Menyoal prosedur bidang ini, silakan klik blog Femmy Syahrani.

Saya hendak berbagi pengalaman hingga sampai ke tahap ini, yang bisa jadi berbeda dengan penerjemah lepas lain. Sebelumnya, sekitar tahun 2001-2005, saya lebih banyak berkutat dengan terjemahan nonbuku (dalam kota, sesekali saja ke luar dan tidak pernah mengerjakan order luar negeri). Pernah pula menuliskan transkrip film, transkrip rekaman siaran radio berbahasa Inggris, dan web copywriting bilingual.

Semenjak mengajukan proposal skripsi di semester ke-10, saya sudah sering melayangkan lamaran sebagai proofreader/editor/penerjemah lepas ke berbagai penerbit di Bandung, sesuai iklan lowongan di koran. Salah satunya, tentu, Mizan. Saya memberanikan diri karena menurut lowongannya, pekerjaan ini dapat dilakukan secara freelance dan mahasiswa semester akhir boleh mengajukan lamaran melalui pos. Kemudian saya bekerja kantoran selama dua tahun dan minat terhadap penerjemahan buku agak terlupakan.

Saya baru memperoleh panggilan pada tahun 2007 (kurang lebih sepuluh tahun kemudian) dari editor Read!, salah satu lini Mizan Bandung yang kini sudah tidak beroperasi lagi. Datanya pun masih yang lama, saat saya masih kos di Bandung Utara, sementara saat dihubungi, saya sudah pindah ke Selatan. Alhamdulillah, nomor HP tidak berubah dan Mizan masih menyimpan berkas tersebut.

Beberapa bulan setelahnya, saya membaca informasi di milis Bahtera bahwa Tiga Serangkai tengah membutuhkan penerjemah buku anak. Saya mengirimkan email secara japri kepada editor tersebut, yang langsung merespons dengan rinci berikut kompensasi dengan standar yang mereka tentukan. Itu kali pertama saya ‘menang’ berkompetisi dengan para penerjemah kampiun di Bahtera setelah berkali-kali mengajukan lamaran atas sejumlah penawaran kerja.

Saya semakin yakin bahwa menjadi penerjemah buku adalah jalan yang tepat untuk ditekuni kala lulus tes penerjemah bahasa Prancis yang diadakan Edelweiss, lini Pustaka Iiman (termasuk grup Mizan). Informasinya kembali diperoleh di milis, kali ini pasarbuku. Senang sekali sebab saya dapat memanfaatkan ilmu yang diperoleh di bangku kuliah sehingga bahasa Prancis saya tidak aus.

Sampai hari ini saya masih kerap menempuh tes, kadang lulus, kadang tidak. Tidak jarang, ketika penerbit yang sudah saya kenal (dalam arti pernah menjadi klien) membuka lini/imprint baru dan membuka kesempatan menjadi penerjemah/editornya, saya tetap mengikuti prosedur. Bagaimanapun, saya senang belajar hal baru (baca: materi tes yang diberikan) terlepas dari hasilnya kelak. Beberapa penerbit masih melempar info semacam ini di milis, antara lain di Bahtera, tetapi ada juga yang memajang di Twitter dan Facebook.

Tenggat setiap tes bervariasi, tetapi seingat saya, tidak ada yang sampai seminggu. Bahkan pernah ada penerbit yang memberikan tiga macam bahan tes berupa naskah fiksi dan non fiksi dengan deadline tiga hari. Atas saran seorang sahabat, yang juga mantan editor penerbitan terkemuka, saya tidak menawar tenggat rapat itu karena dikhawatirkan akan memengaruhi penilaian. Suatu kali, saya menyelesaikan tes dalam satu hari (dengan meluangkan waktu khusus) karena harus diserahkan paling lambat seminggu setelah Idul Fitri. Saya mengantisipasi kesibukan dalam acara keluarga yang biasanya tidak memungkinkan untuk menyalakan komputer sebentar saja, atau jaringan internet yang bermasalah pada hari libur nasional. Ada pula penerbit yang tidak menentukan batas waktu tes, barangkali karena kebutuhan penerjemahnya tidak mendesak.

