gramediapustakautama.com

Penulis: Kyung Sook Shin

Alih bahasa: Tanti Lesmana

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 2011

Tebal: 296 halaman

Hanya ada dua kemungkinan: seorang ibu menjadi sangat dekat dengan anak perempuannya, atau mereka menjadi asing terhadap satu sama lain.

(hal. 26)

Saya tidak punya kata-kata yang sangat pas untuk menggambarkan perasaan campuraduk membaca novel Korea ini. Ya, Korea jagonya meluluhlantakkan hati. Ya, Korea memiliki kekhasan pula dalam pamungkas cerita. Berikut nukilan-nukilannya:

Kalau berada di antara keluarga sendiri, tentunya kau tidak perlu malu kalau meja belum dibersihkan sehabis makan karena kau hendak melakukan hal lain dulu.

(hal. 26)

Adegan yang menyentuh hati, tatkala anak perempuan (anak ketiga) Ibu yang menjadi penulis membahas karya-karyanya dengan para tunanetra dan bukunya diubah format menjadi Braille untuk mereka:

Dari sekian banyak orang yang pernah kaujumpai, justru merekalah yang paling sungguh-sungguh mendengarkan kata-katamu.

(hal. 43)

Di suatu titik, percakapan-percakapan antara kau dan Ibu menjadi seperlunya saja.

(hal. 45)

… pekerjaan dapur tidak ada ujung-pangkalnya sama sekali. Pagi-pagi kita sarapan, lalu makan siang, lalu makan malam, dan besok paginya sarapan lagi…

… Kalau terus-menerus mengerjakan hal yang sama berulang kali, ada kalanya kita jadi sangat muak. Kalau dapur sudah terasa seperti penjara, aku keluar ke belakang dan mengambil tutup stoples yang paling jelek, lalu kulemparkan sekeras mungkin ke tembok.

(hal. 74-75)

Yang tak kalah menyesakkan buat saya ialah…

“Kau anak pertamaku. Ini bukan pertama kalinya kau membuatku melakukan hal-hal yang sebelumnya tak pernah kulakukan. Semua yang kaulakukan membuka dunia baru buatku.”

(hal. 93)

Ibu sangat mencintai Hyong-chol, putra pertamanya. Mungkin untuk menegaskan itu pula, penulis paling sering menyebutkan nama pria ini ketimbang adik-adiknya. Dikisahkan, Hyong-chol sering bertengkar dengan adik perempuannya yang penulis tadi (Chi-hon?) sehingga sang ibu bersedih. Namun Ibu masih ingat banyak hal, termasuk putrinya yang memiliki tiga anak sehingga seakan waktu kesehariannya habis untuk mengurus mereka dan mengabaikan kepentingan sendiri.

Anak perempuanku yang manis! Kau menghadapi apa yang mesti dihadapi dengan berani, kau tidak melarikan diri darinya, dan kau maju terus dengan hidupmu, tetapi kadangkala aku merasa marah dengan pilihan yang telah kaubuat.

(hal. 220)

Sejak Ibu hilang, aku sering berpikir: Apakah selama ini aku telah menjadi anak yang berbakti? Sanggupkah aku melakukan bagi anak-anakku, segala hal yang dilakukan Ibu untukku?

(hal. 270)

Penyesalan selalu datang belakangan. Arti seseorang baru terasa kala dia hilang. Ini mungkin klise, tapi bukan berarti tak patut diangkat lagi dan lagi. Membaca novel ini mengingatkan saya pada film Wedding Dress, Harmony, dan My Mom.

Skor: 4/5


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)