Sebelumnya, terima kasih kepada seorang kolega editor yang mengusulkan ide tulisan ini sekaligus menjadi narasumber anonim.

Semua berawal dari percakapan mengenai problematika massal penerbit buku terjemahan yang terjadi hampir setiap pertengahan tahun. Kalau dikatakan bisnis busana dan bunga merupakan contoh yang terpengaruh musim, ternyata masalah terjemahan ini pun termasuk di dalamnya. Para penerjemah berpengalaman, terlepas dari sudah berlangganan atau belum, biasanya sudah diantre sejak Januari – Juni (bahkan ada yang di-book sedari tahun sebelumnya) sehingga semester kedua (mulai bulan Juli) penerbit mulai kesulitan mencari penerjemah yang longgar jadwalnya. Bahkan usai Lebaran, yang lazim menimbulkan ‘badai singa mati’ pada banyak penerjemah, kesulitan tersebut meningkat. Sementara itu masih ada buku-buku yang bertepatan dengan momen tertentu dan perlu mengejar jadwal terbit selama sisa tahun sehingga tidak mungkin penerbit mengantre penerjemah yang sudah dikenal, kendati ada juga yang bersedia bersabar menunggu.

Regenerasi mulai terasa urgensinya pada semester kedua ini. Di situlah saatnya para penerjemah pemula dan editor lepas berpeluang mengajukan diri. Seperti halnya penulis yang mengirimkan naskah, penerjemah dan editor tidak boleh berhenti (mencoba) melamar. bagaimana agar tampak mengilap di mata para editor in house itu, mengingat ada kekhawatiran dan pertimbangan khusus mengenai menjalin kerja sama dengan freelancer yang belum dikenal?

Jawabannya: lewat posting blog. Bisa berupa pengalaman menerjemahkan, tulisan mengenai otak-atik kalimat yang menunjukkan penerjemah yang bersangkutan memiliki wawasan dan ilmu. Menurut editor yang menjadi narasumber saya tersebut, jalan lainnya ialah menulis ulasan buku tetapi bukan semata kesan akan isinya. Bisa dengan menggali informasi seputar penulis buku itu, proses kreatifnya, dan lain-lain yang memperlihatkan bahwa sang pemosting blog (atau penerjemah yang dalam hal ini merupakan calon relasi) punya perhatian akan aspek-aspek buku yang penting dalam tahap kerja penerjemahan.

Masih terkait ulasan buku, alternatif kedua adalah mengulas buku keluaran penerbit yang diincar. Tulis sebagus mungkin, kirimkan tautannya kepada penerbit dimaksud, sebab editornya pasti tertarik untuk membaca. Setelah itu, ia akan beranjak ke halaman-halaman lain dalam blog yang dikunjungi. Karena itu, pastikan isinya menarik secara profesional.

Sebelum semester kedua ini, penerjemah pemula disarankan terus berkarya, antara lain menggarap proyek-proyek yang terkesan bernilai ‘kecil’ namun dapat menambah CV.

Ihwal kriteria penerjemah pemula, setiap penerbit memiliki penilaian berbeda-beda. Ada yang menggolongkan penerjemah sama sekali baru ke situ, ada juga yang semata mengisyaratkan bahwa yang pemula adalah yang baru menggarap satu-dua buku.

Mengapa editor lepas dibutuhkan pula secara signifikan pada masa ini? Kuota target masih tinggi, sedangkan beberapa terjemahan perlu ditelisik lebih jauh. Bukan hanya karena penerjemahnya masih baru, melainkan juga lantaran bukunya cukup sukar sehingga memang memerlukan editor freelance yang dapat berfokus khusus pada teks. Kalau diingat-ingat, tawaran menyunting yang saya terima pertama kali pun disampaikan pada semester kedua ini.

Jadi, tunggu apa lagi? Selamat berjuang:)


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

2 Responses to “ Pertengahan Tahun, Saatnya Penerjemah Pemula dan Editor Lepas Unjuk Gigi ”

  1. gravatar zai Reply
    September 26th, 2011

    owh.. begitu rupanyaaa
    jadi inget tahun lalu dapet job nerjemahin pertama juga setelah pertengahan tahun berlalu..
    gara-gara penerbitnya kelimpungan nyari penerjemah, karena penerjemah lain pada sibuk semua..
    dan jadi rezeki saya padahal pengalaman pun tiada … +__+

    • gravatar admin rinurbad.com Reply
      September 26th, 2011

      Selalu ada yang pertama, Zai. Aku pun pernah begitu, kok:)

Leave a Reply

  • (not be published)