Kami sama-sama senang menggunakan mug yang sudah patah kupingnya sebagai wadah peralatan kerja. Berhubung pernak-pernik saya lebih banyak, sayalah yang memakai mug bekas minum Mas Agus yang bertuliskan Leo, zodiaknya. Pasalnya, mug Leo ini lebih gemuk dan muat banyak. Tapi tetap saja ada beberapa barang saya yang nangkring di mug dia dan sebaliknya.

Isi wadah saya:

Kaca pembesar

Gunting

Isian cutter

Pulpen bertinta

Spidol merah

Boxy

Pensil

Stabilo kuning

Cutter kecil

Pengoles lem

Bookholder buatan sendiri dari Mbak Dina

Card reader

Bluetooth dongle

Pembatas buku dari kain

Post-it kecil warna hijau gedebage (alias hejo pucuk cau, hijau pucuk daun pisang)

Flashdisk 500 MB, hadiah ultah dari sahabat sejak SMA

 

 

Isi wadah Mas Agus:

Lampu baca kecil yang bisa dijepit, hadiah dari Mbak Ary Nilandari. Pernah dipinjam tetangga untuk cari bangkai tikus di loteng:D

Modem Mas Agus

Boxy

Isian cutter besar

Spidol permanen

Pulpen biasa

Stabilo biru

Bekas starterpack

Filter rokok dari kayu, beli di Ciamis

Dua botol kecil Betadine yang ternyata masih penuh, dan langsung saya keluarkan ketika menulis ini.

Baterai bekas

Baterai CMOS

Bluetooth dongle kecil

Peniti kecil

Pensil yang sudah pendek

Dua penghapus hitam

 

Kedua mug ini ditaruh di meja saya, di belakang Toshi karena lebih luas. Meja Mas Agus di pojok ruang tamu sering kena bocor saat hujan besar, jadi acap kali dia mesti ngungsi:D

Di birai jendela kaca sebelah kiri saya, ada beberapa barang juga. Antara lain gunting kuku, salep obat luka, isian pengokot, plester, kunci, dan pengokotnya sendiri.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)