Tahun lalu, manajemen waktu saya benar-benar kacau. Memang seringnya saya memohon perpanjangan tenggat dikarenakan sakit yang tidak bisa ‘disambi’ alias harus bedrest penuh atau ada anggota keluarga yang sakit. Rekor (yang tidak membanggakan) pada tahun 2010 adalah pertambahan 1,5 bulan gara-gara dua hal: buku lebih tebal daripada perkiraan dan libur Lebaran yang sukar disiasati. Satu pekerjaan lain di luar menerjemahkan dan menyunting terpaksa mundur dua minggu lantaran rumah Bapak (mertua) kena longsor.

Sedari awal 2011 ini, saya memutuskan pembenahan agar tidak perlu sampai separah itu. Tak ayal, Kim mundur satu bulan karena saya sakit. Karena berdampak pada jadwal selanjutnya, yang kalau tidak ditangani akan menumpuk dan menghasilkan stres, saya mengundurkan diri dari dua proyek yang sudah antre. Keduanya buku sekuel. Tidak enak hati sih pasti, tapi kinerja saya tidak akan optimal dan molornya bisa jadi ‘keterlaluan’. Syukurlah kedua editor budiman tersebut mengerti, bahan kerja yang berupa hardcopy pun dikembalikan.

Berterus terang seperti ini tidak ‘membahayakan’ reputasi, selagi tenggat masih jauh sehingga penerbit dapat langsung mencari penerjemah lain. Kita juga tidak ‘rugi’ sebab belum mengerjakannya. Saya tidak ragu menyampaikan kondisi tersebut karena seorang penerjemah senior pernah mengalami pula. Buku yang masih antre di mejanya mendadak dimajukan jadwal terbitnya, sedangkan beliau masih sibuk. Maka atas kesepakatan bersama, editor mengambil kembali bahan tadi dan membatalkan order. Insya Allah nama sang penerjemah tidak ‘cacat’.

Rata-rata editor memahami kemunduran ini, sebisa mungkin tidak lebih dari dua minggu. Atas nama manajemen waktu pula, saya berusaha menerapkan tenggat yang realistis mulai tahun ini (semoga ke depannya tetap konsisten). Itu berarti, negosiasi yang cermat sejak awal perbincangan proyek sebelum menandatangani surat perjanjian. Oleh karenanya, tidak mengherankan jika negosiasi dengan salah satu penerbit bahkan mencapai satu bulan sebelum mencapai kata sepakat setelah masing-masing mengalkulasi waktu.

Dampak jelas ada. Sepanjang tahun ini saya ‘hanya’ menerjemahkan enam buku. Tapi alhamdulillah, tidak satu pun yang terlambat sampai postingan ini ditulis.

Perpanjangan tenggat bukan ‘dosa’, selama kita menjamin penyetoran hasil yang relatif memuaskan. Jangan sampai sudah terlambat, kinerja mengecewakan.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

7 Responses to “ Perpanjangan Tenggat dan Pembatalan Order ”

    • gravatar admin rinurbad.com Reply
      December 23rd, 2011

      Terima kasih sudah bertandang, Mbak Desak:)

  1. gravatar Tika Reply
    December 23rd, 2011

    Pas banget baca postingan ini hari ini 😀
    Dengan pengalaman yang serupa dengan yang Mbak Rini tulis di atas, pada proyek terjemahan saya yang sebelumnya saya nekat memilih untuk setor tepat waktu (meski telah sehari), yang akhirnya selesai sih selesai. Tapi banyak sekali yang terlewat tidak dikoreksi, akhirnya selang beberapa minggu setelah saya setor datanglah surel dari penerbit yang isinya teguran karena hasil terjemahan saya parah tidak karuan (tidak dibilang begitu sih, tapi intinya sih tampaknya begitu). Tapi anehnya, saya juga tidak disuruh memperbaikinya.
    *tarik napas* tapi pastinya saya merasa tertampar 😀

    • gravatar admin rinurbad.com Reply
      December 23rd, 2011

      Banyak faktor bisa jadi pertimbangan ya, Mbak Tika:)
      Idealnya memang tepat waktu tapi juga tidak buru-buru. Insya Allah jadi pelajaran buat kita semua. Terima kasih sudah berbagi pengalaman:)

  2. gravatar Meggy Reply
    January 1st, 2012

    Satu lagi postingan yang mencerahkan nih, mbak Rini. Ternyata minta perpanjang tenggat waktu bukan sesuatu yang tabu sekali yah, kalau memang terpaksa 🙂 Kadang kendalanya juga masalah teknis (pernah saya share juga beberapa waktu yg lalu): pemadaman listrik & koneksi internet yg bermasalah 🙁

    Soal tenggat waktu ini, ada cara praktis untuk memperkirakannya nggak yah, mbak? Kadang jumlah halaman kurang lebih sama dgn buku yg pernah diterjemahkan sebelumnya, sehingga berani menerima tenggat waktu sekian, tapi setelah ‘nyemplung’ mengerjakan, tenyata tingkat kesulitannya berbeda jauh. Alhasil makan waktu lebih lama dari perkiraan & agak pontang-panting mengejar dead-line.

    • gravatar admin rinurbad.com Reply
      January 2nd, 2012

      Betul, Mbak Meggy. Saya juga pernah tanya ke editor (meski tidak semua) apakah mati lampu yang cukup sering tergolong force majeure, dan mereka mengerti. Termasuk ketika koneksi bermasalah sedangkan warnet terdekat dari rumah berjarak 7 kilometer.

      Mengenai perkiraan tenggat, nanti saya posting terpisah ya. Terima kasih idenya:)

  3. gravatar Meggy Reply
    January 4th, 2012

    Ditunggu posting-nya kalau begitu, mbak 🙂

Leave a Reply

  • (not be published)