Sejauh ini, saya sudah pernah mengerjakan tes buku klasik, thriller, fiksi remaja, non fiksi berbau sejarah, roman, dan novel perjalanan. Tidak semua penerbit memberi kabar akan kelulusan atau tidaknya seorang pelamar. Ini bisa dimaklumi karena lamaran penerjemahย  sangat banyak, bahkan ketika penerbit bersangkutan tidak membuka lowongan. Adakalanya saya ditawari menerjemahkan setelah menjadi reviewer reading copy penerbit atau beberapa kali menangani penyuntingan. Bisa dikatakan kesempatan ini jarang, mengingat penerbit lazimnya memiliki daftar outsource ‘langganan’.

Satu hal yang perlu diperhatikan kala hendak melamar berdasarkan informasi di FB, hindari pertanyaan-pertanyaan tidak perlu yang terkesan kurang etis (baik di tempat umum atau japri). Saya pernah membaca di halaman sebuah penerbit, ada yang berkomentar, “Jadi kerjanya bisa di rumah, kan? Soalnya saya jauh di pulau lain.”, sedangkan sudah jelas penerbit mencantumkan freelance. Ada juga yang menanyakan, “Wah, berapa nih kompensasinya? Kerjanya apa ya?” dan sebagainya. Membaca dan menyimak dengan teliti adalah keharusan.

Untuk penerjemah yang sudah mengenyam pengalaman, meski ‘hanya’ menjadi co-translator, jangan lupa memperbarui CV setiap kali melamar. Ini merupakan nilai tambah yang berharga.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

13 Responses to “ Perjalanan Menjadi Penerjemah Buku ”

  1. gravatar Aini Reply
    January 24th, 2011

    Wah, Mbak perjalanannya panjang sekali, ya ๐Ÿ™‚
    Jadi semangat buat ngelamar ke penerbit lain. Hihihi. Aku masih nggak pede ๐Ÿ˜›

    • gravatar Rini Nurul Reply
      January 24th, 2011

      Walah, editor berpengalaman kok nggak pede segala. Hayu atuh, Aini:D

      • gravatar Aini Reply
        January 24th, 2011

        Ngumpulin kepedean dulu, ah. Hihihi ๐Ÿ˜€

  2. gravatar Jimmy Reply
    January 26th, 2011

    Wah…, menarik nih, Rin
    *langsung bookmark*

    • gravatar Rini Nurul Reply
      January 26th, 2011

      Hai, Jimmy…terima kasih sudah berkunjung, ya:)

  3. gravatar Jimmy Reply
    January 27th, 2011

    Rin,
    Mau nanya dong..
    Bulan Februari nanti GRI mau siaran tentang “Proses Penerbitan Buku Terjemahan – Translator & Proofreader.

    Karena waktu yang terbatas, jadi hanya akan fokus ke Translator dan Proofreadernya aja.

    Nah, sebenarnya seperti apa proses penerbitan buku terjemahan? Mulai dari proses pemilihan buku, dan lain-lain? Daripada nanya-nanya mbah google, lebih baik nanya langsung ke ‘pelaku’nya kan. Jadi nanti pas siaran, aku bisa kutip penjelasannya ๐Ÿ™‚

    Terima kasih sebelumnya ya.

    • gravatar Rini Nurul Reply
      January 27th, 2011

      Jim, karena sangat panjang, aku jawab ke emailmu, ya:)

  4. gravatar Jimmy Reply
    January 27th, 2011

    Aku udah baca, Rin..
    Terima kasih banyak ya ๐Ÿ™‚

    • gravatar Rini Nurul Reply
      January 27th, 2011

      Sama-sama, Jim:)

  5. gravatar shendy Reply
    January 29th, 2011

    mb rini pindah ke “sini” yaa
    wah, ga nyangka ya
    sekaliber mb rin pun tidak sungkan ikut tes^^
    tfs mb

    • gravatar Rini Nurul Reply
      January 29th, 2011

      Tidak ada alasan untuk menolak, Shen. Bahkan yang sudah berpengalaman puluhan tahun pun masih dites, kok:) Terima kasih kembali.

  6. gravatar Linda B Reply
    January 13th, 2012

    Dr awal emg udh niat jd freelancer ya mba…biasa org ngantor dl trus alih ke freelance setelah jenuh ma rutinitas ๐Ÿ™‚

    • gravatar admin rinurbad.com Reply
      January 13th, 2012

      Pernah ngantor, Mbak, dua tahun. Baru sadar kalau soal kerja kantoran itu nggak tertulis, hehehe…

Leave a Reply

  • (not be published)