertentu di naskah, mengabarkan bukti terbit yang belum sampai, mengembalikan SPPB, dan lain-lain. Kembali editor menghubungi sekretaris redaksi.
  • Editor in house menunjuk dan memilih editor lepas untuk menangani penyuntingan naskah tertentu, sekiranya diperlukan. Otomatis, mereka juga yang sering dikirimi lamaran editor lepas dan ditanyai apakah ada lowongan itu atau tidak. Terjadilah perbincangan terkait honor, tenggat, dan pengiriman naskah via e-mail dengan segala perniknya.
  • Dengan editor lepas ini, kembali ada diskusi serta tagih-menagih sekiranya tenggat sudah terlewat dan naskah belum disetorkan. Editor in house mengecek hasil, membahas dengan penulis dan tim redaksi lain mengenai pengemasan.

Catatan: Ada pengalaman editor in house yang mendapati hasil kerja editor lepas seperti mem-proofread belaka, sehingga mereka harus menyunting ulang.

Lain-lain: Mendampingi penulis berpromosi dalam bedah buku, talkshow, dll.

Editor lepas:

Sebenarnya murni berurusan dengan naskah. Tapi karena di masa kini penulis dilibatkan sejak proses penyuntingan, editor lepas berdiskusi juga mengenai poin-poin yang menimbulkan tanda tanya dan memberi masukan bila perlu ditambahi. Di bagian ini, editor lepas hampir mirip editor in house. Kadang penulis ingin merevisi sendiri, editor lepas pun menunggu. Jangka waktu menunggu bisa sangat lama karena halangan pribadi seperti penulis yang sakit, masalah teknis semisal jaringan internet terganggu, atau ketidaksepakatan penulis dan editor lepas. Namun yang terakhir ini jarang terjadi.

 

Terkait naskah terjemahan

Editor in house:

  • Kebanyakan penerbit punya editor akuisisi untuk buku terjemahan, jadi biasanya editor in house mengajukan judul-judul menarik saja. Kemudian membaca naskah yang diberikan proprietor untuk penilaian.
  • Untuk proses selebihnya, seperti ini (meski tidak terlalu persis, karena tak semua penerbit mempunyai asisten editor) dan ini.
  • Menerima lamaran penerjemah lepas, memberikan tes, memeriksa hasil tes.
  • Mengorder penerjemah, mengirimkan materi cetak dan SPK (tergantung kebijakan penerbit).
  • Diskusi mengenai selingkung dengan penerjemah, memberikan panduan jika ada.
  • Mengecek tenggat, menagih penerjemah jika perlu, mengecek hasil. Hasil memuaskan, langsung diproses seperti uraian di link di atas. Bila jauh di bawah yang semestinya, diterjemahkan ulang.
  • Berkomunikasi dengan bagian keuangan dan sekretaris redaksi ketika buku terbit (tidak selalu dalam waktu dekat, kadang setahun atau lebih setelah penyuntingan selesai), mengurus pengiriman bukti terbit. Editor in house sendiri menerima jatah bukti terbitnya paling belakangan.

Editor lepas:

  1. Benar-benar berurusan dengan naskah dan materi asli. Sesekali menghubungi editor in house apabila di fotokopian materi atau PDF-nya ada yang kurang terbaca atau alinea hilang.
  2. Menyusun catatan koreksi untuk masukan penerjemah.

 

Di masa kini, editor in house kerap bertanggung jawab sebagai publisis di jejaring sosial pula. Dengan sendirinya meworo-worokan buku baru yang terbit, mengabarkan acara bedah buku atau promosi lain, event diskon atau pameran, berita di media terkait buku tersebut, serta menjawab aneka pertanyaan di grup FB. Bila penerbit mengadakan lomba atau kuis, otomatis editor in house terlibat. Seandainya penerbit memiliki publisis khusus, editor berkomunikasi pula dengan sang admin terkait pertanyaan yang jawabannya lebih diketahui redaksi.

Tentu saja editor in house yang paling sering menjawab pertanyaan berulang, “Kapan diumumkannya?” atau di hari-hari biasa, “Terima kumpulan cerpen/puisi?” “Kapan buku XYZ terbit?” dan “Kirim naskah ke ABC bisa via e-mail kan?”

Dengan seabrek tanggung jawab itu (termasuk rapat redaksi dan presentasi rutin), saya pikir lumrah saja jika editor in house tidak sempat memberi kabar naskah yang ditolak, lamaran/tes penerjemah yang gugur, atau kadang tak sempat pula menyampaikan masukan pada penerjemah dan editor lepasnya.

Semoga tulisan acak-acakan ini bisa dimengerti dan berguna.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

8 Responses to “ Perbedaan (Tugas) Editor In House dan Editor Lepas ”

  1. gravatar rizqi arifuddin Reply
    April 1st, 2013

    Saya tertarik menjadi editor lepas nih untuk kerjaan sampingan. ada saran ga sih, bagaimana memulainya? atau ada seseorang yang bisa saya hubungi? terima kasih

    • gravatar Rini Nurul Reply
      April 2nd, 2013

      Untuk memulai, silakan baca ini.

  2. gravatar Rangga Ruth Reply
    November 3rd, 2013

    Terima kasih banyuak, Mbak. Sukses selalu dan salam kenal 🙂

    • gravatar Rini Nurul Reply
      November 8th, 2013

      Terima kasih atas kunjungannya, Mas Rangga. Salam kenal:)

  3. gravatar Dwisuka Reply
    May 10th, 2015

    menjadi editor lepas tampaknya menarik. Thanks infonya.. 😀

  4. gravatar Lily Reply
    April 26th, 2016

    Tulisan acak-acakan??? tulisan saya masih lebih acakacakan lagi :v
    Salam kenal 🙂

  5. gravatar Larasati Reply
    May 10th, 2017

    Saya ingin menjadi editor lepas tapi saya masih sangat pemula . Prodi saya komunikasi, mohon sarannya 🙏

    • gravatar Rini Nurul Reply
      October 1st, 2017

      Latar belakang akademis tidak terlalu dipersyaratkan setahu saya, Mbak, seperti pengalaman Nur Aini. Semoga bermanfaat.

Leave a Reply

  • (not be published)